Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
S2 Bab 4. Amarah Calvin


__ADS_3

Suana duka menyelimuti rumah Mia dan Daniel. Banyak pelayat datang silih berganti. Felice adalah yang paling terlihat sedih disini. Sejak dari pemakaman tadi dia terus mengurung diri di kamar. Hanya di temani Lucy yang sejak tadi membujuknya untuk makan tapi Felice sama sekali tidak mau. Sementara Mia, Daniel dan mamah Emma harus menemui tamu karena dad Alex dan mom Tania saat ini sedang tidak berada di sana.


Gadis itu masih saja menangisi kepergian papahnya yang menurutnya sangat mendadak itu.


"Nona, ayo makan. Sedikit saja, yang penting perut nona isi makanan," bujuk Lucy.


Felice menggeleng. "Aku tidak lapar, untukmu saja," menyeka pipinya yang basah.


"Nona, kalau papah anda melihat anda seperti ini pasti beliau akan sedih."


Felice tetap tidak mau. Rasanya perutnya sama sekali tidak lapar. Dari kecil Felice memang tidak pernah mendapatkan perlakuan kasar dari papahnya, berbeda dengan Mia dan mamahnya. Jadi wajar saja kalau dia begitu dekat dengan papahnya itu. Apalagi setelah berpisah sekian lama, dia juga sering menginap di rumah yang ditempati papahnya.


Lucy menatap iba pada Felice, gadis itu memang masih kekanakkan dan sangat dekat dengan papahnya, wajar saja kalau dia sangat sedih.


,,,


Seminggu kemudian.


Semenjak kematian papahnya, sikap Felice berubah total. Yang awalnya cerewet jadi sangat pendiam. Di kantor pun sama, dia lebih banyak fokus pada pekerjaan. Bicara hanya seperlunya saja, kadang ya, tidak atau hmm.


Kenapa dengan gadis itu, kenapa akhir-akhir ini jadi pendiam seperti itu. Heran Calvin. Jujur dia lebih suka Felice yang cerewet dan banyak ingin tau ketimbang dengan Felice yang pendiam dan tidak bersemangat seperti saat ini.

__ADS_1


"Apa kau selidiki apa yang terjadi padanya?" tanya Calvin pada Sam.


"Anak buah yang waktu itu mengikuti nona Felice sampai ke kediamannya hanya sampai di depan rumah dan setelah nona Felice turun mereka langsung pergi. Padahal setelah itu ada sesuatu yang terjadi, yaitu ayah kandung dari nona Felice ditemukan sudah meninggal dunia di kamarnya saat nona datang."


"Menurut salah satu pekerja di sana nona Felice dan ayahnya begitu dekat, nona juga sering menginap di sana untuk menemani sang ayah. Jadi kemungkinan nona sangat terpukul atas kepergian ayahnya." Sam menyampaikan hasil penyelidikannya.


"Bodoh! Bagaimana bisa mereka tidak mengetahui hal sepenting ini." Calvin kesal, bagaimana mungkin dia tidak tau kalau gadis yang ia suka sedang berduka.


"Mereka juga tidak salah, tuan kan menyuruh mereka untuk memastikan dia sampai rumah dengan selamat. Tidak menyuruh mereka untuk mengawasi nya 24 jam." Sam membela anak buahnya. Bisa repot kalau dia harus mencari orang baru lagi.


"Jadi kau menyalahkan ku?!" Calvin tidak terima.


Sam meringis, "Tidak tidak, maksudku itu -."


"Ya ya aku pergi, permisi tuan."


Dasar atasan tidak tau di untung, kalau sedang butuh saja suruh cepat-cepat datang. Kalau sudah tidak butuh mengusir seenaknya , Sam menggerutu sambil keluar dari ruangan itu. Sampai setelah dia menutup pintu dan berbalik ternyata ada Felice di belakangnya sedang membawa kopi panas di tangannya.


Seketika tubuh mereka pun tak sengaja bertabrakan dan kopi panas itu mengenai tangan Felice.


"Awww.... panas...!" Felice mengaduh kesakitan, tangannya terasa terbakar akibat siraman air panas itu.

__ADS_1


"Ya ampun nona, kenapa anda tidak hati-hati. Bagaimana ini, bisa habis saya kalau dia tau nona terluka karena saya," panik Sam, yang ada di kepalanya saat ini adalah amukan bosnya yang pasti marah besar padanya.


"Apa? Kau bilang apa?" Felice menyerngitkan dahinya.


"Eh tidak, apa anda tidak apa-apa? Coba saya lihat lukanya." Tanpa sadar Sam meraih tangan Felice yang tadi tersiram air, sebenarnya tujuannya baik tapi situasinya saja yang salah karena tepat saat itu Calvin yang mendengar kegaduhan pun keluar untuk memeriksa.


Pemandangan pertama yang ia lihat adalah Sam asistennya yang sedang memegangi tangan Felice bahkan mengusap-usapnya mesra. Matanya langsung membelalak, menatap tajam Sam yang sepertinya belum menyadari kehadiran singa jantan itu. Tangan nya masih mengusap-usap punggung tangan Felice yang memerah.


"Sam!!" Hentak Calvin. Bagaimana bisa sang asisten yang begitu ia percaya malah menusuknya dari belakang, berani-beraninya mendekati gadis yang jelas ia sukai.


Seketika bulu kuduk Sam pun berdiri mendengar namanya di panggil dengan begitu lantang. Segera ia melepaskan tangan Felice begitu saja, dia tau kalau saat ini atasannya itu pasti sudah salah paham. Kalaupun tau yang sebenarnya past laki-laki itu juga akan marah.


Mampus kau Sam. Tamatlah riwayatmu.


"Ada apa ini?" tanya Calvin dengan rahang yang sudah mengeras. Sam jelas takut karena walaupun masih muda tapi Calvin jelas bukan tandingannya kalau mereka sampai berkelahi.


"Kalau begitu biar aku carikan obat," ujar Sam lalu pergi dari sana, melihat sorot mata Calvin saat ini membuatnya menciut.


"Sssttt ... awww... panas sekali." Felice berusaha mengipasi tangannya yang semakin terasa panas.


Mendengar Felice ketakutan membuat Calvin kembali tersadar dari kemarahannya, dilihatnya tangan putih mulus milik gadis itu kini memerah.

__ADS_1


"Apa yang terjadi dengan tangan mu?" tanya Calvin cemas.


__ADS_2