
°°°
Sejak tadi sebenarnya ada Felice dan juga papah Willy yang memperhatikan pasangan calon pengantin itu dari dalam rumah. Mereka senyum-senyum sendiri melihat interaksi pasangan itu yang terlihat canggung. Tapi begitu melihat adegan terakhirnya, mata mereka membelalak dan mulut mereka juga terbuka lebar.
Papah Willy yang menyadari kalau putri keduanya juga sedang melihat pun buru-buru menutup korden, agar Felice tak lagi melihat adegan mesra mereka.
"Kenapa ditutup Pah, lagi seru padahal. Berasa nonton drama secara live." Felice cekikikan sendiri. Tapi benar katanya, adegan yang barusan itu seperti ada di drama. Awalnya mereka berjauhan tapi lama-lama mendekat dan terus mendekat hingga tak berjarak.
"Kau itu belum cukup dewasa untuk melihat hal yang seperti itu," omel papah Willy, dia berbalik memunggungi putrinya dan menyunggingkan senyum kemudian. Barusan dia jadi teringat saat masih pacaran dulu dengan ibunya anak-anak. Dulu mereka juga malu-malu seperti itu tapi akhirnya berani berinisiatif seperti Daniel tadi.
Jadi ingat masa muda dulu.
"Kenapa Pah, aku juga sudah dewasa. Tinggi ku saja sudah melebihi papah. Aku juga sudah pernah ber...." Felice menghentikan ucapannya saat melihat papahnya melotot. Hampir saja dia keceplosan, tapi bukankah bukan hal asing lagi ya kalau pacaran melakukan kontak fisik. Bahkan kebanyakan teman kampus Felice sudah tinggal satu apartemen dengan pacarnya. Sudah dipastikan kalau mereka sudah tidak suci lagi.
"Hehehe... peace Pah." Felice mengacungkan kedua jarinya kemudian lari dari sana sebelum papahnya bertanya-tanya.
"Dasar anak itu." Papah Willy geleng-geleng kepala melihat tingkah putrinya.
Mereka memang sudah dewasa dan aku tidak ada di samping mereka saat mereka tumbuh menjadi sebesar itu.
Papah yakin kalian akan menjadi wanita-wanita yang tangguh dan tidak mudah ditindas suatu hari nanti.
,,,
Felice berhasil kabur dari papahnya dan terbebas dari pertanyaan yang pasti akan membuat nya bingung.
Untung saja aku langsung pergi, kalau tidak pasti papah bertanya yang tidak-tidak padaku. Bagaimana aku menjawabnya kalau aku juga sudah pernah berciuman dengan para mantanku.
Felice bermonolog sendiri sampai ia berbalik dan mendapati pemandangan yang membuatnya tercengang. Dia menutup mulutnya yang menganga lebar dan satu tangannya ia gunakan untuk menutupi kedua matanya. Tapi sayangnya dia rasa penasaran membuat ia mengintip lewat sela-sela jarinya.
__ADS_1
Oh my God, aku benar-benar melihat siaran langsung. Bagaimana ini, apa sebaiknya aku pergi saja. Tapi aku penasaran bagaimana caranya mereka melakukan itu, ya aku bisa belajar sedikit dari mereka.
Felice, bocah itu bukannya pergi malah menikmati pemandangan yang ada di depan matanya. Ternyata dia baru saja berjalan keluar lewat pintu samping tapi kakinya malah melangkah ke halaman depan. Dimana kakak dan kakak iparnya masih belum selesai menyatukan bibir mereka.
Kakak pintar sekali, kelihatannya saja polos tapi sebenarnya ahli. Felice cekikikan.
Sementara sepasang sejoli yang sedang dimabuk asmara itu tidak sadar jika perbuatan mereka menjadi tontonan gratis seorang gadis.
Daniel malah semakin merapatkan tubuh mereka dengan menarik pinggang Mia. Satu tangannya pun menekan tengkuk Mia membuat ciuman mereka begitu dalam, hingga Li dah merek saling mengabsen setiap rongga mulut tanpa terlewatkan.
Mia pun terbuai dan mengalungkan tangannya dia leher laki-laki itu. Jika kemarin dia masih syok, tapi saat ini dia mulai terbiasa.
Ya ampun mereka belum berhenti juga.
Prang!! Felice yang terlalu fokus menonton adegan live itu sampai tidak melihat ada cawan yang tergeletak di depannya. Hingga tak sengaja kakinya menendang benda itu dan menimbulkan suara bising.
Felice tersenyum memamerkan deretan giginya saat sang kakak sudah membuka mata dan melihatnya mengintip. Sementara Daniel, pria itu masih saja belum melepaskan Mia. Bibirnya pun masih sibuk melum -at.
Mia langsung mendorong dada bidang Daniel yang masih saja tak mau melepaskan bibirnya.
Pria itu tampak kecewa saat Mia mengakhiri ciuman panas mereka. Padahal sudah cukup lama mereka melakukan itu, tapi Daniel masih saja belum cukup menikmati bibir indah yang selalu membayanginya.
"Kenapa??" tanya Daniel yang melihat Mia salah tingkah. Ibu jarinya bergerak mengusap sisa-sisa air liurnya yang membasahi bibir Mia.
"Maaf, maaf... kalian lanjutkan saja. Aku tidak menggangu lagi." Felice langsung berbalik dan pergi dari sana. Dia tidak bisa melihat lebih lama lagi adegan mesra di depannya.
Sabar sabar...
Felice mengusap da -danya, rasanya tidak punya pacar lalu melihat orang lain bermesraan sungguh membuat nya iri.
__ADS_1
"A... ku masuk dulu." Begitupun Mia yang memilih untuk kabur dari sana. Kesehatan jantungnya lebih utama, bisa gawat kalau terus di dekat Daniel. Ia juga malu karena barusan membalas ciuman Daniel.
Dia segera menyusul sang adik.
Daniel melongo karena ditinggalkan begitu saja, tapi dia lega karena tau apa yang membuat Mia mendorong nya tadi. Bukan karena dia marah atau menolak tapi karena ada Felice. Salahnya yang tak tau tempat, bagaimana dia bisa tahan kalau bibir Mia begitu menggoda. Belum bagian lain-lain lagi yang seingatnya saat malam itu Daniel begitu memuja.
Astaga... kenapa kau bisa bangun di saat yang tidak tepat. Daniel mengusap wajahnya kasar saat merasakan miliknya mengeras dan minta di bebaskan segera.
Mia sudah berhasil menyusul Felice yang ternyata sedang ada di halaman belakang. Di sana ada kolam ikan yang tidak terlalu besar. Felice duduk di pinggiran kolam itu.
"Kenapa kau menyusul ku Kak?" Felice menatap heran pada kakaknya.
"Kenapa, apa tak boleh?" Mia pun duduk di sana. dan memasukkan kakinya ke dalam kolam.
"Tentu saja tidak boleh, kan tadi aku sudah suruh untuk lanjutkan." Felice terkekeh kecil mengingat kejadian tadi.
"Maaf, kau jadi harus melihat hal seperti itu."
"Santai aja kali kak, aku bukan anak kecil yang tidak boleh melihat adegan tadi. Bagaimana rasanya tadi? Apa kalian sudah sering melakukan hal itu?" Tanya Felice yang mulai penasaran, padahal dia tidak ingin ikut campur tapi mendadak dia penasaran.
"Kenapa kau bertanya, kau juga pernah melakukan hal itu di depan kakak." Mia menyindir balik.
"Itu beda Kak, aku tidak mencintainya. Jadi tidak ada rasanya sama sekali. Biasa saja, tidak ada yang spesial. Jantungku bahkan tidak berdegup kencang sama sekali." Entahlah kenapa Felice bisa berpacaran dengan laki-laki itu yang hampir saja menjebaknya. Kini dia sadar kalau yang diinginkan laki-laki itu hanya tubuhnya. Sudah pasti kalau malam itu Felice berhasil ditiduri, dia akan ditinggal setelannya.
Brengseek!!! Kesal Felice.
"Kau kenapa? Kenapa tiba-tiba seperti orang marah." Mia menyerngitkan dahinya.
"Hehehe... tidak Kak. Jadi bagaimana, ayo ceritakan."
__ADS_1
to be continue...