Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
78. Persiapan


__ADS_3

°°°


Hari H


Semua orang sudah sibuk sejak pagi buta untuk melakukan berbagai persiapan. Mereka sibuk mengurus bagian masing-masing. Meski sudah membayar jasa dengan mahal, tetap saja mereka masih harus mengawasi nya.


"Nona wajah anda cantik sekali, kulit anda juga sangat terawat. Apa anda sering melakukan perawatan?"


Ya dua lelaki lembek itu sejak tadi terus memuji kecantikan Mia. Mereka merasa tak perlu bersusah payah mendandani pengantin wanitanya, katanya sudah cantik dari sananya. Tapi mereka tetap memoles sedikit untuk mempertegas garis wajah Mia. Hingga orang yang melihat pasti pangling.


Mia hanya mengangkat sudut bibirnya sejak tadi, telinganya sudah begitu risih mendengar pujian yang tidak ada habisnya. Padahal ia sama sekali tidak merasa seperti itu, banyak wanita yang lebih cantik darinya.


"Hai kalian itu jangan macam-macam ya, nanti saya aduin sama calon suami kakakku baru tau rasa," Sungut Felice yang geli sendiri melihat kelakuan pria belok itu.


"Hehehe ... maaf nona, kami hanya kagum saja pada kecantikan nona Mia. Kami sudah biasa merias artis yang perawatan nya mahal bahkan sampai ke luar negeri tapi mereka tidak bisa menandingi keindahan kulit nona Mia yang tampak sangat sehat dan jarang tersentuh bahan kimia. Cantiknya natural sekali ... "


Memuji lagi.


Mereka tentu sudah tau kliennya saat ini bukan orang sembarang. Punya uang dan berkuasa. Bisa gawat kalau mereka menyinggung wanita yang sedang mereka rias.


"Nanti kita minta tips nya sama nona ya biar bisa punya kulit sesehat ini." Mereka memuji lagi.


Mia mengangguk pelan, apa yang mau dibagi kalau dia saja hampir jarang memperhatikan kulitnya. Hanya pelembab dan lotion yang tidak pernah ketinggalan.


"Heh ... kalian mau tips, sini aku bisikin." Felice menyuruh kedua orang itu mendekat.


"Memang nona tau juga?" tanya salah satu dari mereka.


"Tentu, kan saya adiknya. Jadi semua yang kakak lakukan aku pasti tau. Termasuk perawatan yang Kak Mia lalukan." Felice tersenyum semirk, sepertinya mereka berdua terpancing omongannya.


Sekarang mereka berdua sudah duduk menggampit Felice yang ada di tengah. Yang satu bahkan sudah membawa buku catatan. Dan satu sudah menyalakan tombol perekam yang ada di ponselnya.

__ADS_1


Ya ampun, mereka percaya. Apa segitu pentingnya untuk mereka. Apa mereka juga mau berdandan. Banyak pertanyaan dalam benak Felice.


"Kenapa kalian sangat ingin tau tips, apa kalian juga mau mengikuti kakakku?"


"Hehehe iya, kami juga ingin mempunyai kulit semulus nona Mia. Tapi kami juga akan berbagi tips pada pelanggan kita yang sering memakai jasa makeup kami. Terkadang kulit mereka begitu kasar sampai kami membutuhkan banyak foundation untuk menutupi kekurangan di wajah mereka."


"Baiklah, kukira kalian hanya bercanda tadi," gumam Felice.


"Kenapa Nona?"


"Eh tidak apa, ya sudah sekarang kalian dengar baik-baik." Felice mulai mengatakan apa saja yang dilakukan kakaknya untuk kesehatan kulitnya.


Dua orang itu pun mendengarkan dengan seksama dan mulai mencatat poin pentingnya.


Mia geleng-geleng kepala melihat kelakuan adiknya dan dua orang perias itu. Padahal dia sudah pegal karena duduk terlalu lama, bukannya menyelesaikan pekerjaannya malah duduk di samping Felice yang sedang membual. Ya karna sebagian saja yang benar dari cerita Felice, selebihnya lagi lebih banyak bualannya.


Akhirnya setelah selesai dengan catatan yang mereka miliki, kini dua laki-laki gemulai itu mulai merias kembali wajah Mia. Juga rambutnya mulai ditata, diikat jadi satu dan di Cepol di belakang. Nantinya Mia akan menggunakan penutup kepala sebagai pelengkap dan mempercantik penampilannya.


"Putri mamah cantik sekali."


"Benarkah ini calon menantu ku, kau seperti bidadari nak."


Para perempuan yang memang diijinkan masuk tak henti-hentinya memuji kecantikan Mia. Belum menggunakan gaun pengantin saja aura Mia sudah bertambah berkali-kali lipat. Bagaimana jadinya kalau sudah memakai gaun. Dia pasti bak putri kerajaan yang akan jadi pusat perhatian hari ini.


"Nyonya bagaimana dengan gaunnya apa belum sampai juga."


"Katanya masih dalam perjalanan, aku juga khawatir kalau gaunnya akan mengecewakan. Daniel bersikekeuh mau menggunakan gaun pengantin rancangan mantan pengasuhnya waktu masih kecil. Akhh.. bagaimana kalau dia tidak bisa menyelesaikan tepat waktu." Mom Tania terlihat cemas, bagaimana pun ini adalah acara terbesar yang pernah keluarga Starles adakan dan Daniel adalah putra satu-satunya. Dia pasti tidak ingin kesalahan sekecil apapun terjadi dengan pernikahan putranya.


Mia mendekati seorang ibu yang beberapa jam lagi resmi menjadi ibu mertuanya. Dia menggenggam tangan wanita yang sedang panik itu.


"Mom ... aku tau mom cemas dan tidak ingin ada kesalahan dalam pernikahan kami. Aku sangat berterima kasih padamu, mom sudah bekerja keras demi pernikahan yang sangat megah ini."

__ADS_1


"Jangan cemas lagi Mom, aku yakin kalau Daniel tidak akan salah menilai orang. aku sendiri sudah melihat bagaimana bibi Glace menggambar desain gaun pengantin yang akan aku pakai dalam waktu singkat. Aku yakin beliau bisa menyelesaikannya tepat waktu. Dan bagaimana hasilnya, aku pastikan tidak akan mengecewakan mommy."


Mia menatap mom Tania penuh kelembutan, yang saat ini mom Tania butuhkan memang ketenangan. Seminggu ini dirinya kurang istirahat, kurang tidur dan banyak kegiatan yang menguras tenaga. Jadi emosinya pasti akan mudah meledak saat ada saja yang sedikit ia cemaskan.


"Kau benar nak, maafkan mommy ya. Mommy bukan bermaksud untuk meremehkan bibi Glace tapi mommy hanya mencemaskan pernikahan kalian."


"Tidak perlu khawatir jeng, kita percaya saja pada anak-anak." Mamah Emma ikut menenangkan calon besannya.


,,,


Sementara di ruangan para pria.


Daniel tentu sudah siap sejak tadi. Pria memang sangat simpel, hanya perlu menggunakan setelan jas saja sudah beres semuanya. Tak perlu bermake-up seperti para wanita. Kebetulan tampang Daniel juga sudah sangat menawan, akan aneh kalau wajah menggunakan bedak.


"Kau tampan sekali nak, seperti Daddy waktu masih muda."


Daniel memutar bola matanya jengah mendengar pujian Daddy nya yang justru seperti memuji diri sendiri.


"Aku pasti lebih tampan dari pada Daddy saat muda." Daniel tidak mau di bandingkan.


"Hai ... kau itu putra Daddy, tentu saja tampan. Daddy mu ini memang pemilik bibit unggul yang super sampai bisa membuat putra setampan kamu." Gelak tawa pun memenuhi ruangan itu, Willy, paman Sam dan Daren yang terlihat tertawa paling puas.


Awas saja kau! Aku tidak akan membiarkan adik ipar ku dekat dengan mu.


"Jangan membicarakan hal seperti itu Dad, memalukan." Daniel mencebikkan bibirnya kesal.


"Om sebenarnya siapa calon istri Daniel, kenapa belum diperkenalkan pada keluarga besar?" tanya Daren yang sudah sangat penasaran.


"Besok om secara resmi akan memperkenalkan menantu om di depan keluarga besar. Saat ini biarlah semua orang menerka-nerka dan terkejut melihat kecantikan menantu ku." Dad Alex menepuk pundak keponakannya.


Ayah dan anak sama saja menyebalkan. Daren dalam hati.

__ADS_1


to be continue...


__ADS_2