Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
163. I Love You


__ADS_3

Mia mengucek matanya berkali-kali. Rupanya dia masih tidak percaya kalau apa yang dilihatnya itu nyata. Benarkah saat ini yang ada di depan matanya adalah suaminya atau dia masih di dalam dunia mimpi.


"Sayang, apa kau masih belum percaya kalau aku ini nyata?"


Mia mengangguk.


"Apa perlu kita melakukan hal lebih agar kau percaya?" Daniel mau-mau saja.


Plaakk. Mia memukul lengan suaminya.


"Aww... sakit sayang. Kenapa kau memukulku, lebih baik cium saja."


"Jadi kau nyata?" tanya Mia sekali lagi.


Daniel menangkup kedua pipi istrinya, "Lihat aku... Aku Daniel suamimu."


Tangis Mia kembali pecah, kali ini bukan tangis kesedihan lagi tapi tangis kebahagian. Laki-laki yang lama ia tunggu sekarang sudah ada di depan matanya. "Kau dari mana saja? kenapa baru kembali? Kau jahat, kau tidak merindukanku. Kau bohong, katanya mau pulang tapi malah menghilang." Mia menumpahkan segala keluh kesahnya selama ini.


"Maafkan aku, maaf... jangan menangis lagi, aku ikut sakit kalau kau menangis." Daniel menyeka pipi istrinya yang berderai air mata.


"Apa kau tidak tau kalau aku begitu merindukanmu, aku kesepian, aku menderita tanpamu, Niel," keluh Mia lagi.


"Iya sayang, aku juga sangat merindukanmu. Aku juga takut tidak bisa lagi bertemu denganmu. Aku juga takut kalau Tuhan bener-benar memisahkan kita saat itu. Dan teringat wajahmu juga yang selalu membuat ku selalu berusaha bertahan disana."

__ADS_1


Mereka saling berpelukan, meredam segala sesuatu yang selama ini mereka pendam dalam kejauhan.


Akhirnya Daniel pun menceritakan semua yang terjadi padanya selama di kota A. Dari awal sampai akhir tidak ada yang ia lewatkan. Apa saja yang ia lakukan selama disana, pengalaman apa saja sampai hal-hal kecil juga Daniel ceritakan.


Mia mendengarkan semua yang suaminya ceritakan, untuknya hari ini weekend jadilah dia tidak berangkat ke kantor jadi punya banyak waktu untuk mendengarkan cerita suaminya yang sampai di bagian akhir dia merasa seperti tidak masuk akal.


"Jadi begitu sayang, pasti kau tidak percaya kan dengan ceritaku. Orang yang tidak melihatnya sendiri pasti juga tidak akan percaya. Memang aneh, bagaimana bisa seluruh penduduk kota A telah tiada di kubur hidup-hidup oleh tanah tempat tinggal mereka sendiri."


"Kalau benar seperti, mungkin memang karena perbuatan mereka yang sudah keterlaluan. Jadi apa relawan yang lain juga selamat?" tanya Mia.


"Iya, semalam kami semua kembali ke daerah masing-masing. Kota itu seperti tidak pernah ada, menghilang begitu saja."


"Kau pasti sangat kesusahan saat itu." Mia mengusap lembut wajah suaminya yang terlihat tirus. Wajar saja m, setelah bencana gempa yang terakhir. Tidak ada lagi makanan, hanya makan pucuk dedaunan.


"Maaf semalam aku tidak menyambut mu pulang, kenapa juga kau tidak memberitahu ku kalau mau pulang? Daddy juga tidak berkata apa-apa," ujar Mia.


"Tidak apa-apa, aku memang sengaja ingin memberimu kejutan. Aku juga senang karena semalam aku mendengar sesuatu yang sangat aku tunggu, bisakah kau mengulangi nya lagi," pinta Daniel. Mengingat semalam sang istri berkata kalau dia mencintai nya.


Mia menyerngitkan dahinya, mencoba mengingat kejadian semalam yang ia kira kalau itu hanya mimpi. Aahh ya dia ingat kalau dia mengatakan cinta. Sontak saja dia malu dan pura-pura lupa.


"Apa itu Niel? Aku tidak ingat. Sepertinya aku tidak sadar semalam." Mia berasalan.


"Benarkah? Kau lupa. Sayang sekali padahal aku ingin mendengar nya lagi. Apa aku harus pergi lagi agar kau mau mengatakannya saat aku kembali nanti?"

__ADS_1


"Tidak!! Jangan pergi lagi. Bukannya kau bilang tidak akan pergi lagi semalam." Mia langsung masuk ke dalam pelukan suaminya. Tidak mengijinkan laki-laki itu pergi barang sedikitpun.


"Kau ingat apa yang aku katakan tapi kau melupakan apa yang kau ucapkan padaku."


"Aku mencintaimu," lirih Mia, dia begitu malu. Belum pernah dia menyatakan perasaannya dihadapan laki-laki. Selama bersama mantan kekasihnya pun sepertinya dia tidak pernah berkata mencintai nya.


"Apa?? Coba ulangi sekali lagi, aku tidak mendengar dengan jelas tadi." Daniel mendorong pelan kedua pundak istrinya, dia ingin mendengar nya sekali lagi sambil melihat wajahnya.


"Tidak mau, tadi kan sudah...," Mia menunduk malu.


"Coba katakan sekali lagi sambil menatap mataku. Aku sungguh ingin mendengar nya. Aku takut kalau tadi aku salah dengar." Daniel mengangkat dagu Mia hingga pandangan mereka saling beradu. "Ayo sayang... atau kau tidak benar-benar men-."


"Aku mencintaimu, Daniel Starles...," ujar Mia dengan lantang. "Apa kau puas seka-..."


Daniel langsung mendaratkan ciuman di bibir istrinya yang sedang bergerak-gerak itu. Di-lu-mat nya bibir itu penuh perasaan lalu melepaskan nya, "Aku juga mencintaimu Mia Khalisa Starles."


Lagi, bibir mereka saling bertemu. Daniel me-ma-gut bi-bir istrinya atas bawah bergantian, lalu li-dahnya menerobos masuk ke dalam rongga mulut istrinya. Menari-nari dan menggoda li-dah Mia agar mengikuti iramanya.


Hosh hosh... Nafas mereka memburu setelah cium-aann itu terlepas. Dahi mereka saling menempel. Lalu keduanya tersenyum bahagia.


"I love you, sayang... I love you...,"


"I love you to..."

__ADS_1


__ADS_2