
°°°
"Kau sudah bangun?" Suara bariton milik seorang pria mengagetkan Felice yang masih belum sepenuhnya sadar dari tidurnya.
Betapa terkejutnya gadis itu saat menyadari dimana dia sekarang. Bagaimana bisa dia begitu teledor, tidur di tempat sembarangan ada pria juga di sana. Segera ia bangun dan membenahi pakaiannya yang kusut dan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Maaf Tuan, saya tidak sengaja ketiduran." Felice berusaha menjelaskan dan meminta maaf.
"Hmm... kita pulang sekarang?" tanya Calvin.
Ehh... apa dia tidak marah karena aku tidur begitu saja.
"Atau kau masih mau disini?" tanya Calvin lagi karena Felice tak kunjung meresponnya.
"Tidak, saya juga ingin pulang tuan. Sekali lagi saya minta maaf tuan, tadi saya sungguh mengantuk jadi...-"
"Tidak perlu minta maaf, ayo pulang. Aku akan mengantarmu," ujar Calvin yang tambah membuat gadis itu terkejut. Setelah mematikan laptopnya pria itu pun bangkit dari kursinya dan menghampiri gadis yang masih memaku sambil memegangi jas miliknya yang tadi dipakai untuk menyelimuti gadis itu.
Calvin mengulurkan tangannya meminta jasnya kembali tapi siapa sangka kalau apa yang dipikirkan Felice justru hal lain.
Felice salah tingkah, menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. "Hmmm... tidak enak kalau ada yang lihat nanti tuan," ujarnya yang berpikir kalau Calvin akan menggandeng tangannya.
Calvin pun menaikan kedua alisnya, tidak paham dengan apa yang gadis itu katakan. Dia hanya meminta jas nya lalu malu kenapa?
__ADS_1
"Memang kenapa kalau ada yang melihat?" tanya Calvin.
"I-itu Tuan, nanti orang-orang bisa berpikir kalau kita punya hubungan spesial...," lirih Felice. Sungguh ia sangat malu. Dia sudah biasa didekati oleh laki-laki tapi kenapa saat dengan bos nya itu dia selalu salting.
"Aku hanya meminta jas ku, kenapa juga orang-orang harus berpikir seperti itu."
Felice melongo jadi dia baru saja salah paham. Ya ampun mau di taruh di mana mukanya kalau seperti itu.
Calvin akhirnya paham kalau gadis itu menyangka dirinya akan menggandeng nya, dia tentu saja mau melakukan hal itu tapi dia belum cukup berani. Pria itu malah takut kalau nanti Felice jadi ilfill padanya kalau terlalu agresif.
"Biar saya cuci dulu jas nya Tuan, ini pasti sudah kotor." Bagaimana jas yang sudah melekat di tubuhnya dipakai begitu saja oleh seorang pria. Rasanya menggelikan, apalagi ada sisa-sisa aromanya yang tertinggal.
"Tidak perlu nanti aku akan mengurus nya. Tangan mu juga sedang sakit. Oh iya, kamu bisa ijin beberapa hari sampai lukamu sembuh."
,,,
Mereka sudaha ada di mobil. Felice sudah menolak untuk diantarkan pulang tapi pria itu tidak mau mendengarkan.
"Apa kau benar-benar tidak mau ke rumah sakit? Bagaimana kalau lukanya semakin parah dan infeksi?" tanya Calvin yang sedang menyetir
"Eh ... ini tidak apa-apa, ini saja sudah tidak begitu sakit." Felice memperlihatkan tangannya yang sudah tidak begitu memerah seperti tadi. Tidak tau saja kalau semua itu berkat Calvin yang beberapa kali mengoleskan salep.
Calvin tersenyum, lukanya sudah tidak semerah tadi. Dia pun ikut lega.
__ADS_1
"Oh ya, bisakah kalau di berada di luar kantor kau jangan memanggil ku tuan. Aku terlihat sangat tua kalau seperti itu." Mengerem mobilnya dan berhenti di lampu merah.
"Harus memanggil apa kalau begitu?" tampak berpikir, aneh juga kalau pada atasannya hanya memanggil nama.
"Terserah kau saja, panggil nama juga boleh. Sepertinya umur kita tidak terpaut terlalu jauh," ujar Calvin.
"Tapi sepertinya tidak sopan, aku panggil senior saja bagaimana?"
"Ya, seperti itu juga boleh." Pasrahnya, memang apa yang dia harapkan. Apa mungkin berharap dipanggil sayang, pacar juga bukan. Ya setidaknya tidak ada panggilan Tuan yang terlalu tua di dengar itu.
Lampu hijau menyala, Calvin pun kembali menginjak pedal gas nya. Melajukan mobilnya, memecahkan jalanan yang cukup ramai. Mereka semakin akrab dan lebih santai sekarang. Mungkin tidak adanya panggilan tuan membuat Felice lebih nyaman. Dia juga sudah tidak menggunakan bahasa yang terlalu formal lagi.
"Eehh, aku turun di sini saja," ujar Felice saat mobil yang mereka tumpangi sampai di depan jalan menuju rumahnya.
"Apa rumahmu sudah dekat?" tanya Calvin pura-pura tidak tau.
"Hanya beberapa meter saja, aku akan jalan kaki dari sini." Tersenyum sambil melepaskan sabuk pengaman nya.
"Duduklah, aku akan mengantarmu sampai di depan rumah." Bagaimana bisa Calvin membiarkan Felice jalan kaki dengan jarak yang cukup jauh. Bagaimana kalau ada yang menggodanya nanti.
"Tidak apa-apa, senior. Rumah ku sudah dekat dari sini, akan merepotkan kalau harus belok dan mengantarkan sampai rumah. Sementara rumah senior masih jauh dari sini." Jarak rumah Felice sudah cukup jauh dan rumah Calvin berlawanan arah dengannya, pasti akan melelahkan untuk pria itu, pikirnya.
"Cukup tunjukkan yang mana rumahnya." Setelah itu Calvin pun langsung membelokkan mobilnya, tidak peduli dengan penolakan.
__ADS_1
Benar juga, saat ini Felice senyum-senyum sendiri. Dia kagum dengan apa yang dilakukan atasannya. Sangat gentle dan bertanggung jawab sebagai laki-laki. Tidak seperti mantan-mantan pacarnya yang selalu merasa takut kalau diajak ke rumah. Ehh kenapa juga harus membandingkan Calvin dengan mantan pacarnya. Tentu saja sangat jauh berbeda.