
Bisik-bisik tetangga pun mulai terdengar bersahutan saat Lucy dan putranya melewati jalan sempit bersama seorang pria tampan yang saat ini menggendong Zoro. Mungkin Lucy sudah terbiasa mendengarnya, bagaimanapun seorang wanita single pastilah jadi bahan cemoohan dan gosip para tetangga.
"Lihat itu, itu pasti salah satu pria kaya yang dikencani Lucy."
"Ihh iya ya, kok mau sama Lucy yang orang miskin dan punya anak satu itu. Paling juga Lucy yang menggodanya."
"Benar, tampangnya saja polos tapi sebenarnya wanita penggoda."
Lucy seolah tutup telinga dan tidak menengar itu semua, itu sudah biasa terjadi saat ia pulang ke rumah. Baginya tidak masalah selama mereka tidak mengganggu ibu dan putranya, omongan itu bisa ia jadikan angin lalu saja, toh dia juga tidak makan dari mereka.
Daren memandang punggung wanita itu, dia tentu saja mendengar semua cibiran itu. Sangat menusuk dan menyayat hati seorang perempuan. Tapi bagaimana bisa Lucy sama sekali tidak merespon hal itu sedikitpun, ya maksudnya tidak melawan atau membela diri begitu. Ya sudahlah, nanti dia akan tanya kalau ada waktu. Sekarang dia hanya perlu fokus pada Zoro, menurutnya bocah sekecil itu tentu tidak boleh mendengar perkataan seprti itu.
"Sialahkan dok, ini rumah ibu saya." Lucy mempersilahkan Daren untuk masuk ke halaman rumah mereka lebih dulu.
Rumah kecil dan sederhana, yang hanya ada satu kamar di dalamnya. Lucy mengetuk rumah itu.
tok tok tok.
Tak lama terdengar seseorang membuka kunci rumah dan muncullah sesosok ibu yang berusia sekitar lima puluhan tapi karna sering sakit-sakitan jadilah wanita itu tampak lebih tua, tubuhnya kurus dan kulitnya pun keriput, berjalan pun menggunakan tongkat. Lucy tidak cuma cukup uang untuk mengobati putra sekaligus ibunya. Alhasil sang ibu lah yang mengalah untuk cucunya, dia lebih memilih menahan sakit dan hanya mengandalkan obat murah yang dibelinya di toko.
__ADS_1
"Lucy... Zo... cucu oma..." Wajah tua dan keriput itu begitu bahagia melihat cucunya pulang ke rumah.
"Omaa..." Zoro pun meronta minta diturunkan dari gendongan Daren. Bocah itu di umurnya yang sekarang seharusnya sudah bisa berjalan lancar tapi dia baru bisa berjalan sedikit-sedikit karena tubuhnya yang lemah.
"Ya ampun, oma rindu sekali pada mu sayang. Cucu oma sudah sehat sekarang."
Zoro pun memeluk neneknya, wanita itu sudah tak mampu lagi menggendong sang cucu.
"Zo, bu. Ato kita masuk dulu," ajak Lucy yang tidak nyamah karena sejak tadi tetangganya terus melihat mereka, tentu hal itu karena adanya Daren di sana.
"Iya iya ayo masuk sayang." oma menggandeng tangan cucunya tapi ditepis oleh bocah itu.
"No Zo, dokter mau kerja, dia kan harus memeriksa orang-orang yang sakit." Lucy harus tega membujuk putranya. Bocah itu lalu menunduk lesu, dilepaskannya jari-jarinya yang tadi menarik tangan Daren, dia lupa hampir saja dia terlena.
"Terimakasih atas kebaikan anda selama ini dok dan terimakasih juga karena sudah mengantarkan kami pulang. Kami tidak punya apa-apa untuk membalas kebaikan dokter. tapi kalau dokter butuh bantuan apapun kami siap membantu." Lucy membungkuk berkali-kali mengucapkan terimakasih. Sudah cukup, biarlah sampai disini saja.
Daren bergeming, matanya menatap Lucy dan Zoro bergantian, bukan itu yang ia mau tapi ia juga bingung bagaimana ia mau mengatakannya.
"Telimaa kasih angkel dotell...' bocah itu menyunggingkan senyum yang sangat menyayat hati. Daren bisa melihatnya, kesedihan yang teramat dalam.
__ADS_1
"Bisakah aku lebih lama disini?" tanya Daren.
Daren dan juga Zoro sedang bermain di ruang tamu. Mereka membongkar semua mainan baru Zoro, diselingi canda dan tawa dari mereka berdua sesekali. Hal yang tidak pernah sekalipun Lucy dan ibunya lihat.
"Siapa dia nak, kenapa Zoro dekat sekali dengannya?" tanya bu Risa. Sejak tadi dia ingin bertanya tapi menunggu waktu yang pas saja.
"Dia adalah dokter yang mendonorkan darah untuk Zoro bu, dia juga sering mengunjungi Zo saat di rawat jadilah mereka dekat," ujar Lucy, dia sedang membuat minuman untuk tamunya.
"Lalu kenapa sepertinya kamu tidak suka mereka dekat?" tanya sang ibu lagi.
Lucy pun meletakkan sendok yang sedang ia pegang untuk mengaduk teh. Lalu memeluk ibunya dan menumpahkan tangisnya. "Aku takut bu, aku takut kalau Zoro harus kecewa lagi seperti yang sudah-sudah."
Bu Risa tentu paham dengan ucapan putrinya, dia sendiri saksi saat beberapa pria yang katanya menyukai anaknya datang lalu pergi lagi setelah mengetahui kenyatan tentang Zoro, ada yang mau menerima Zoro dan mereka pun dekat tapi ternyata keluarganya tidak. Akhirnya Zoro yang baru pernah merasakan disayang oleh sosok seorang ayah pun harus kecewa dan menangis setiap hari karena ingin bertemu.
Malam pu tiba, sejak tadi siang Zoro dan Daren tidak berhenti bermain. Bocah itu seperti tidak ada lelahnya. Lucy dan bu Risa juga suda beberapa kali membujuk bocah itu dan memperbolehkan Daren pulang tapi pria itu sendiri yang kekeuh tetap di sana. Saat ini Zoro terlelap di gendongan Daren dengan mudahnya.
"Biar saya taruh Zoronya dok," ujar Lucy, sambil meminta sang putra.
"Biar aku saja, dimana kamarnya?" tanya Daren, kemudian dia pun berjalan pada salah satu pintu yang ia yakini sebagai kamar karena Lucy tak kunjung menjawab.
__ADS_1