Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
66. Satu Kenyataan Lagi


__ADS_3

°°°


Akhirnya Daniel memberhentikan mobilnya di depan rumah kecil yang sedikit Mia kenali. Dan matanya membulat saat melihat pria yang sangat ia benci keluar dari pintu rumah itu. Ya dia baru ingat kalau itu adalah rumah yang pernah mereka tinggali. Rumah yang sama sekali tidak pernah memberikan kehangatan dan kebahagiaan.


"Kenapa kau membawa kami kemari?!" sentak Mia, matanya sudah merah padam mengingat kesakitan yang pernah mereka alami dulu.


"Tenanglah, ayo kita turun dulu dan kita bicarakan di dalam." Daniel tau akan begini, mamah Emma sudah memberi taunya kalau Mia tidak ingin bertemu lagi dengan ayahnya.


"Antarkan kami pulang sekarang!" Mia menepis tangan Daniel.


"Ada apa ini kak, apa kita sudah sampai." Felice pun terbangun saat mendengar suara keras kakaknya. Tapi kenapa kakaknya marah? Dia pun melihat keluar dan melihat laki-laki yang sudah tua itu sedang di halaman rumah yang mereka pernah tinggali.


Itu Papah... bukannya ini rumah kita dulu? Pantas saja kak Mia marah, dia sangat membenci laki-laki itu. Tapi kenapa kakak ipar malah membawa kami kesini dan sepertinya mamah juga tau. Apa ini maksud mamah menyuruhku ikut, agar aku ikut membujuk kak Mia untuk mau menemui papah.


"Nanti aku jelaskan di dalam rumah, ayo kita turun dulu. Percayalah, aku juga tau masa lalu kalian. Mari kita perbaiki dan kita meminta restu pada papah kalian," ujar Daniel yang mencoba membujuk Mia.


"Tidak perlu, papah kami sudah meninggal. Tidak perlu meminta restu pada siapa-siapa. Kalau anda tidak mau mengantarkan kami kembali, kami bisa pulang sendiri." Mia tidak bisa dan tidak ingin bertemu laki-laki itu.


"Felice, ayo kita pulang," ajaknya pada sang adik.


"Tunggu Kak, sebaiknya kita dengarkan penjelasan kakak ipar dulu. Kita juga sudah sangat lama tak melihatnya, lihatlah wajah tua nya yang sangat tidak terawat." Sejak tadi Felice memperhatikan wajah papahnya yang tampak tidak baik-baik saja.


"Fel!! Apa kau lupa apa yang sudah dia lakukan pada kita. Mamah sakit seperti itu juga karena siapa? Aku tidak ingin melihatnya lagi, bagiku papah sudah tidak ada."

__ADS_1


"Cepat buka pintunya Tuan, Saya tidak pernah mengurusi urusan anda tapi kenapa anda harus berbuat sejauh ini hanya untuk pernikahan yang sebatas tanggung jawab ini. Lebih baik pernikahan kita tidak usah dilanjutkan!"


Bola mata Daniel membulat mendengar perkataan Mia, pernikahan mereka tinggal berapa hari lagi dan dia mau membatalkan.


"Maaf, aku tidak bermaksud ikut campur urusan kalian. Aku hanya ingin mengajakmu meminta restunya karena pernikahan kita bukanlah main-main, ayu kita temua beliau sekali ini saja. Setelah ini kalau kau mau membatalkan pernikahan kita, aku tidak akan mencegahnya lagi." Daniel menatap lekat wajah Mia.


"Ayo Kak, kita temui papah." Felice ikut mengajak.


Mia terdiam, menimbang apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Kalau bertemu laki-laki itu rasanya dia langsung emosi. Tidak bisa menahan diri untuk tidak mengamuk. Terlalu banyak kenangan buruk yang pria itu torehkan pada mereka terutama sang ibu yang hanya bisa menangis setiap hari.


"Aku tau kau pasti tidak akan mau menemui papahmu. Coba kau lihat ini dulu, baru kau pertimbangkan lagi. Kalau setelah ini kau tetap tidak mau menemuinya aku tidak akan memaksa." Daniel menyerahkan amplop cokelat besar dengan cap logo rumah sakit Star Medical center.


"Apa ini?" tanya Mia. Entah kenapa tiba-tiba ia takut untuk membuka amplop itu.


"Coba buka kak, aku juga ingin lihat," sambung Felice dengan memajukan kepalanya.


Tangan Mia bergetar, perasaannya sama ketika membuka hasil pemeriksaan medis mamahnya. Jantungnya pun berdegup lebih kencang, hatinya terasa sakit sama seperti saat memikirkan mamahnya yang sakit parah. Tapi kenapa perasaannya sama, ada apakah sebenarnya.


Perlahan Mia membuka amplop itu, tangannya mengeluarkan kertas putih yang ada di dalamnya. Dia membaca baik-baik tulisan yang tertera di sana. Ada nama papahnya di sana, Willy Brown. Dan hasil pemeriksaan yang menyatakan pasien tersebut menderita kanker sumsum tulang belakang stadium empat.


"Ini...," Mia menggeleng tak percaya dengan apa yang ia baca. Bagaimana mungkin papahnya yang selalu terlihat segar bugar menderita penyakit seperti itu. "Ini pasti bohong kan? Kau memanipulasi hasil pemeriksaan ini agar aku mau menemuinya." Mia masih tak percaya. Tidak, dia membenci orang itu tapi kenapa saat mengetahui kenyataan itu rasanya sangat sakit.


Felice yang tidak melihat dengan jelas pun merebut kertas itu dari tangan kakaknya. Tidak jauh berbeda reaksinya, Felice bahkan menangis setelahnya.

__ADS_1


Sungguh Daniel tidak bermaksud membuat kakak beradik itu bersedih. Tapi kalau dia tidak menunjukkan hasil pemeriksaan itu, ia khawatir Mia tidak akan mau menemui papahnya.


"Maafkan aku sudah membuat kalian kecewa dengan hasil pemeriksaan itu. Tapi itu lah kenyataannya, laki-laki itu kini setiap harinya kesakitan seorang diri di rumah itu."


Daniel pun mulai menceritakan awal mulanya dia menemukan papahnya Mia.


Jadi beberapa hari terakhir Daniel mencari tau semua tentang Mia. Termasuk siapa ayahnya. Dan akhirnya dia bertanya pada Emma, wanita itu pun menceritakan masa lalunya. Setelah itu Daniel meminta ijin untuk menemui laki-laki yang merupakan ayah kandung Mia untuk meminta restu dan Emma pun mengijinkannya.


Daniel mulai menyuruh orang untuk mencari keberadaan laki-laki bernama Willy itu. Kata mamah Emma dia tinggal di rumah lama mereka. Setelah mencari informasi dan menyuruh orang untuk mengecek ternyata benar kalau pria itu masih tinggal di sana.


Tapi ada yang aneh kata anak buahnya. Bukannya kata mamah Emma suaminya itu suka mabuk, bermain judi dan bersenang-senang. Tapi menurut warga setelah kepergian istri dan anak-anaknya Willy banyak berdiam diri di rumah, bahkan jarang keluar. Hanya sesekali keluar untuk menjual hasil kebun yang ia tanam di halaman rumahnya.


Setelah itu Daniel pun memutuskan untuk menemuinya keesokan harinya.


Saat melihat pertama kali laki-laki paruh baya itu terlihat tidak baik-baik saja. Wajahnya pucat, tubuhnya seperti tidak bertenaga, dan memakai pakaian tebal saat cuaca terik. Daniel tebak mungkin pria itu sedang sakit.


Willy menyambut Daniel dengan ramah, sangat berbeda dengan apa yang Emma ceritakan. Mereka mengobrol banyak sampai akhirnya Daniel mengatakan kalau tujuannya datang adalah untuk meminta restu.


"Benarkah Mia mau menikah? Dengan anda Tuan?"


Matanya berkaca-kaca mendengar hal bahagia itu, padahal Daniel sudah menyiapkan cek karena dipikirnya laki-laki itu gila uang seperti yang mamah Emma bicarakan. Daniel bermaksud memberikan laki-laki itu sejumlah uang yang banyak agar tak mengganggu Mia dan keluarga lagi.


to be continue...

__ADS_1


__ADS_2