
°°°
Di perusahaan yang saat ini sedang mulai merintis bisnisnya. Seorang pemuda yang merupakan pemimpin perusahaan itu duduk di kursi kebesarannya. Memeriksa laporan keuangan perusahaan yang setiap hari semakin baik setelah ia memimpin.
Calvin Squil adalah putra satu-satunya dari pemilik perusahaan tersebut yang baru saja lulus dari perguruan tinggi di luar negeri. Awalnya perusahaan itu dipimpin oleh pamannya dan hampir bangkrut karena sang paman melakukan korupsi besar-besaran. Karena ayahnya Calvin telah tiada. Beruntungnya Calvin segera menyelesaikan kuliahnya dan mengambil alih kursi kepemimpinan.
Lalu sang paman, ia tidak melaporkan nya ke pihak berwajib tapi hanya memecatnya dan jangan sampai menunjukkan batang hidungnya dihadapan Calvin lagi. Anggap saja semua uang yang telah pamannya ambil sebagai bayaran selama ini telah merawat dan menjaga perusahaan sampai Calvin sanggup mengurusnya.
"Sammm.....!!" teriaknya memanggil sang assisten.
Sam yang mendengar suara teriakkan tuannya langsung lari mendekat. "Ya Tuan, apa anda butuh sesuatu?" tanya Sam.
"Mana yang aku minta waktu itu, apa kau sudah berhasil mengumpulkan semua data tentang gadis itu."
Mampus, aku hampir saja lupa. Untung sudah aku kumpulkan semua data tentang gadis itu. Sam menggerutu dalam hati.
"Sam!! Apa kau mendengar ku!" Sentak Calvin.
"Iya Bos, saya dengar," jawab Sam.
"Lalu mana? kenapa kau masih disitu! Cepat serahkan semua yang aku minta." Calvin kembali memerintah dengan tidak sabaran.
"Iya iya Bos. Ini juga mau saya ambil."
"Cepat Sam!!"
Sam langsung segera berlari keluar, mencari berkas tentang seorang gadis yang bosnya minta. Sebenarnya sudah dari beberapa hari yang lalu ia kerjakan tapi karena terjadi masalah di perusahaan jadilah Calvin jadi melupakan semuanya. Dan sekarang setelah mengingatnya ia langsung memintanya.
"Seenaknya saja bilang cepat-cepat! cepat Sam! jangan pakai lama Sam! segera kembali Sam! Kamu tuli Sam! kamu mau mati Sam!
Dasar bos sinting. Bisanya marah-marah saja, tidak tau apa kalau kaki ku hanya dua." Sam menggerutu, menirukan segala perintah dan umpatan yang sering bosnya layangkan untuknya.
"Sammmm....!!" Dari dalam ruangan bosnya kembali berteriak.
"Ya ampun... iya iya ini baru saja ketemu bos." Sam langsung kembali ke dalam.
__ADS_1
"Mana? Kenapa lama sekali? Apa kau tidur?" Calvin selalu saja membuat assisten nya kewalahan dengan segala perintah dan maunya. Tapi walaupun begitu, dia adalah bos yang baik sebenarnya. Hanya saja sedikit tempramental meski masih muda. Sam hanya perlu banyak sabar saat menghadapi bosnya yang kadang semena-mena.
"Ini bos, data itu sudah ketimpa dengan data yang lain jadi aku harus mencarinya dulu," ujar Sam sambil memberikan apa yang dimau bosnya.
Segera Calvin membuka data yang sam dapatkan.
Jadi namanya Felicia Angelina. Umur 24 tahun, mahasiswi di kampus xx. Ayah dan ibunya orang biasa dan bercerai, mempunyai seorang kakak yang sekarang menjadi menantu keluarga Starles.
"Apa hanya ini yang kau dapatkan selama ini, Sam?" tanya Calvin pada assistennya.
"Bukannya semuanya sudah lengkap Tuan. Alamat rumahnya juga ada, no sepatu, dan ukuran pakaian da-lam juga ada." Sam melihat kembali data itu dan menurutnya sudah lengkap.
"Apa kau laki-laki me-sum!!" pelotot Calvin, saat Sam membahas pakaian da-lam.
"Ehh... tidak Tuan, maksudnya apa yang kurang lagi selain itu Tuan?" Sam serba salah kalau dihadapan bosnya. Dia lebih baik berhadapan dengan lawannya dalam perebutan tander dari pada berhadapan dengan bosnya.
"Cari tau juga apa dia mempunyai kekasih atau tidak! Begitu saja tidak tau."
"Ohhh... itu... Kalau itu saya sudah pastikan kalau nona Felice itu sedang jomblo, Tuan. Belum lama ini dia putus dengan kekasihnya yang ternyata brengseek. Lalu sekarang banyak laki-laki yang sedang berusaha mendekatinya karena nona Felice termasuk bunga kampus, Tuan." Sam tersenyum bangga karena dia sudah berhasil mencari tahu lebih dulu sebelum bosnya memerintah.
Tentu bos, saya memang selalu berinisiatif. Tujuannya untuk mencari tau tentang gadis itu pasti ujung-ujungnya mau mendekati nya kan. Pasti aku harus memastikan kalau gadis itu sedang tidak punya kekasih.
"Apa ada perintah selanjutnya, Bos?" tanya Sam.
"Tidak perlu, aku punya firasat kalau kami akan bertemu lagi." Tersenyum memandangi wajah Felice yang ada di data yang Sam cari.
Kita pasti bertemu lagi baby.
,,,
Sementara Felice yang sedang bersama Lucy tiba-tiba saja bersin.
Haattcciii... Hidungnya yang kecil langsung memerah.
"Non Felice kenapa? Apa sakit?" tanya Lucy.
__ADS_1
"Tidak Lucy, entahlah tiba-tiba hidungku gatal. Mungkin ada yang sedang membicarakan ku," canda Felice.
"Sudah ayo, kita lanjutkan saja belanjaannya. Apa semua pesanan mamah sudah ketemu?" tanyanya pada Lucy yang langsung memeriksa catatan.
"Sudah Non, semuanya sudah ada di sini," jawab Lucy.
"Baiklah, kita langsung bawa saja ke kasir. Aku masih mau cari yang lain lagi setelah ini."
Lucy dengan dibantu Felice pun membawa barang bawaan mereka ke kasir. Saat ini mereka sedang ada di salah satu pusat perbelanjaan. Mia menyuruh mereka untuk membeli keperluan rumah yang habis.
"Ehh Lucy, kamu serahkan belanjaan ini pada mereka saja. Habis itu tinggal kita yang belanja deh." Felice menyuruh perawat mamah nya yang sudah seperti temannya sendiri, untuk menyerahkan barang belanjaan mereka pada bodyguard yang mengikuti mereka. Memang sang kakak yang mengaturnya agar keamanan mereka terjamin.
"Memangnya tidak apa-apa Non," ujar Lucy merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa, dari pada mereka cuma ngikutin kita sambil bengong nggak ada gunanya. Mending kita manfaatkan saja. Sini, biar aku yang menyuruh mereka." Felice mengambil barang-barang yang ada di tangan Lucy.
"Hai kalian, tolong bawakan barang belanjaan kami ya." Bodyguard itupun hanya diam saja menerimanya.
"Sudah beres, sekarang ayo kita belanja pakaian. Let's go...," ajak Felice antusias saat berada di depan toko pakaian branded.
Kebetulan dia baru saja mendapatkan uang lebih dari kakak dan kakak iparnya. Dia juga sudah lama tidak berbelanja, meski saat pindah rumah semuanya sudah ada di rumah itu.
"Yang ini cocok tidak di aku?" tanya Felice sambil mengangkat pakaian yang ia pilih.
"Bagus Non, non Felice pakai apa saja kelihatan cantik." Lucy jujur, memang dalam pandangan matanya seperti itu. Mia dan Felice seperti tercipta tanpa celah dan membuat para wanita iri.
"Kamu ini, ditanya bagus semua jawabannya. Kamu juga pilih baju yang kamu suka, tenang saja nanti aku yang bayar," ujar Felice sambil menunjukkan kartu kredit nya.
"Tidak Non, saya tidak mau apa-apa." Lucy mana berani minta dibelikan pakaian.
"Kenapa lagi, tidak enak lagi? Kamu itu terlalu banyak tidak enak Lucy. Sudah si ambil aja, atau aku yang pilihkan? Pilihkan juga untuk putramu."
"Tapi Non...."
"Sudah sana, tidak usah tapi-tapian."
__ADS_1
to be continue...