Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
134. Tidak Mood


__ADS_3

°°°


Sorenya, Mia bersiap pulang. Sedang membereskan meja kerjanya. Dilihatnya ponselnya yang tergeletak di atas meja. Sengaja dia senyapkan sejak tadi. Ternyata ada satu pesan baru dari suaminya tapi dia abaikan bahkan tanpa membukanya. Ya dia kesal, karena merasa suaminya tidak perhatian lagi dengan nya.


"Kau sudah siap, ayo kita pergi." Catty yang juga sudah bersiap, datang menyambangi ruangan Mia.


"Ayo," jawab Mia sembari memasukkan ponselnya dalam tas.


Mereka turun ke lantai bawah berdua, saat ini tidak ada yang berani lagi menggunjing Mia. Apalagi saat menyadari kalau ternyata Mia sangat cantik saat memakai pakaian normal. Terutama bodynya yang membuat para perempuan insecure kalau melihatnya.


Si wanita pengganggu Laura juga sudah jarang terlihat. Kabarnya dia pindah di kantor cabang, entah karena apa. Sedangkan Justin, pria itu pun juga pindah di cabang yang sama dengan istrinya. Tentu jabatannya tidak sama, setelah diketahui beberapa kecurangan yang dilakukan Justin. Dia harus turun jabatan menjadi karyawan biasa.


Mia sudah tidak memikirkan mereka, itu bukan urusannya lagi. Tapi bagi beberapa para karyawan ada yang menggosip kalau apa yang terjadi pada pasangan suami istri itu karena menuai apa yang dulu mereka tanam. Yaitu karena sering mengganggu Mia.


Kalau Mia masa bodoh, dia tidak merasa melakukan apapun. Toh selama ini dia juga tidak peduli pada perbuatan mereka.


"Kau yang menyetir ya, aku malas." Mia melempar kunci mobilnya pada Catty.


"Waahh beneran kamu memintaku yang menyetir?" tanya Catty memastikan, dia sangat senang kalau itu benar karena mobil Mia adalah mobil mewah keluaran terbaru hadiah dari mertuanya.


"Iya, cepat naik."


"Siap nyonya." Catty bersemangat.


Catty mulai menyalakan mesin mobil nya, rasa kagum jelas terpancar dari raut wajahnya. Dia yang selama ini hanya memakai mobil butut, rasanya sangat bahagia bisa mengendarai mobil mewah.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan Catty juga seringkali berdecak kagum. Tak habis-habisnya dia mengagumi mobil itu.


Sementara Mia hanya duduk mendengarkan ocehan temannya. Membiarkan temannya melakukan apa saja pada mobilnya.


Sampai di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota itu.


"Kita mau apa dulu? Makan atau belanja?" tanya Catty saat mereka sudah memasuki mall itu.


"Belanja dulu saja, ayo." Mia bersemangat. Padahal tadi dia begitu malas.


Dengan semangat mereka berdua memasuki satu persatu toko pakaian. Menjajal beberapa pakaian keluaran terbaru, tas dan juga sepatu. Catty tentu ikut saja, dia senang-senang saja karena Mia yang mau membayar belanjanya tapi dia cukup tau diri, tidak mau aji mumpung.


"Kau mau apa lagi, Catt? Ambil saja, untuk Kenan juga sekalian kamu ambilkan."


Catty hanya tersenyum tipis, walaupun dibayari tetap dia tidak mau berlebihan. Dua setel pakaian sudah ia ambil, dan sekarang hanya mencari uang putranya saja.


"Kau mau beli apa lagi Mia." Catty yang sudah kelelahan membungkuk sambil memijit kakinya sendiri.


"Sebentar, aku mau beli pakaian da-lam juga. Kau mau juga, ambil saja." Mia berjalan santai, seperti tidak lelah sama sekali.


Dia kerasukan apa sampai berbelanja segitu banyak. Untung saja suaminya kaya. Catty heran melihat sikap Mia yang aneh, tapi jadi berkah tersendiri untuk nya.


Catty yang kelelahan lebih memilih duduk di kursi tunggu.


Di dalam toko under-wear. Mia memilih beberapa lingerie dengan berbagai model dan warna. Benar kata Catty, dia seperti sedang kerasukan. Dia bahkan berpikir me-sum sekarang, membayangkan menggunakan lingerie itu di depan suaminya. Tapi sedetik kemudian dia kesal sendiri karena suaminya tidak tau pulang kapan.

__ADS_1


"Bungkus semua mba!" perintahnya pada pelayan toko yang sejak tadi mengikutinya.


Rona cerah terpancar dari raut wajah Mia saat keluar dari toko itu. Dia puas karena sudah menghabiskan banyak uang suaminya. Ya karena barusan dia menggunakan kartu yang diberikan oleh suaminya.


"Apa sudah?" tanya Catty, perutnya sudah keroncong.


"Sudah, ayo kita makan."


"Let's go." Tentu saja Catty semangat mendengar makanan. Tapi Catty juga membantu Mia membawakan belanjanya yang sangat banyak. Kasian kalau temannya membawa barang sebanyak itu.


Saat ini mereka sudah ada di salah satu restoran yang ada di mall itu.


"Kau pesan saja apa yang kamu mau, Catt." Mia menyodorkan buku menu pada temannya. Setelah itu dia juga memesan makanan yang ingin dia makan.


Catty menatap heran pada temannya yang saat ini duduk di hadapannya. Mendengar tadi Mia memesan makanan yang biasa tidak ia suka. Bahkan jumlahnya banyak. Seperti untuk makan lima orang.


"Kau yakin pesan itu semua, Mi?" Catty menautkan kedua alisnya.


"Iya, kenapa? Dari kemarin aku ingin makan itu semua." Mia santai.


"Tapi apa habis makanan segitu banyaknya."


"Kan ada kamu yang bantu habiskan," ujar Mia tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Catty melongo, makanan yang dia pesan saja tadi cukup banyak. Bagaimana dia juga harus memakan pesanan Mia juga.

__ADS_1


to be continue...


__ADS_2