
°°°
Di perusahaan star company.
Tenaga Mia sungguh terkuras banyak belakang ini karena harus bolak-balik dari kantor, apartemen dan rumah sakit. Tidak mungkin kan Mia membawa banyak baju ke rumah sakit seperti mau pindahan. Terpaksa dia bolak balik pulang ke apartemennya.
Mia sedang makan siang bersama Catty di kantin perusahaan saat ini.
"Kamu sepertinya sangat kelelahan, lihatlah mata panda mu sudah sangat hitam," ejek Catty yang duduk di hadapan Mia.
"Hmmm... kamu tau sendiri kalau setiap hari aku harus bolak balik di tiga tempat. Rasanya ingin menyerah sesekali, huft...," keluh Mia.
"Sabar ya sayang... semoga Tante Emma cepat sembuh dan kamu bisa istirahat setelah itu. Kalau tidak kamu ambil cuti saja setelah operasi Tante Emma. Kamu bisa pakai alasan mau menjaga mamah mu."
Mia tersenyum tipis sambil meminum es cola nya.
Sepertinya saran Catty cukup bagus, seandainya saja Mia tidak jadi tulang punggung keluarga pasti tidak akan bekerja sekeras itu.
"Sudah ayo cepat habiskan makananmu atau aku tinggal," cibir Mia.
"Sabar dong, ini aja masih panas. huu...," keluh Catty.
Mereka pun menikmati makan siang itu dengan canda dan tawa.
Sampai ketika beberapa wanita datang ke sana, wanita yang suka mencari masalah dengan Mia. Sebenarnya Mia sama sekali tidak pernah menggubris perkataan mereka tapi entah kenapa mereka masih saja sibuk memamerkan kebahagiaannya pada Mia.
"Sstt... kau lihat mereka yang sok itu, aku ingin sekali melemparkan kotoran ke wajah mereka," kesal Catty pada Laura, wanita yang menjadi selingkuhan mantan tunangan Mia. Dan sekarang wanita itu sudah menikah dengan Justin. Anehnya setiap kali bertemu Mia justru wanita itu yang seperti mengibarkan bendera permusuhan, padahal mia sama sekali tidak pernah peduli lagi pada mereka.
Lucu sekali bukan? Seharusnya Mia lah yang kesal pada wanita itu, ini malah sebaliknya.
"Sudahlah... tidak penting mengurusi mereka." Mia acuh.
Laura dan teman-temannya duduk di meja yang ada di samping Mia. Seperti biasa wanita itu akan memamerkan kebahagiaannya, entah apa tujuannya. Kalau untuk membuat Mia iri itu salah besar karena Mia sama sekali tidak merasa iri.
"Ayo kita pergi, tiba-tiba aku kenyang setelah melihat wanita tidak tau malu itu," sindir Catty dengan nada tinggi, dia sengaja agar Laura mendengarnya.
Mia hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Catty yang selalu emosi setiap kali melihat wajah Laura. Memang sahabat sejati.
Brak!!
__ADS_1
Laura menggebrak meja mendengar perkataan Catty barusan. Membuat semua orang melihat ke arah mereka.
"Apa maksudmu barusan!!" marah Catty.
"Kenapa?? Apa kau merasa tersindir dengan ucapan ku?" ledek Catty, dia merasa menang karena telah mempermalukan Laura di depan para staf kantor.
Mia menepuk keningnya sendiri, sudah bisa dipastikan bagaimana akhirnya. Biasanya pasti akan ada adegan cakar-cakaran atau saling jambak.
"Sudah Catt, ayo pergi," ajak Mia seraya menarik lengan temannya agar tidak terjadi keributan di sana. Dia sudah cukup pusing memikirkan masalahnya.
Catty sempat tersenyum puas saat melewati Laura yang berwajah masam.
"Itu mantan tunangan Justin kan, Ra, pantas saja Justin memilihmu, kamu jelas lebih cantik dan menarik. Lihatlah dia norak, sama sekali tidak tau mode dan perawan tua lagi," cibir salah satu teman Laura.
"Pastilah, sudah jelas kan aku lebih baik dari dia. Bukan salah ku kalau Justin lebih memilih aku, itu karena aku lebih cantik keluarga ku juga jelas dan mapan. Tidak sepertinya yang hanya jadi beban." Laura tertawa puas dengan teman-temannya.
Sementara Catty mengepalkan tangannya, dia tersulut emosi tidak terima temannya ditindas. Dia pun berbalik lalu mengambil air minum sisanya tadi yang masih ada di atas meja lalu ia siramkan pada wajah Laura hingga basah kuyup.
Byur!!
"Aaa... apa yang kau lakukan!!" pekik Laura semakin marah.
"Lebih baik kamu ikat suami kamu di rumah agar tidak selingkuh lagi. Apa kamu tidak khawatir, kau mendapatkan dia dari hasil perselingkuhan. Bisa saja dia sekarang berselingkuh di belakang mu."
Mereka saling melotot dan bersitegang, semua orang juga sudah memperhatikan mereka. Seolah pertengkaran mereka adalah tontonan yang menarik.
"Kau bilang apa tadi, temanmu itu yang tidak tau malu karena masih mengganggu suami ku!!" sentak Laura.
"Heh...!! Apa tidak salah. Kau tanya suamimu, siapa yang pertama menghubungi Mia dan bilang menyesal karena sudah mengkhianatinya wanita sebaik Mia. Kau tau, itu artinya Justin menyesal telah memilihmu." Perkataan Catty seperti kotoran yang ia lemparkan ke wajah Laura, sangat memalukan.
Semua orang pun menertawakan Laura hingga wanita itu memilih pergi dari sana membawa kekalahan.
Saat ini Mia dan Catty sudah berada di lift untuk kembali ke lantai dimana mereka bekerja.
"Dasar manusia tidak berguna, hanya tau mengganggu orang saja," gerutu Catty.
"Kau itu asal bicara saja, aku punya kekasih hebat dari mana?" ujar Mia.
"Hehehe... maaf Mia. Aku tidak sengaja mengatakan hal itu. Tapi bukankah ucapan adalah doa, mungkin saja besok kau benar-benar punya kekasih yang hebat." Catty menyengir kuda.
__ADS_1
"Tapi tindakanmu tadi sepertinya semakin membuatnya marah, dia pasti akan mencari masalah dengan ku lagi," keluh Mia yang sebenarnya tidak ingin terlihat apa-apa lagi dengan mantan tunangannya.
"Tenang saja, kalau dia membuat masalah katakan padaku. Biar aku yang menghadapi mereka," ujar Catty seraya menepuk da daa nya.
"Sudahlah, tidak penting juga memikirkan mereka."
"Lagian, aku juga heran pada Justin kenapa dia bisa selingkuh dengan wanita seperti itu. Pantas saja dia bilang menyesal padamu. Eh tapi kamu tidak ada niatan untuk kembali padanya kan?" tanya Catty penuh selidik.
"Tidak akan dan tidak akan pernah, puas kamu."
Mia keluar lebih dulu setelah pintu lift terbuka.
"Bagus, aku sangat setuju dengan mu. Kalau sampai kamu kembali menerima laki-laki itu, aku tidak akan mau jadi temanmu lagi," ujar Catty, tapi kemudian dia melongo karena Mia sudah tidak ada di sampingnya.
"Kenapa aku tidak melihatnya keluar." Catty langsung bergegas menyusul Mia.
"Miaa... kenapa aku ditinggal. Dasar tidak setia kawan," kesal Catty.
Sementara Mia hanya terkekeh. "Makanya jangan kebanyakan mencibir orang lain."
Mia pun kembali ke meja kerjanya. Tak lama telepon perusahaan pun berbunyi.
"Iya Tuan," ujar Mia.
"Baik saya akan segera ke sana."
to be continue...
°°°
Novel ini ganti judul ya guys, jadi kalian jangan kaget.
Like komen dan bintang lima 😍😍😍
Gas yukkk, ajak teman-teman kalian buat favoritkan juga. Nanti aku up 3x sehari kalau yang favorit tembus seribu. 🤭🤭🤭
Ngimpi dulu boleh kan. Siapa tau beneran banyak yang favorit.
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1