Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
88. Serangan Bertubi-tubi


__ADS_3

°°°


Mia memejamkan matanya saat derap langkah Daniel semakin mendekat ke arahnya. Apa yang ia lakukan, mungkinkah Mia pasrah kalau Daniel mau meminta hak nya. Bukannya dia bisa bela diri, melawan Daniel bukan hal yang sulit bukan.


"Kenapa kau membiarkan rambutmu masih basah, bagaimana kalau kau terkena flu." Daniel menyentuh surai rambut hitam milik Mia yang memang masih basah. Mia sudah terbiasa seperti itu.


Ehhh apa hubungannya sama rambut, Mia tertegun.


"Duduklah, biar aku keringkan." Daniel memerintah.


Ternyata Mia sudah salah sangka, tadi Daniel mencari pengering rambut di laci. Bukan mencari benda yang seperti ada di bayangan Mia. Sungguh Mia sangat malu saat ini, bagaimana bisa ia memikirkan hal yang seperti itu.


"Masih belum duduk. Duduklah di sini," ujar Daniel dengan pengering rambut ditangannya.


"Emmm, aku bisa sendiri Niel. Aku juga sudah biasa seperti ini, tidak masalah kalau tidak dikeringkan juga." Mia tidak ingin terlalu dekat dengan Daniel, dia lebih ingin memilih untuk segera bersembunyi dalam selimut.


"Mulai sekarang, aku akan melakukannya untuk mu. Jangan menolak, belajarlah menerima ku sebagai suamimu mulai sekarang."


"Jadi duduklah," lanjut Daniel.


Mia menunduk pasrah dan mendudukkan dirinya di depan meja rias, dimana Daniel sudah siap dengan alat pengering rambut ditangannya. Mia berusaha menutupi bagian atasnya yang terbuka, dengan posisi dia yang duduk dan Daniel berdiri bisa sangat berbahaya.


Daniel mulai menyentuh rambut panjang Mia dan mengeringkannya. Untuk sesaat keduanya sama-sama diam tidak ada suara selain suara tiupan angin dari mesin itu.


Diam-diam Mia melihat wajah Daniel dari cermin. Laki-laki itu tampak lebih tampan dengan penampilan yang berantakan seperti itu. Rambut yang sudah tidak tertata rapi mungkin karena dia tiduran tadi, lalu dua kancing kemeja yang terlepas di bagian atas membuatnya tampak sek-si dengan da-da yang sedikit terlihat. Kemejanya juga sudah keluar dari celana, bagian lengan juga sudah ia gulung sampai ke siku.


Tapi kenapa Daniel malah kenapa terlihat semakin mempesona dan menggoda. Bukankah tidak adil? Sementara ada orang yang berdandan mati-matian agar terlihat keren tapi tidak bisa mengalahkan Daniel yang berantakan itu.

__ADS_1


Sssttt... Mia menggigit bibir bawahnya dan memejamkan matanya saat Daniel tak sengaja menyentuh daun telinganya. Dimana disitu adalah titik paling sen-sitifnya.


Sementara Daniel, dia sengaja hanya fokus menatap rambut Mia yang sedang ia keringkan. Tidak mau matanya kemana-mana, meski ia ingin sekali melihat pemandangan indah di depannya saat ini. Karena ia sadar kalau istrinya hanya menggunakan lingerie tipis di dalam kimononya. Atau dia tidak bisa menahan diri lagi.


"Sshh... " Hampir saja Mia mengeluarkan suara indahnya saat lagi-lagi jari tangan Daniel menyentuh daun telinganya yang lain. Ia gigit sekuat tenaga bibir bawahnya.


"Sudah," ujarnya Daniel seraya menyisir rambut Mia dengan jari tangannya. Ia akui kalau rambut istrinya begitu indah dan sehat. Entah bagaimana caranya wanita itu menjaga tubuhnya dari ujung kaki sampai ujung kepala.


"Terimakasih." Bibir Mia terasa sakit akibat perbuatannya sendiri yang menggigit nya terlalu kuat. Ia pun segera berdiri saat Daniel sedang menyimpan pengering ke dalam laci.


Tapi sungguh sial saat tangannya di cekal oleh laki-laki itu.


"Kenapa buru-buru sekali, apa hanya terimakasih saja tidak ada yang lain." Daniel melingkarkan tangannya di pinggang Mia dari belakang dan menaruh wajahnya di ceruk leher istrinya. Menghirup aroma sampo yang sangat harum, memanjakan indra penciumannya.


"Aku sudah berterimakasih tadi, kau mau apa lagi. Aku sungguh ingin istirahat Niel." Lagi-lagi Mia harus menggigit bibir bawahnya yang tadi sudah sakit saat bibir Daniel menyentuh lehernya. Rasanya sungguh aneh, sekujur tubuhnya terasa bergetar. "Niel, jangan seperti ini." Mia memohon, kenapa juga seluruh bagian tubuhnya mudah sekali bereaksi saat Daniel menyentuhnya.


Tubuh Mia mere-mang, dia menggeliat dalam pelukan Daniel. "Sshh... Nieell..." Masa bodoh dengan rasa malu, rasanya dirinya sudah tidak sanggup menahan de-sah-an indah itu.


"Apa kau menyukainya?"


"Berhentilah lah Niel, aahhh... apa yang kau lakukan." Terasa nyeri di lehernya, saat kulitnya di se-dot dengan kuat.


"Kau menggemaskan Mia, ingin aku memakanmu," ujar Daniel tersenyum menyeringai saat melihat hasil karyanya sendiri.


"Lepas Niel, kau sudah janji tidak akan menyentuh ku kalau aku belum siap." Mia berontak, sangat berbahaya kalau mereka terus menempel. Meski tubuhnya juga menginginkan lebih.


"Jangan sembarang bergerak, atau aku akan benar-benar memakanmu."

__ADS_1


Mia pun memaku mendengar perkataan Daniel, tidak berani lagi bergerak. Sementara pria itu semakin mengeratkan pelukannya dan kembali mendaratkan kecupan di leher dan punggung Mia yang terbuka karena ulah Daniel yang menurunkan. Otomatis bagian depan Mia pun terbuka, memperlihatkan tonjolan yang indah yang hanya berbalut lingerie tipis.


Keduanya semakin larut dan suasana pun memanas. Daniel semakin liar menja-mah leher Mia.


"Niel... shhh... cukup...," Mia masih berusaha sadar meski tubuhnya berkata lain.


"Kenapa sayang... bukankah kau menyukainya?"


Daniel menggigit daun telinga Mia. Membuat Mia ingin sekali mengeluarkan suara indahnya, yang akan membuat Daniel bersemangat mendengarnya, tapi ia tahan tak ingin pria itu berbuat lebih.


Tanpa aba-aba Daniel membalikkan tubuh Mia dengan mudah dan mereka berhadapan saat ini.


"Jangan ditahan, keluarkan saja." Bisik Daniel dengan suara yang terdengar sek-si.


Baru saja mau protes Daniel sudah lebih dulu membungkamnya dengan cium-aann dan terasa berbeda dari biasanya. Dia me-lu-mat bi-bir Mia kasar, menye-sap dan memainkan li-dahnya dengan li-ar. Mia sampai kewalahan mendapatkan serangan Daniel kali ini. Dia hanya bisa pasrah dan mengalungkan tangannya pada leher suaminya. Ya, tubuhnya sudah tidak bisa bohong lagi. Kalau pun harus terjadi saat ini dia tidak akan menolak.


Daniel terus mendorong tubuh Mia kebelakang hingga sampai di depan meja rias. Dengan satu gerakan dia berhasil mengangkat tubuh istrinya dan mendudukkannya di atas meja rias tanpa melepaskan cium-aann mereka. Suara kecapan dan de-sah-an tertahan pun memenuhi ruangan.


Daniel melepaskan pagutan mereka dan menempelkan keningnya di kening sang istri.


"Aku sudah berjanji tidak akan berbuat lebih, tapi kalau kau memakai pakaian seperti ini bagaimana aku bisa tahan. Apa kau sedang menggodaku.."


"A... aku bukan sengaja tapi terpaksa memakai ini. Kau lihat saja, di koperku hanya ada pakaian seperti ini dengan warna yang berbeda."


Nafas keduanya masih tersengal-sengal akibat cium-aann yang begitu brutal. Sedetik kemudian Daniel menyeringai dan kembali mengecup singkat bi-bir Mia yang masih basah. "Aku harus berterimakasih pada orang yang menyiapkan ini untuk kita."


to be continue...

__ADS_1


__ADS_2