Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
22. Daddy belum tau


__ADS_3

°°°


Saat mendengar mobil sang Daddy pulang, Daniel langsung berlari ke balkon kamarnya untuk melihat apakah daddy-nya sedang marah atau tidak.


Terlihat sang Daddy baru saja turun dari mobilnya dengan membawa sebuket bunga di tangannya, lalu tersenyum pada mommy Tania yang menyambutnya di depan.


"Sepertinya wajah Daddy biasa saja, tidak seperti orang yang sedang kesal atau marah. Apa mungkin wanita itu tidak mengatakan apa-apa pada Daddy," gumamnya.


"Aku harus memastikannya lagi, coba kalau bertemu denganku Daddy marah atau tidak. Ya kau harus menemui Daddy untuk memastikannya sendiri."


Daniel segera keluar dari kamarnya dan turun ke lantai satu untuk menemui daddy-nya. Pikirannya tidak akan tenang selama dia belum memastikan nya sendiri.


"Diminum tehnya Dad," ujar mommy Tania yang baru saja membuatkan teh untuk suaminya yang baru pulang. Lalu dia duduk di samping sang suami tercinta yang baru saja memberikannya satu buket bunga mawar merah.


"Apa kau menyukainya, sayang?" tanya Daddy Alex pada istrinya yang sedang menciumi bunga darinya.


"Lumayan, ternyata Daddy romantis juga." Padahal dalam hatinya, mommy Tania sangat senang mendapatkan kejutan manis seperti itu.


"Apa kau baru tau kalau suamimu ini romantis. Bukannya setiap malam juga aku romantis Mom," ujar Daddy Alex asal bicara.


"Jangan bicara seperti itu Dad, bagaimana kalau ada yang mendengarnya," protes mommy Tania yang pipinya sudah memerah.


"Tapi mommy jawab dulu, benarkan kalau aku romantis kalau malam. Sudah mom akui saja, mommy bahkan sampai merem melek menikmati nya." Laki-laki tua itu terkekeh geli mengingat bagaimana reaksi sang istri saat mereka sedang melakukan hubungan suami-istri. Daddy Alex memang selalu memperlakukan istrinya bak ratu saat di atas ranjang.


"Dad...," mommy Tania melotot tajam mendengar perkataan suaminya yang tidak tau tempat. Di rumah itu banyak sekali pembantu yang berlalu lalang bagaimana kalau mereka mendengarnya. Termasuk sang putra juga ada di rumah sekarang dan dari tadi mendengar perkataan absurd daddy-nya.


Dasar orang tua tidak punya malu, membicarakan hal seperti itu di ruang tamu. Daniel geleng-geleng kepala.


"Dad... jangan membicarakan hal seperti itu di sini," protes Daniel.


Sontak mommy Tania malu dan salah tingkah saat putranya ternyata mendengar apa yang suaminya bicarakan.


"Kenapa boy, kau juga sudah dewasa dan mengerti jadi Daddy tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi." Daddy Alex menyesap tehnya.


Sementara sang istri yang mendengar hal itu langsung mendaratkan pukulan yang cukup keras di punggung suaminya. Sampai pria itu tersedak minumannya sendiri.


Uhuukkk uhuukkk...

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan Mom, apa kau ingin jadi janda dengan membuatku mati tersedak," pekik Daddy Alex yang kemudian mengambil tissue untuk mengelap sekitar mulutnya yang basah terkena muncratan air teh.


"Iya aku ingin jadi janda dan menikah dengan brondong yang lebih punya malu." Mommy Tania terlihat kesal dan beranjak dari sana. Padahal susah payah sang suami membujuknya tadi tapi kini wanita itu kembali kesal.


"Mom tunggu... maafkan Daddy."


"Ya ampun... mereka seperti anak muda saja." Daniel kembali menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua orang tuanya.


"Aku jadi lupa mau bertanya pada Daddy." Daniel menepuk keningnya sendiri. "Tapi sepertinya Daddy sama sekali belum tau apa yang terjadi semalam. Wanita itu benar-benar tidak bicara apa-apa, tapi kenapa?" bermonolog sendiri.


,,,


Esok paginya.


Seperti biasa, Mia tengah mematuk dirinya di depan cermin. Melihat jejak-jejak percintaan di tubuhnya.


"Kenapa belum hilang juga, sebenarnya berapa hari ini bisa hilang," gerutunya.


"Kenapa juga dia harus membuatnya di leher, kan bisa di bagian lain."


"Astaga Mia, apa yang kau pikirkan barusan." Mia mencoba menghilangkan pikiran itu dari kepalanya.


Mia kenapa kau mau melakukan hal itu, padahal dulu saat Justin menciumku saja aku sudah ketakutan. Mia menonyor kepalanya sendiri.


Puas menyalahkan diri sendiri, Mia pun bergegas mengenakan pakaian dan terpaksa hari ini dia harus kembali memakai syal.


"Pagi Mah," sapa Mia pada mamahnya yang sedang menyiapkan sarapan.


"Pagi nak, apa kau masih kedinginan juga hari ini. Atau mungkin kamu sakit?" tanya mamah Emma.


Mia tersenyum kaku, sedikit senang karena sang mamah masih bisa mengingat kejadian tempo hari tapi Mia lebih senang kalau sang mamah lupa.


"Masih sedikit dingin Mah," tuturnya lemas.


"Apa kau sakit, itu semua pasti karena kau kelelahan bekerja terus menerus. Maafkan mamah yang menjadi beban untukmu." Wajah mamah Emma menjadi sendu.


"Maahh... jangan berpikir seperti itu. Aku sama sekali tidak pernah keberatan. Aku memang lebih senang bekerja dari pada hanya menghabiskan waktu di rumah." Mia selalu tak tega saat mamahnya menyalahkan diri sendiri.

__ADS_1


"Pagi semua...," sapa Felice dengan tersenyum lebar tanpa peduli suasana haru yang menyelimuti mamah dan kakaknya.


"Kenapa kalian menatapku seperti itu, apa ada yang salah dengan wajahku?" tanya Felice kemudian dia bercermin dengan ponselnya, melihat apakah wajahnya ada yang salah.


Mamah Emma dan Mia menatap jengah pada gadis itu. Mereka pun memakan sarapannya.


"Nanti siang aku akan ijin untuk menemani mamah menemui dokter," ujar Mia.


"Tidak perlu nak, kau pasti sibuk. Akan melelahkan kalau kau harus pulang dan pergi lagi ke rumah sakit," larang mamah Emma yang merasa tidak enak pada putrinya.


"Aku sudah memutuskan Mah, aku juga ingin segera mengetahui bagaimana keterangan dokter. Aku sama sekali tidak lelah, justru aku sangat bersemangat," tutur Mia.


"Apa kalian tidak menganggap ku ada sejak tadi? Ada aku yang akan menemani mamah, jadi kakak tidak perlu ijin nanti." Felice bersuara.


"Aku tidak percaya padamu, lebih baik aku pergi sendiri dan mendengar langsung apa yang dokter katakan," cibir Mia yang tidak mungkin mempercayai adiknya yang tidak bisa serius.


"Huhh... terserah kakak saja. Padahal aku sudah berniat baik tapi kalian sama sekali tidak menghargai niat baikku," koar Felice.


"Sudah-sudah jangan berdebat lagi, mamah akan sangat senang kalau kalian bisa sama-sama menemani mamah ke rumah sakit." ujar mamah Emma.


"Tidak!!" jawab kakak beradik itu bersamaan.


"Kak Mia saja yang pergi dengan mamah, kalau aku ikut kalian tidak akan memperdulikan ku." Felice acuh dan kembali menyantap sarapan nya. Sebenarnya dia ingin ikut tapi akan ada kuis yang akan mendapatkan nilai dari dosen nanti. Kalau memang tadi kakaknya tidak bisa mengantar barulah dia yang akan menemani mamahnya.


"Aku berangkat Mah," pamit Mia seraya mengenakan sepatu hak tingginya.


"Hati-hati sayang." Mamah Emma mengantarkan putrinya sampai ke depan pintu dan menunggu hingga pintu lift terbuka.


Kau jadi harus bekerja keras seperti ini nak. Maafkan mamah dan juga maafkan papahmu yang tidak bertanggungjawab pada keluarga.


to be continue...


°°°


Kamu kuat Mia. semangat 💪💪


Like komen dan bintang lima 😍

__ADS_1


Gomawo ❤️❤️


__ADS_2