Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
92. Masih Berlanjut


__ADS_3

°°°


Lain di kamar, lain juga di lantai bawah di ruang rias dan ganti.


Semua orang sudah bersiap untuk pesta selanjutnya, pesta dansa untuk menyambut para tamu undangan. Acaranya santai dan tidak sekaku tadi siang. Agar semua keluarga bisa lebih dekat dan sekaligus para pengusaha juga bisa berbincang santai.


"Nyonya, dimana pengantin wanita nya? kenapa belum datang bukannya masih ada acara lagi nanti." Ya mereka laki-laki gemulai yang tadi merias Mia. Tugasnya belum selesai karena masih ada pesta lagi.


"Sejak tadi aku tidak melihat Daniel dan Mia. Kemana mereka, apa jeng Emma melihat mereka?" tanya mom Tania.


"Saya juga tidak melihat mereka sejak tadi," jawab mamah Emma yang sama-sama bingung juga.


"Apa mereka tidak datang ke kamar jeng Emma?"


Mamah Emma menggeleng, "Sejak tadi saya di kamar hanya berdua dengan Lucy."


Lucy pun mengangguk mengiyakan perkataan mamah Emma.


"Lalu kemana perginya mereka, aku coba tanyakan pada suamiku." Mom Tania mengotak-atik ponselnya untuk menelepon suamiku.


"Iya Bu, saya juga akan tanyakan pada Felice. Siapa tau dia tau kemana kakaknya pergi." Mamah Emma juga melakukan hal yang sama.


Belum juga mamah Emma menelepon Felice, dia tiba-tiba masuk ke ruangan itu.


"Fel, kau dari mana saja?"


"Aku baru mengantar teman-temanku ke depan Mah. Ada apa? Kenapa mamah dan Mommy kelihatannya sedang mencemaskan sesuatu?" Felice bisa melihat dari raut wajah mereka.


"Sayang, apa kau melihat kakak dan kakak ipar mu? Mereka belum datang juga untuk bersiap, mommy takut mereka kabur." Mom Tania yang bertanya.


"Kakak belum kesini?" Berbeda dengan kedua ibu yang tadi khawatir, Felice justru senang mendengar hal itu. Mungkinkah rencananya berhasil, mungkinkah saat ini mereka sedang...?


"Fel, kenapa kamu malah senyum-senyum sendiri. Kamu belum menjawab pertanyaan Bu Tania," ujar mamah Emma.

__ADS_1


Felice tersenyum memamerkan deretan giginya lalu duduk di sofa yang ada di sana. "Kalian tenang saja, tidak perlu khawatir lagi pada mereka. Bukankah acaranya masih lama, Iya kan Mon?" tanya Felice pada pria gemulai yang lebih suka dipanggil Mona.


"Masih ada waktu satu jam lagi Non," jawabnya dengan gaya lenjehnya.


"Kan masih lama, lebih baik kita jangan mengganggu mereka saat ini. Nanti aku yang akan memanggil mereka kalau sudah waktunya."


"Jadi kamu tau dimana mereka sekarang, kenapa kau tidak memanggil mereka sekarang saja nak. Mungkin juga mereka belum makan apa-apa sejak tadi." Mom Tania masih saja cemas.


"Tenang saja Mom, mereka sudah dewasa. Kalau lapar pasti makan sendiri. Lebih baik kita makan duluan saja, biar aku pesankan makanan." Felice baru mau mengambil gagang telepon hotel yang disediakan di sana.


"Nak, kau yakin mereka baik-baik saja. Jangan membuat kami cemas," lirih mamah Emma. Dia bis melihat besannya juga sangat khawatir apalagi mendengar jawaban ambigu dari Felice.


Felice memandang semua orang yang memandang nya menunggu jawaban. Sepertinya dia harus mengatakan apa yang terjadi pada mereka.


"Baiklah, kalian tidak perlu cemas kalau kalian memang ingin segera menimang cucu. Apa sampai sini paham, atau aku harus menjelaskan lagi apa yang mereka lakukan?" Felice melirik mereka.


"Jadi mereka... bilang dong dari tadi sayang. Kalau begitu tidak usah mengganggu mereka. Ayo... ayo kita makan saja jeng." Secepat kilat mom Tania sudah kembali bersemangat.


"Nanti Mom, ini aku saja baru mau pesan makanan," ujar Felice yang masih memegang gagang telepon. Mom Tania dan semua orang pun tertawa bersama.


,,,


Sementara di dalam kamar. Di ruangan yang bersuhu rendah.


Namun tidak membuat kedua pasangan itu kedinginan, justru peluh keringat terus membanjiri tubuh mereka. Hawa panas semakin terasa seiring dengan kegiatan pergumulan mereka di atas ranjang.


Mia terkulai lemas setelah sesuatu membanjiri kain segitiga nya. Dia baru pernah merasakan yang seperti itu, entah dulu bagaimana saat melakukan pertama kali dalam keadaan mabuk. Dia tak bisa mengingat detail kejadiannya. Tapi saat ini dia benar-benar sadar, rasanya tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Terlalu dasyat.


"Kau senang? Bagaimana rasanya?" Daniel puas saat melihat istrinya mendapatkan pelepasan karena permainannya.


Dipandanginya wajah cantik yang semakin mempesona saat wajahnya memerah.


"Niel... kau jahat, apa yang kau lakukan pada tubuh ku?" protes Mia dengan tubuh yang terasa sangat lemas. Ia sungguh malu.

__ADS_1


"Apa kau menyukainya, tapi itu belum seberapa. Masih banyak hal yang bisa kita lakukan."


"Tidak, aku tidak mau lagi." Sungut Mia, dia yang masih dalam kungkungan Daniel berusaha untuk menyingkirkan tubuh suaminya dari atas tubuhnya.


"Tapi kau menikmatinya, apa kau mau mengelak lagi. Apa aku perlu perlihatkan buktinya, sesuatu yang sudah pasti sangat basah itu."


Mia membulatkan matanya mendengar perkataan Daniel yang terlampau vul-gar di telinga nya. "Kenapa kau jadi mesum begini, tuan dokter Daniel Starles." Mia sengaja menyebutkan nama suami dengan statusnya. Agar pria itu bisa kembali seperti semula, pikirnya.


"Itu karena aku suamimu sekarang, kalau tidak padamu aku harus me-sum pada siapa lagi," jawab Daniel dengan mudah.


"Ish... dasar! Sudahlah aku mau mandi lagi. Tolong kau menyingkir dari tubuhku Tuan."


Cup


"Ini hukuman karena kau memanggilku Tuan." Menyeringai.


"Iya iya maaf, sekarang bisakah kau menyingkir. Please Niel, aku takut kalau semua orang sedang mencari kita." Entah dengan alasan apa lagi agar pria itu mau menyudahi kegiatan pa-nas itu.


"Tidak akan ada yang mencari kalau sepasang pengantin baru menghilang. Mereka pasti sudah bisa menebak apa yang kita lakukan."


"Maksud mu, mereka tau kalau kita sedang..." Mia tak jadi meneruskan ucapannya.


"Sedang apa? Apa begini." Daniel mengecup bibir istrinya, "Atau seperti ini." Kali ini tangannya mer-emas da-da Mia yang masih terekspos nyata. "Atau seperti ini?" Kali ini tangannya membelai daging berlipat milik Mia yang Masih berbalut celana da-lam.


"Niel...!!" Tubuh Mia kembali menegang dan bergetar saat tangan Daniel memainkan titik sen-sitifnya lagi. Bahkan kali ini yang di bagian bawah juga. Seketika has-ratnya kembali meninggi.


Daniel kembali men-cumbu setiap lekuk tubuh Mia bagain atas dan seperti tadi, dia sangat suka berlama-lama di area yang empuk dan mempunyai pu-c-uk yang bisa ia hisap sampai puas.


De-sah-an dari mulut Mia sudah kembali terdengar. Merasakan sapuan lidah Daniel di setiap inci tubuhnya.


Kini Daniel sudah semakin turun menciumi area perut rata Mia. Tak lupa memberikan jejak juga di sana. Perlahan lidahnya bergerak turun, turun dan turun.


Tok tok tok

__ADS_1


to be continue...


°°°


__ADS_2