Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
162. Mimpi Atau Nyata


__ADS_3

°°°


Benar saja, hampir tengah malam. Daniel dan dad Alex baru saja sampai di depan rumah. Mereka pulang menggunakan satu mobil.


"Dad, istri ku belum tau kan tentang kepulangan kita?" tanya Daniel.


"Iya, sesuai permintaan mu. Lihatlah kalau dia tau pasti ikut menyambut kedatangan kita bersama mereka," ujar dad Alex melihat istrinya dan besan beserta Felice menunggu kedatangan mereka.


Mereka pun turun. Kepulangan mereka sudah ditunggu oleh orang rumah.


"Putraku..." Lirih mom Tania, lalu menghampiri putranya dan memeluk sang putra dengan penuh kasih. Dia benar-benar bersyukur karena diberi kesempatan lagi untuk bertemu putranya.


"Mom... maafkan Daniel karena sudah membuat mommy dan yang lain cemas."


"Mommy sangat takut kehilanganmu, Niel. Untunglah kamu kembali, lain kali tidak akan mommy biarkan kamu pergi ke tempat yang berbahaya."


Cukup lama mereka saling berpelukan. Mamah Emma dan Felice pun ikut senang dan lega melihat Daniel kembali.


"Sudah Mom, biarkan putramu menemui istrinya. Apa kau tidak merindukan suami mu ini." Dad Alex iri karena sang istri tidak memperdulikan keberadaan nya.


"Sebentar Dad, aku masih merindukan putraku."


,,,


Akhirnya Daniel bisa terlepas juga dari mom Tania yang terus menahannya untuk pergi. Dia juga sudah menyapa mamah Emma dan adik iparnya. Saat ini dia sudah berada di kamar.


Akhirnya aku kembali ke kamar ini juga.


Diletakkannya koper yang tadi dia angkat dari bawah karena tidak ingin istrinya mendengar suara gesekan roda koper dan bangun. Untunglah barang bawaannya tidak terlalu banyak dan sebagian juga hilang di tempat itu.


Daniel mendekat ke arah ranjang, dimana sang istri tertidur lelap di sana.


"Sayang, aku pulang...," lirihnya. "Terimakasih sudah menunggu ku dan maaf karena sudah banyak membuat mu menangis." Daniel mengecup kening istrinya lembut dan lama.


Rasanya ia begitu rindu, sudah lama juga mereka tidak komunikasi. Ingin rasanya dia mendekap erat sang istri, menumpahkan segala kerinduan yang memenuhi da-danya.

__ADS_1


Setelah puas memandangi wajah sang istri, Daniel memutuskan membersihkan tubuhnya lebih dulu sebelum ikut berbaring di atas ranjang.


"Niel... "


Daniel baru saja keluar dari kamar mandi, samar-samar dia mendengar Mia memanggil namanya.


Dia pun segera mendekat, dilihatnya wajah tidur sang istri yang kini terlihat begitu cemas dan takut. sambil memanggil namanya.


"Oh sayang, aku disini...," Daniel merasakan betapa sang istri mencemaskan nya.


Didekapnya tubuh istrinya, "Tenanglah sayang, aku sudah pulang. Jangan cemas lagi."


Mendengar suara suaminya, Mia pun sedikit membuka matanya. Dilihatnya sang suami saat ini ada dihadapannya, sedang menciumi tangan nya. Entah itu mimpi atau nyata pikirnya.


"Niel, kau kah itu?"


"Iya sayang, ini aku suamimu."


Tangis Mia langsung pecah mendengar suara suaminya, pikirnya mungkin itu hanya bayangan saja seperti yang sudah-sudah.


Mia langsung menghambur ke pelukan suaminya, entah itu bayangan atau apa, yang penting dia ingin merasakan dekapan suaminya saat ini. Untuk mengobati rasa rindu nya. "Jangan pergi Niel... hiks..." Mia terisak, tubuhnya bergetar. Entah sampai kapan dia tersiksa karena suaminya tidak kunjung kembali.


"Aku tidak akan pergi lagi, sayang. Jangan menangis...."


"Terimakasih, setidaknya walau hanya lewat mimpi seperti ini. Tolong datang lah setiap malam agar aku bisa memeluk mu seperti ini."


Daniel pun melepaskan pelukannya, dilihatnya wajah sang istri yang berderai air mata. Wanita itu sampai mengira kalau dirinya hanya mimpi.


"Kenapa aku harus datang setiap malam?" tanya Daniel.


"Karena aku merindukanmu... apalagi...hiks."


Daniel tersenyum mendengar nya. "Apa kau begitu sedih saat aku tidak ada?"


Mia mengangguk.

__ADS_1


"Kenapa? Bukannya kau tidak mencintai ku?"


"Itu dulu, sekarang aku mencintaimu Niel. Aku baru menyadari saat kau sudah pergi, aku ingin mengatakannya kalau kau sudah kembali tapi kau tidak juga kembali... hiks."


Mendengar hal itu Daniel kembali memeluk tubuh istrinya. Dia baru saja mendengar wanita yang ia cintai menyatakan perasaannya yang selama ini ia tunggu. Dikecupnya kening sang istri berulang kali.


"Aku juga sangat mencintai mu, Mia."


Hingga pagi menyapa. Sinar matahari pun masuk melalui celah kamar. Tubuh Mia menggeliat, tidurnya tadi malam terasa begitu nyenyak. Setelah kepergian suaminya tidak pernah dia merasakan tidur senyaman semalam.


Perlahan Mia membuka matanya, dia tersenyum tak kala melihat bayangan suaminya yang semalam ia temui masih ada di hadapannya.


Apa aku masih bermimpi? Pikir Mia.


Disentuhnya wajah tampan yang ia pikir hanya mimpi itu. Ia kembali tersenyum saat bisa menyentuh wajah itu.


Sampai Daniel pun membuka matanya karena merasakan ada yang menyentuh nya. Dilihatnya sang istri yang sedang me-ra-ba ra-ba wajah, rahang dan da-danya yang terbuka.


"Pagi sayang...," ujar Daniel.


"Pagi...," sahut Mia sambil terus menyentuh bagian-bagian tubuh suaminya yang masih ia pikir kalau itu hanya mimpi.


Apa dia masih berpikir kalau aku ini tidak nyata. Melihat dari gelagat sang istri Daniel pun berpikir seperti itu.


Cup, Daniel mencium bibir istrinya dan me-lu-mat sebentar.


"Kau belum memberikan ciuman selamat pagi."


Mia tertegun, disentuhnya bibir nya yang baru saja mendapatkan ciuman selamat pagi. Anehnya kenapa lu-ma-tan itu terasanya nyata, mimpinya aneh sekali.


Daniel yang gemas melihat reaksi istrinya yang kebingungan pun kembali menempelkan bibirnya, menye-sap, me-lu-mat dan mulai memainkan li-dahnya, menyapu rongga mulut istrinya. Mia pun mulai menikmatinya, entah itu nyata atau tidak yang penting dia sungguh merindukan saat-saat in-ti-m seperti itu bersama suaminya.


Tiba-tiba mata membulat saat merasakan tangan Daniel me-re-mas da-danya. Didorongnya tubuh sang suami agar melepaskan ciumannya.


"Niel... Kau nyata??"

__ADS_1


__ADS_2