
°°°
Di kantor Star company.
Daddy Alex sedang berbicara lewat telepon dengan orang suruhannya.
"Bagaimana, apa kau sudah mendapatkan apa yang aku mau?"
"Bagus... segera kau kirimkan rekamannya padaku sekarang juga!" titahnya.
Seketika rahangnya mengeras, raut wajahnya berubah menahan amarah saat melihat rekaman yang baru saja ia terima.
Bagaimana anak itu bisa melakukan hal itu lalu menyembunyikannya dari ku.
Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus menyuruh anak itu untuk bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan.
Ternyata Daddy Alex baru saja melihat rekaman sang putra dan sekretaris nya yang sedang memasuki hotel dalam keadaan mabuk. Walaupun tidak ada cctv di dalam kamar tapi dia bisa menebak apa yang terjadi malam itu dari rekaman yang menampilkan saat mereka keluar dari kamar itu esok paginya. Lalu kecurigaan nya bertambah saat melihat sekretarisnya tampak menangis saat keluar dari kamar itu.
Aku harus minta penjelasan dari mereka. Biar bagaimanapun ini masalah serius. Aku tau betul siapa Mia, dia adalah wanita baik-baik yang bekerja keras demi keluarganya.
Daddy Alex sangat mengenal Mia karena sekretaris nya itu sudah bekerja kurang lebih sepuluh tahun padanya. Bagaimana saat Mia berjuang keras selalu meminta lembur demi uang tambahan untuk biaya pengobatan ibunya dan biaya kuliah adiknya.
Sampai suatu saat Daddy Alex yang tidak tega akhirnya menaikkan gajinya dan diam-diam memberinya bonus tapi melalui kantor agar Mia mau menerimanya.
Awas saja kalau bocah itu tidak mau bertanggung jawab.
,,,
Sementara di meja kerjanya.
Mia berkali-kali memijat pelipisnya. Sejak kemarin rasa pusing di kepalanya bukannya hilang tapi malah bertambah.
"Mia kamu kenapa, wajah kamu pucat." Catty yang baru saja datang menghampiri temannya terlihat khawatir.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, mungkin karena kurang istirahat. Nanti juga sembuh sendiri," ujar Mia.
"Kamu jangan menggampangkan sesuatu Mia. Kamu tidak belajar dari mamah kamu yang selama ini menggampangkan apa yang ia rasakan," cecar Catty tapi apa yang dikatakan memang benar. Kalau saja dulu mamahnya bilang pasti tidak akan seperti ini.
"Iya, aku tau. Kamu ada apa kesini?" tanya Mia.
"Ini, yang kemarin. Aku sudah memasukan datanya tapi kamu cek lagi, takut ada yang salah." Catty menyerahkan pekerjaan Mia yang kemarin wanita itu tinggalkan dan karena dia senggang kemarin jadi dia membantu temannya untuk menyelesaikan pekerjaan nya. Untunglah hanya tinggal memasukkan data kedalam flashdisk jadilah Catty bisa melakukannya.
"Ya ampun, terimakasih temanku yang cantik dan baik hati," ujar Mia seraya menerima apa yang temannya berikan dengan wajah berbinar.
"Iya iya, aku memang baik hati dan juga cantik. Oh iya bagaimana keadaan mamah kamu, apa beliau sudah lebih baik sekarang. Kenapa kamu berangkat, apa ada yang menemaninya?" tanya Catty dengan banyak pertanyaan.
"Dia sudah lebih baik sekarang, untung saja kemarin bisa dibawa ke rumah sakit tepat waktu. Dia selalu begitu, menyembunyikan apa yang dia rasakan. Kalau saja dia selalu bilang pada ku atau Felice pasti tidak akan seperti ini."
Mia selalu saja menyalahkan diri sendiri karena tidak merasa kurang waktu untuk mereka.
"Wajar saja Mia. Sebagai orang tua beliau pasti tidak ingin membuat anaknya khawatir makanya lebih memilih untuk diam. Seperti ayah ku dulu yang pada akhirnya nyawanya sudah tidak tertolong lagi." Sebagai anak yang juga pernah kehilangan salah satu orangtuanya, Catty paham apa yang dirasakan temannya.
"Maaf ya, kamu jadi ingat pada mendiang ayahmu." Mia merasa sangat bersalah, biar bagaimanapun dia tau bagaimana kedekatan temannya dengan sang ayah yang telah tiada. Mungkin bisa dikatakan seperti dirinya dan mamahnya saat ini. Bedanya kedua orang tua Catty sama-sama menyayangi putrinya, tidak seperti ayah Mia yang seperti bajii ngaan.
"Ide bagus, aku juga sudah rindu dengan Kenan. Sepertinya sudah lama aku tidak bermain dengannya." Biasanya Mia memang akan membawa putra temannya itu untuk bermain di apartemennya karena mamah Emma sangat menyukai anak kecil.
"Kau baru sadar, dia sudah merengek minta bertemu dengan kalian tapi aku coba alihkan dengan yang lain," ujar Catty yang selalu pusing saat mendengar rengekan putranya yang baru berusia Empat tahun.
"Maaf maaf, aku terlalu sibuk akhir-akhir ini. Nanti aku belikan dia mainan agar tidak marah padaku, eh tapi pasti menggemaskan sekali kalau dia kesal," celetuk Mia dengan membayangkan wajah putra temannya yang tampan dan menggemaskan.
"Iya lah, siapa dulu ibunya." Catty membanggakan diri.
"Ishh...." Mia memutar bola matanya jengah mendengar temannya memuji dirinya sendiri.
"Putramu itu mirip ayahnya, sama sekali tidak ada mirip-mirip nya denganmu," cibir Mia.
"Tidak bisakah aku membanggakan diri, huhh padahal aku yang mengandungnya selama sembilan bulan tapi kenapa dia seperti fotocopy an papahnya." Mia merengut kesal setiap kali putranya dipuji tapi dia sama sekali tidak mendapatkan pujian itu.
__ADS_1
"Sudah sana kembali ke meja mu, jangan sampai ada yang iri melihat kita bisa mengobrol di jam kerja." Mia pun mengusir temannya agar dia kembali kemeja nya.
"Baiklah." Catty pun pasrah.
Setelah temannya pergi Mia kembali menatap layar komputernya dan kepalanya pun kembali berdenyut saat matanya terkena cahaya komputer yang menyilaukan.
Sepertinya memang ia butuh mengistirahatkan otaknya agar tidak terlalu tersortir.
Mia pun bangkit menuju pantry untuk membuat kopi. Dalam sehari Mia memang bisa berulangkali meminum kopi, mungkin karena tuntutan kerja membuatnya harus tetap terlihat segar dan tidak mengantuk.
Baru saja Mia akan menikmati kopinya seseorang datang mencarinya.
"Mia... aku dari tadi ternyata ada disini," ujar Catty dengan nafas yang tersengal-sengal seperti habis berlari-lari.
"Ada apa, kenapa kamu terlihat panik begitu?" Mia menyesap kopi instan yang baru saja ia seduh.
"Kamu dicariin taun Alex, katanya kamu harus segera ke ruangannya. Ada sesuatu yang penting katanya. Tadi dia berulang kali menelpon jadi aku mengangkatnya karena kamu tidak ada," terang Catty sembari mengatur nafas.
"Tuan Alex mencari ku? Ada apa? Apa tentang pekerjaan?" Sepertinya Mia merasa sudah menyerahkan semua berkas yang harus sang CEO tanda tangani hari ini.
"Sudah, jangan banyak tanya. Cepat kau ke ruangannya. Jangan sampai CEO kita menunggu." Catty mendorong tubuh temannya agar segera pergi, tidak lupa dia menyambar kopi yang ada di tangan Mia untuk membasahi tenggorokannya. "Thanks kopinya," teriaknya.
Mia menghela nafas saat kopi buatannya sudah ditenggak habis oleh temannya. Untunglah sekarang dia sudah tidak mengantuk karena mendengar atasannya memanggil.
to be continue...
°°°
Jeng jeng jeng jeng... lagi...??
Besok lagi ya... dadaaah....🤗🤗🤗
Like komen dan bintang lima 😍
__ADS_1
Gomawo.❤️❤️