Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
S2 Bab 52. Emosi Memuncak


__ADS_3

Brak!!


"Lepaskan dia!!"


Seorang laki-laki yang sedang berusaha mengoyak pakaian wanita pun langsung menoleh ke arah pintu.


"Sialan!! siapa kau berani mengganggu kesenangan ku!" Pria yang hanya menggunakan celana pendek itu mendekat.


Di ruangan yang minim cahaya, kedatangan Daren memang tidak terlihat begitu jelas wajahnya oleh pria itu. Apalagi pria itu setengah mabuk.


"Apa kau tidak tau siapa aku? Kalian berani menggangguku, apa kalian sudah bosan hidup!?"


Bugg!! Satu tendangan langsung membuat pria brengseek itu tersungkur. Pria itu kesakitan memegangi perutnya.


"Aaaa... kau! Aku tidak akan melepaskanmu, anak buah ku akan menghadapi kalian."


"Ck... kau pikir apa gunanya anak buah tidak berguna itu. Apa kau pikir aku takut dengan mu, sebaliknya kau pikirkan saja bagaimana nasib perusahaan mu. Karena akan aku pastikan kalau Calvin pasti akan memutuskan semua kontrak kerjasama dengan perusahaan milikmu."


"Cepat bereskan dia. Jangan sampai aku melihat wajahnya lagi!" Titah Daren pada anak buahnya.


"Si--siapa kau sebenarnya, apa maksudnya? Apa hubungannya dengan kerjasama perusahaan ku dengan tuan Calvin." Laki-laki itu tentu saja ketakutan. Apa jadinya kalau semua kerjasama gagal, bukan hanya rugi tapi perusahaan miliknya bisa langsung bangkrut saat itu juga.


"Karena kau sudah berani berbuat menjijikkan di pesta yang Calvin buat. Kau masih bertanya kenapa hah!!" Ingin sekali Daren memukuli pria itu.


"Tidak tuan, ini tidak seperti yang anda lihat. Wanita itu kekasih ku dan kami saling mencintai. Wajar bukan kalau sepasang kekasih menghabiskan waktu berdua di dalam kamar. Hahaha... kau salah paham tuan..."


"Benar kan tuan, saya berhak melakukan apapun pada kekasihku."

__ADS_1


Bug bug bug. Entah sudah berapa kali Daren akhirnya melampiaskan kemarahannya pada pria itu hingga wajahnya babak belur dan terluka dimana-mana. Daren terus saja memukulkan Bogeman tangannya membabi buta.


"Kau pria seperti binatang!! Masih berani menganggap nya kekasih. Kalian yang sudah menjebaknya, apa kalian kira aku tidak tau rencana kalian. Semua perbuatan busukmu akan aku bocorkan ke publik."


Bug bug bug!


"Tuan anda bisa membunuhnya," Ujar salah satu anak buahnya cemas kalau masalah jadi panjang kalau sampai pria itu mati.


Daren menghempaskan tubuh pria itu dan menginjak lengannya hingga patah.


Krek!!


"Aaaa...... tidak tanganku.... aaa..." Pria itu hanya bisa berteriak kesakitan. Memohon ampun pun percuma. Daren seperti orang kesetanan, sangat menyeramkan saat marah.


"Bawa dia pergi dari sini!" Daren menjambak rambutnya sendiri. Entah kenapa dia bisa sampai semarah itu.


Daren mendengar suara minta tolong yang begitu lirih. Dia mencarinya dan sepertinya suara itu berasal dari ranjang. Dia hampir lupa dengan wanita itu.


"Shiiittt... dimana wanita itu." Daren pun berlari ke arah ranjang.


"To--tolong... saya tuan..."


Daren langsung memalingkan wajahnya saat sampai di dekat ranjang. Dia melihat seorang wanita dengan pakaian yang sudah berantakan. Tapi tidak melihat wajahnya dengan jelas karena minimnya cahaya dan rambut wanita itu yang sudah berantakan menutupi wajahnya.


"Tu--tuan tolong saya. Ini sangat panas..."


"Shiiittt, pria itu sudah memberinya obat perangsang. Aku akan menelpon rumah sakit agar mengirimkan penawarnya." Daren bergegas menelepon rumah sakit, tapi sayangnya di rumah sakit sedang kehabisan stok obat itu.

__ADS_1


"Sial... bagaimana bisa kalian kehabisan stok. Apa penggunaan obat itu begitu banyak di negeri ini. Aku tidak mau tau, kalian harus Carikan sekarang juga dan kirim ke hotel Xx."


Shiiittt!!! bagaimana ini, apa aku biarkan saja wanita ini disini.


"Tuan, apa ada perintah lagi untuk kami?" tanya salah satu anak buahnya.


"Tidak tidak, kalian bisa pergi."


"Bagaimana dengan wanita itu, dia bisa celaka kalau tidak segera ditangani tuan."


"Hai! aku tau, aku ini dokter. Seseorang sedang mencarikan penawaran nya." Daren juga sedang bingung bagaimana caranya menyelamatkan wanita itu.


"Kalau begitu saya kami permisi tuan." Para anak buah itu pun pergi setelah pekerjaan mereka selesai.


"Aaa.... panas... kenapa panas sekali... aahhh..." Lucy berusaha melepaskan pakaiannya tapi tubuhnya begitu lemas dan aneh dirasanya.


Kenapa dengan tubuh ku, panas sekali. Hauss... minum dingin dimana ada minum dingin...


Tubuh Lucyy meliuk-liuk di atas ranjang, dia merasa aneh, dia ingin disentuh. "Tolong... " Dia berusaha bangun dengan susah payah dan berjalan ke arah pintu keluar.


Klek. "Kenapa terkunci... siapapun di luar. Tolong aku... tolong... disini sangat panas..."


Lucy terus menggedor-gedor pintu karena memang tadi Daren sudah keluar dari sana dan menunggu di luar. Dia sendiri tidak tau apa yang harus ia lakukan, selain dengan obat ada cara lain agar wanita itu selamat tapi dia tidak mungkin melakukan hal itu.


"Shiiittt... kenapa lagi wanita itu. Tunggulah sebentar, sampai obatmu datang."


Tapi Lucy yang sudah mulai tidak bisa mengontrol dirinya pun terus berusaha membuka pintu.

__ADS_1


__ADS_2