
"Terimakasih senior, sepertinya hari ini aku banyak merepotkan mu," ujar Felice saat mobil yang mereka tumpangi sampai di depan rumah.
"Tidak perlu merasa sungkan, sudah kewajiban ku karena kau terluka saat sedang bekerja. Sebagai atasan tentu sudah seharusnya aku merawat mu." Apa dia bodoh, kenapa juga harus berkata seperti itu. Menunjukkan kalau perlakuannya pada gadis itu bukanlah hal yang spesial.
Benarkan, baru saja Felice mengira kalau apa yang Calvin lakukan itu berbeda padanya tapi dia jadi berpikir kalau pria itu juga akan melakukan hal yang sama pada orang lain. Itu semua hanya karena rasa kemanusiaan tidak lebih begitu?
"Sekali lagi terimakasih, kalau begitu aku turun dulu." Felice melepaskan seat belt nya dengan wajah kecewa. Tapi kenapa juga dia harus kecewa. "Jas ini akan ku cuci, besok aku kembalikan," ujar Felice sebelum akhirnya keluar dari mobil.
"Ehh tidak perlu terburu-buru-" ujar Calvin tapi gadis itu sudah lebih dulu menjauh dar mobilnya. "Kenapa lagi dengannya, raut wajahnya berubah secepat itu." Dilihatnya rumah mewah itu dari luar gerbang, rumahnya putra pemilik perusahaan star company tentu saja tidak boleh biasa. Dia jadi teringat dulu saat ayahnya masih hidup dan masa berjaya, meski tidak tinggal di rumah yang sebesar itu tapi hidup mereka terasa sangat bahagia dan lengkap.
Setelah memastikan Felice masuk ke dalam rumah, Calvin pun menyalakan mobilnya dan pergi dari sana.
,,,
Felice baru saja menutup pintu rumah dan mengintip dari jendela, ternyata pria itu baru pergi dari sana. Apa mungkin pria itu menunggunya masuk rumah. Tidak Felice kau tidak boleh terlalu percaya diri seperti itu, mungkin saja memang sikap pria itu sama kepada semua wanita.
__ADS_1
"Sedang lihat apa nona?" tanya Lucy tiba-tiba saja dia sudah ada di belakang Felice dan ikut melihat apa yang dia lihat.
"Ya ampun... kau mengagetkan ku saja!" Felice memegangi da-danya yang merasa terkejut.
"Apa mobil itu yang mengantarkan nona barusan? Apa dia pacar baru nona?" tanya Lucy sambil tersenyum menggoda.
"Kau itu bicara apa, dia itu atasanku." Felice berlalu dari sana, lebih baik menghindari Lucy yang pasti banyak pertanyaan.
"Apa atasan nona itu tampan? Apa dia sudah menikah?" tanya Lucy sambil mengikuti Felice menuju kamarnya.
Lucy senyum-senyum sendiri, dia mana berani tertarik pada pria kaya. Bermimpi saja tidak, sadar diri dia ini siapa. Hanya pengasuh yang setara dengan pelayan kerjaannya, janda beranak satu pula, mana ada yang mau dengannya. Apalagi putranya menderita penyakit langka sejak lahir, yang harus mengeluarkan banyak biaya kalau mau sembuh. Karena itulah dia masih bekerja di rumah itu, meski mamah Emma sudah bisa beraktivitas seperti biasa. Felice lah yang meminta agar Lucy tetap bekerja di rumah ini.
"Mana mungkin aku berani menyukai laki-laki kaya nona, aku hanya merasa kalau dia cocok untuk nona mungkin."
Felice melipat ke dua tangannya di depan da-da, matanya menyipit. Dia tidak suka kalau Lucy merendah seperti itu. "Lucy, kenapa kau bicara seperti itu lagi. Sudah aku bilang kalau suatu saat nanti pasti pangeranmu akan datang. Pria yang akan mencintaimu apa adanya dan juga mau menerima putramu."
__ADS_1
"Apa kau sudah benar-benar bosan menjada, Lucy?" tanya Felice menggoda Lucy.
"Nona ini ada-ada saja, tentu tidak. Hidupku malah terasa lebih damai hidup sendiri untuk putraku. Hanya saja d saat-saat tertentu aku pasti butuh seseorang yang mau berbagi pundaknya untukku bersandar. Terutama saat memikirkan putraku yang tak kunjung sembuh."
"Apa kau lupa ada aku, dan kami semua yang sudah menganggapmu keluarga. Kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk bercerita. Mengerti?" Felice memeluk Lucy dan mengusap punggung wanita itu yang bergetar terisak pilu setiap kali menceritakan putranya. Mereka tentu sudah mencoba bertanya pada Daniel mengenai penyakit bawaan lahir yang di derita bocah tidak bersalah itu. Namun sayangnya tidak ada obat untuk menyembuhkan, ada opsi operasi tapi ada hal-hal yang juga tidak memenuhi persyaratan.
"Kita pasti menemukan jalan untuk mengobati Zoro." Felice masih menenangkan. "Dia pasti kuat dan super seperti namanya," lanjut Felice.
"Ada apa ini? Kenapa kalian berpelukan seperti teletubies," tegur Mia yang baru saja mau turun untuk mengambil minum tapi melihat adik dan perawat mamahnya sedang berpelukan.
Mereka pun segera melepaskan diri, Lucy segera menghapus air mata yang ada di pipinya.
"Kau sudah pulang kak?" tanya Felice dia menghampiri kakaknya dan mengusap perut yang sudah sangat membuncit itu. Dia sangat menyukai kegiatan itu, apalagi saat calon keponakannya itu menendang. "Oh ya ampun, sepertinya keponakanku tenaganya semakin kuat." Felice pun mendekatkan wajahnya pada perut kakaknya lalu mengajak calon keponakannya berbicara, "Hallo sayangnya aunty. Kapan kau keluar dari dalam sana. Aunty sudah tidak sabar untuk bermain denganmu."
"Masih lama Fel, usia kandungannya saja baru enam bulan," sahut Mia.
__ADS_1
"Kenapa lama sekali, apa tidak bisa dipercepat saja." Felice menggerutu, dan hal itu membuat Mia dan Lucy geleng-geleng kepala. Tapi di samping itu Mia senang karena adiknya sudah tidak terlihat begitu sedih.