
°°°
Keesokan harinya.
Daniel menepati janjinya, membawa Mia keluar dari kamar. Senyum cerah pun tersungging di bibir sek-si Mia. Sudah lama ia tidak keluar jalan-jalan, saat masih sendiri pun dia terlalu sibuk bekerja.
"Apa kau bahagia?" tanya Daniel yang sedang menyetir mobil. Sejak tadi ia perhatikan istrinya terus tersenyum.
Mia mengangguk, "Aku senang bisa pergi jalan-jalan, sudah lama aku tidak punya waktu untuk sekedar keluar apartemen. Saat libur lebih suka berdiam diri, tidur, menonton TV atau menghabiskan waktu bersama mamah dan Felice."
Daniel mengacak gemas rambut istri yang dibiarkan tergerai indah. Mia memang sudah memutuskan untuk tidak lagi memakai pakaian kebesaran, sekarang dia tampak lebih muda dengan celana jeans ketat dan kaos polos. Tapi kenapa sekarang malah Daniel yang tidak suka dengan penampilan istrinya. Tadi saja saat mau keluar dia sibuk mencari jaket tebal untuk dipakai Mia. Seakan keindahan tubuh istrinya hanya boleh dilihat olehnya.
"Apa kau mau makan lebih dulu?" tanya Daniel.
"Nanti saja, di ujung sungai ada restoran terapung. Aku ingin makan sup ikan bumbu rempah." Memang pas dinikmati saat cuaca dingin seperti itu. Meski salju belum juga turun tapi udara dinginnya sudah menusuk sampai ke tulang.
"Baiklah, apapun keinginanmu tuan putri." Daniel mengecupi punggung tangan istrinya.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke tepian sungai aster. Di sana juga ada tempat parkirnya sendiri jadi mobil-mobil pengunjung tidak akan memenuhi jalanan. Di tempat parkir cukup sepi, mungkin karena siang hari. Biasanya pengunjung lebih suka datang di sore hari. Sambil menikmati pemandangan lampu-lampu yang menyala di sekitarnya. Atau hanya sekedar healing, menghilang penat seharian bekerja.
"Kita sudah sampai," ujar Daniel. Dia sudah selesai memarkirkan mobilnya. "Kita turun sekarang?" tanyanya lagi. Mia pun mengangguk, dia juga sudah tidak sabar.
"Tunggu, biar aku yang bukakan pintunya." Daniel mencegat istrinya untuk tidak membuka pintu sendiri.
Mia menurut dan menunggu pangerannya membukakan pintu untuknya.
__ADS_1
"Silahkan tuan putri." Daniel membuka pintu lebar lalu mempersilahkan istrinya untuk turun. Siapa yang tidak meleleh kalau diperlakukan seperti itu coba, termasuk Mia yang saat ini wajahnya sudah memerah.
Mia langsung menuju ke tepian sungai yang dibatasi dengan pagar pembatas. Dulu tempat ini tidak seindah sekarang. Dulu hanya ada perahu nelayan yang mencari ikan di sana, karena sungai itu juga jadi sumber mata pencaharian sebagian orang. Sekarang tidak lagi, pemerintah telah membuat tempat sendiri untuk para nelayan, dan sungai yang melewati kota hanya dijadikan tempat pariwisata, dimana ada sebuah taman di sisi sungai dan jalan setapak yang sangat cocok untuk berlari pagi.
"Sudah lama sekali aku tidak kemari. Sudah sangat berbeda dari yang dulu." Mia menikmati pemandangan yang ada di sana.
"Bukannya kau bisa kemari setiap waktu, jalan pulang ke apartemen mu bahkan lewat sini kan," ujar Daniel.
Mia tersenyum tipis, "Semenjak pindah ke apartemen malah tidak pernah sama sekali, aku kemari saat masih kecil. Mamah dan papah belum berpisah. Mamah sering ke daerah sini untuk menjadi buruh cuci setrika dan aku ikut menemani, kalau bosan aku akan bermain kemari."
"Aah maaf, kau jadi ingat masa-masa sulit mu."
"Tidak apa-apa, semuanya sudah berlalu. Mamah dulu rela mengerjakan pekerjaan apapun demi untuk makan sehari-hari dan memberiku uang jajan. Padahal aku sudah bilang kalau aku tidak perlu uang jajan." Mia mengingat masa kecilnya yang cukup sulit.
Daniel memandangi wajah cantik yang terlihat menyimpan banyak luka. Siapa sangka kalau wanita setangguh Mia dulunya pernah mengalami masa yang sangat sulit.
Maka dari itu dia begitu menyayangi mamahnya. Perjuangan mamahnya dalam membesarkan dirinya dan adiknya sangatlah sulit. Apalagi setelah Felice lahir, kadang dia harus bekerja sambil menggendong Felice.
Daniel memegang pundak istrinya agar menghadap ke arahnya. Ibu jarinya menggantikan tangan Mia untuk menghapus air matanya. Mengapa melihat istrinya bersedih membuat Daniel ikut merasakannya, hatinya ikut tersayat, ikut merasakan kepedihan itu.
"Sekarang tidak akan aku biarkan kalian merasakan hal seperti dulu. Kamu, Felice dan juga mamah adalah tanggung jawab ku sekarang. Biarkan aku juga ikut menanggung beban yang ada di pundak mu, kau harus berbagi padaku mulai sekarang."
Kemudian Daniel merentangkan kedua tangannya membuat Mia tersenyum malu, "Ayolah, kau pasti butuh pelukan saat ini. Tidak usah malu-malu, da-da ku siap menampung keluh kesah mu sekarang."
Dengan malu-malu Mia masuk ke dalam dekapan suaminya, memang benar dia hanya butuh pelukan terkadang. "Terimakasih Niel, terimakasih untuk semua yang sudah kamu lakukan untuk keluarga ku. Kalau bukan karena mu, mungkin mamah masih kesakitan, kalau bukan karena kamu mana mungkin aku bertemu papah lagi. Mungkin aku tidak akan bisa membalasnya semua yang sudah kamu lakukan."
__ADS_1
"Kau tidak perlu membalasnya dengan apapun, cukup siapkan diri setiap malam." Daniel menggoda istrinya.
"Kau itu tidak tau malu sekali," gaduh Mia sambil memukul-mukul pelan da-da suaminya.
"Sekarang sudah tidak sedih lagi kan?" tanya Daniel, setelah mereka cukup lama berpelukan.
Mia mengangguk dan menjauhkan tubuhnya, dia terlalu nyaman dalam pelukan suaminya sampai lupa pada tujuan mereka datang ke sana.
"Sepertinya perahunya belum datang, bagaimana kalau kita duduk dulu di sana," tunjuk Daniel pada bangku panjang dengan senderan khas bangku taman.
"Mau aku belikan minum?" tawar Daniel, saat sang istri sudah duduk.
"Niel, aku jadi tidak enak karena kau terus memperlakukan ku seperti ini atau biar aku saja yang beli minum." Daniel itu selalu saja memperhatikan hal-hal kecil yang istrinya butuhkan. Mia jadi merasa bersalah karena dia belum sepeka suaminya.
"Mana boleh, kau cukup duduk diam disini dan menunggu ku mengantri di sana. Bukankah itu romantis," tutur Daniel. Dia baru saja melihat pasangan lainnya melakukan itu, ia pun masih harus belajar banyak bagaimana bersikap manis pada pasangan.
Mia terkekeh kecil, melihat tingkah suaminya yang berusaha meniru para pasangan muda yang sedang pacaran. "Apa kau mau berpacaran dengan gaya seperti itu, berarti kita tidak usah melakukan itu. Cukup bertemu lalu jalan-jalan, makan bersama saja sudah senang kan?" Mia mengejek.
"Hehehe... tidak sayang. Yang bagian itu tentu tidak boleh dilewatkan. Kalau di luar kita harus lebih romantis dari pasangan anak muda seperti mereka. Kita bahkan bisa melakukan hal lebih, seperti ini... cup." Mencium dan me-lu-mat bi-bir Mia sekilas. "Mereka tidak bisa seperti itu kan, paling juga pegangan tangan."
"Kau itu, apa tidak malu dilihat banyak orang." Mia tak habis pikir dengan suaminya.
to be continue...
°°°
__ADS_1
Hari ini satu bab saja ya guys, othor nya oleng. 🤧🤧 semoga saja bisa sehat kembali dan melanjutkan cerita ini.