
"Lucy, apa aku sudah membersihkan meja sebelah sana?"
Lucy yang baru saja memandang kebahagiaan Felice dan suaminya dari kejauhan. Buru-buru menghapus sisa-sisa air matanya yang tak sengaja jatuh.
"Sudah saya bersihkan senior."
"Ya sudah sekarang kau antarkan minuman ke meja VVIP di sana." Menyerahkan satu botol besar minuman mahal. "Ingat, kau harus hati-hati membawanya. Harga minuman ini setara dengan gajimu seumur hidup. Kalau sampai jatuh kau tidak akan bisa mengganti nya."
"Saya paham senior." Lucy menerima botol itu dan membawanya ke meja. Lalu mengambil nampan dan beberapa gelas.
Salah jika Lucy datang sebagai tamu atau kerabat. Dia hanya kebetulan bekerja pada yang mengurus wedding organizer yang kebetulan juga mengurus acara pernikahan Felice dan Calvin. Tanpa diberi tahu pun Lucy tau berapa harga satu botol wine yang ia bawa karena dia pernah bekerja pada orang kaya.
Lucy membawa nampannya dengan hati-hati, menembus keramaian dari ribuan tamu undangan. "Permisi... permisi..." Dia tidak boleh lengah atau dia akan menjatuhkan wine mahal itu dan dia tidak akan bisa menggantinya.
Lucy melihat ke arah meja yang tadi di tunjuk atasannya. Salah satu meja besar dengan orang-orang penting yang duduk di sana. Namun, langkahnya terhenti saat melihat seseorang yang duduk di sana sambil memangku seorang gadis kecil.
__ADS_1
Lima tahun mereka tidak pernah bertemu apalagi menyapa. Kali ini mereka dipertemukan lagi dengan keadaan yang begitu sulit. Batin Lucy ingin sekali menjerit dan menangis sekencang-kencangnya. Tapi dia sadar kalau dulu adalah pilihannya. Dia yang memilih pergi membawa putra dan anak dalam kandungan nya demi ayah mertuanya. Agar suaminya bisa kembali berbaikan dan mertuanya mau di operasi.
Tapi sekarang saat melihat pria yang dulu menjadi suaminya bisa tertawa lepas bersama seorang gadis kecil di pangkuannya. Membuat Lucy amat sangat sesak. Mungkinkah Daren sudah berhasil melupakannya dan memiliki keluarga baru. Mungkinkah mereka sekarang sudah bahagia. Kalau iya, bukankah seharusnya Lucy tidak muncul lagi dihadapan nya.
"Kenapa kau disini, cepat sana. Kau tidak boleh membuat tamu VVIP menunggu lama." Atasannya menegur lagi.
Lucy yang tidak ingin menunjukkan dirinya di hadapan Daren pun berpura-pura agar sang atasan tak jadi memerintahkan nya.
"Tiba-tiba perut saya sakit senior. Bisakah tolong yang lain saja yang mengantar ini. Saya takut saat di sana tidak bisa melayani mereka dengan benar."
"Baiklah senior. tapi kalau aku menggunakan masker tidak masalah kan?" tanya Lucy, dia harus memikirkan sesuatu agar dia bisa terhindar dari Daren. Tapi dia juga tidak bisa menolak pekerjaan dengan bayaran yang besar demi kedua anaknya.
Sang atasan memandang curiga pada Lucy.
"Ya sudah terserah kau saja. Yang penting kau harus hati-hati membawa minuman itu."
__ADS_1
Setelah menggunakan masker, Lucy pun kembali membawa nampan ke meja yang ditempati Daren bersama rekan-rekannya yang Lucy tidak tau siapa. Pasalnya selama bersama pria itu Lucy belum pernah di ajak ke suatu acara. Ya Lucy cukup tau diri.
Sampai di dekat meja, Lucy semakin menunduk dan menghindari pandangan dari Daren. Dia meletakkan botol minuman itu di meja beserta beberapa gelas yang ia bawa. Setelah itu ia bergegas undur sebelum Daren menyadari kehadirannya.
"Tunggu nona, kau belum menuangkan wine ini untuk kami." Salah satu tamu menahan langkah Lucy.
Lucy pun membungkuk sebagai tanda maaf tanpa bersuara. Lalu ia mengambil botol itu dan membukanya.
"Ohh apa kau tidak bisa bicara nona. sayang sekali, padahal kau cukup cantik."
Lucy diam saja tak menyahut, biarlah orang-orang itu mengira ia bisu. Asalkan Daren tak sadar kalau ada dirinya di sana.
Sampai mata Lucy tak sengaja melihat bagaimana interaksi Daren dan anak kecil yang ada di pangkuannya. Hatinya begitu nyeri melihat bagaimana Daren terlihat sangat menyayangi anak itu. Air mata yang sejak tadi ia tahan pun tidak sanggup ia bendung lagi.
"Nona kenapa lama sekali," ujar salah satu tamu yang tadi menganggap nya bisu sambil memegang tangan Lucy sampai wanita itu terkejut.
__ADS_1
Prang!!