
Daren menggandeng istrinya masuk ke dalam ruangan ayahnya. Tapi ternyata di sana ayahnya tidak sendiri sedang bersama salah satu dokter rumah sakit itu. Terlihat tengah berbincang dengan akrab dan hangat, Daren merasa saat bersama dirinya saja sang ayah tidak tertawa seperti itu. Pria tua itu lebih banyak menunjukan taringnya saat berbicara dengan sang putra.
"Ayah. Bagaimana kabar ayah?" tanya Daren pada sang ayah yang sejak tadi mengabaikan kehadiran mereka. Sementara Lucy hanya menunduk takut.
"Kau sudah datang nak. Seperti yang kau lihat, keadaan ayah sangat baik dan sehat." Paman Sam tersenyum pada putranya, membuat Daren sedikit punya harapan. "Iya kan dokter Jane," ujarnya kemudian pada dokter wanita itu.
"Iya paman, kesehatan anda belakang ini memang sangat bagus," ujar dokter Jane.
"Itu semua berkat kau dokter, bahkan putraku saja tidak pernah begitu peduli padaku yang sudah tua ini. Tapi kau selalu menyempatkan waktu untuk datang menjengukku dan membawakanku makanan." Puji paman Sam secara terang-terangan.
"Ahh kau berlebihan paman, aku hanya sudah menganggap paman seperti ayahku sendiri."
"Kau memang wanita yang baik, kalau saja aku punya dua putra pasti sudah menikahkannya denganmu. Beruntung sekali yang mempunyai menantu sepertimu."
Mereka saling memuji. Daren tau kalau ayahnya sedang menyindirnya dan kalimat barusan pasti menyakiti hati istrinya. Dia juga heran, sejak kapan ayahnya jadi dekat dengan dokter Jane itu. Setau Daren dulu mereka tidak sedekat itu. Tapi Daren tidak peduli ada hal yang jauh lebih penting yang ingin dia bicarakan dengan sang ayah, dan ia berharap kalau kehamilan Lucy bisa merubah sikap dan pikiran ayahnya.
"Apa kalian sudah selesai," ujar Daren memotong pembicaraan ayahnya dengan dokter Jane yang masih saling memuji dan berbincang.
"Maafkan aku paman, aku suka lupa semuanya kalau sudah mengobrol dengan paman." Jane tersenyum malu-malu pada Daren dan itu bisa Lucy lihat kalau wanita itu pasti menyukai suaminya bahkan tanpa ragu tersenyum seperti itu saat ada istrinya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa nak, paman juga senang kau disini."
"Ada yang hal yang ingin aku bicarakan dengan ayah," ujar Daren yang sudah mulai jengah.
"Ada apa, kalau begitu katakan saja sekarang. Atau kau mau meminta agar dipindahkan kemari lagi." Paman Sam tersenyum, ini kesempatannya untuk membicarakan hal yang sudah ia pikirkan sejak lama.
"Tidak bukan itu, ada hal lain yang mau aku katakan pada ayah."
Paman Sam menegakan punggungnya dan beralih pada putranya, "Katakan, kebetulan ada yang mau ayah bicarakan juga."
"Aku hanya ingin berbicara pada ayah, jadi yang bukan anggota keluarga bukankah seharusnya keluar dari sini," ujar Daren menyindir Dokter Jane.
"Terimakasih nak, maaf karena anak ini selalu saja tidak tau sopan santun."
"Tidak apa paman, aku permisi." Dokter Jane pun pergi dari sana, sebelum keluar dia sempat melirik Lucy dengan tatapan tidak suka.
Saat ini hanya ada Paman Sam, Daren, Lucy dan juga Zoro di dalam ruangan itu. Raut wajah pria tua itu seketika berubah tidak ramah seperti tadi.
"Ada apa?" tanya paman Sam.
__ADS_1
"Ayah, aku datang kesini membawa kabar bahagia untuk ayah."
"Benarkah, apa kau berniat kembali ke rumah sakit ini dan meninggalkan wanita itu? Lalu kau mau menikah dengan wanita pilihan ayah." Paman dengan tidak berpersaan mengatakan semua itu dihadapan Lucy.
"Ayah keterlaluan!! Tidak bisakah ayah menerima Lucy, dia menantu ayah, istriku dan wanita yang ku cintai." Sentak Daren.
"Sampai kapanpun aku tidak akan menganggapnya menantu."
Lucy mengusap lengan suaminya agar tidak terbawa emosi, bahkan meski saat ini hatinya begitu sakit pun, dia tidak akan membiarkan suaminya bertengkar dengan ayahnya.
Daren merasakan bagaimana sang istri menahannya agar tidak bertindak kurang ajar pada ayahnya, istrinya sungguh sangat baik tapi kenapa sang ayah tidak bisa melihat hal itu. "Aku datang kesini bukan untuk bertngkar dengan ayah. Aku kesini karena aku ingin memberitahu kalau sebentar lagi ayah akan menjadi kakek. Lucy hamil anakku, usia kandungannya lima bulan."
"Hahaha... apa kau pikir kalau perempuan itu hamil akan merubah keputusan ayah. Sampai kapanpun ayah tidak mau menerima wanita itu, bahkan anaknya pun ayah tidak sudi untuk mengakuinya sebagai cucu."
Bagai tersiram garam luka yang selama ini Daren dan Lucy pendam, tega sekalli pria itu berkata seperti itu. Meski pada awalnya Daren juga tidak berharap banyak tapi tidak menyangka akan ucapan seperti itu yang akan terlontar dari mulut ayahnya. Daren seperti tidak mengenal ayahnya sendiri sekarang.
"Baiklah kalau itu mau ayah, aku kemari hanya ingin memberitahukan hal itu. Anakku juga tidak akan mau punya kakek seperti ayah yang berhati kejam. Aku akan kembali ke daerah selatan, bukan hanya lima tahun aku akan menetap disana tapi selamanya kalau perlu."
"Selamat tinggal ayah, aku harap kau hidup dengan baik dan sehat selalu. Maaf karena aku tdak bisa jadi anak yang membanggakan ayah dan maaf karena aku tidak bisa menuruti semua keinginan ayah." Daren mengajak Lucy untuk pergi dari sana, sudah cukup semua penghinaan yang sang istri terima. Kini ia berjanji tidak akan memikirkan pria tua itu lagi, dia hanya akan fokus pada keluarga kecilnya.
__ADS_1
"Tunggu!" "Kau akan menyesal kalau sampai keluar dari rumah sakit ini lagi sekarang. Ayah benar-benar tidak akan peduli lagi padamu."