Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
83. Perhatian Suami


__ADS_3

°°°


Tamu yang datang tidak ada habisnya. Mereka begitu antusias mengantri untuk bersalaman pasangan raja dan ratu sehari itu.


"Apa kau lelah?" bisik Daniel di sela-sela para tamu yang sedang bersalaman dengan mereka.


"Tidak apa-apa, aku kuat." Tentu saja lelah, apa perlu ditanya. Kakinya bahkan terasa sang pegal akibat berdiri menggunakan high heels terlalu lama. Belum lagi nanti malam masih ada pesta lagi. Mia menggerakkan kakinya yang terasa pegal.


Daniel melirik Mia yang sedang menggerakkan kakinya. Dia tau kalau istrinya pasti pegal berdiri terlalu lama. Daniel pun mengangkat tangan kanannya dan memanggil Daren agar mendekat. Dengan terpaksa sang sepupu pun mendekat karena dia sudah berjanji untuk bersikap baik pada Daniel, tentu saja demi bisa dekat dengan Felice.


Begitu Daren mendekat, Daniel langsung membisikkan sesuatu pada sepupunya itu.


"Cepatlah!" perintah Daniel lagi.


"Ya ya baik Tuan," ujar Daren dengan malas, sejak tadi dia seperti menjadi pesuruh sepupunya sendiri.


Kalau bukan karena Felice, aku mana mau melakukan semua perintah mu.


"Apa kau mau duduk dulu?" tanya Daniel pada sang istri. Dia tidak tega melihat istrinya kesakitan.


"Tidak, kasihan mereka yang sudah mengantri. Lebih baik selesaikan sekalian, baru istirahat." Mia yang baru saja menikah dengan konglomerat tidak mau dianggap sombong hanya karena tidak mau menyalami tamu. Meski sebenarnya dia sangat lelah.


"Kau bisa istirahat duluan kalau lelah, biar aku sendiri saja disini."


"Mana bisa begitu, apa kata orang nanti. Pengantin wanita meninggalkan pengantin prianya sendirian di atas altar."


Daniel terkekeh mendengar perkataan Mia. Mungkin karena dia sudah dewasa jadi apapun pasti ia pikirkan, sementara Daniel tak pernah ambil pusing dengan omongan orang.


Ternyata Daren kembali lebih lama dari yang Daniel perkirakan. Matanya sudah menatap tajam wajah sepupunya. Hanya disuruh mengambil sesuatu saja kerjanya begitu lamban, pantas saja Daren tak pernah bisa menyaingi nya.


"Apa kau sudah tidak ingin dekat dengan adik ipar ku lagi?"


"Sabar bro, salah sendiri menyimpan ini di tempat yang sulit ditemukan. Aku bahkan harus menyuruh beberapa orang untuk membantu mencari." Daren memberikan sebuah kotak besar pada Daniel.

__ADS_1


"Banyak alasan! Kalau sudah tidak menginginkan Felice bilang saja." Dengan kasar Daniel mengambil kotak itu.


Daren tentu saja menahan kesal tapi dia harus tetap sabar menghadapi sepupunya. "Maaf-maaf, lain kali tidak akan membuatmu menunggu lama."


"Enyahlah dari sini?"


Dasar, kalau ada maunya saja manggil-manggil. Setelah tidak butuh seenaknya mengusir orang. Bagaimana aku bisa cari muka dihadapan calon kakak ipar ku.


Daren melayangkan pukulannya di udara sebelum pergi dari sana.


Mia yang melihat interaksi mereka menatap aneh keduanya. Yang satu tampak marah dan yang satunya kesal.


"Ikut aku sebentar." Daniel menarik tangan istrinya begitu saja. Untunglah Mia bisa mengikutinya dengan seimbang kalau tidak pasti dia sudah terjungkal tadi.


"Niel, kau apa-apaan?" kesal Mia.


"Maaf, apa menyakiti mu." Daniel langsung berjongkok dihadapan Mia lalu menyingkap sedikit gaun pengantinnya untuk memeriksa kaki sang istri.


"Aku hanya ingin memeriksa kakimu, itu saja. Sekarang kau duduklah, biar aku lihat." Daniel masih dalam posisi jongkok dengan satu lututnya menyentuh lantai.


"Tidak perlu Niel, cepat kau berdiri. Kita harus menyalami para tamu lagi," tolak Mia.


"Kau mau membiarkan aku memeriksa kakimu atau aku akan membawamu pergi dari sini sekarang. Menurutlah, biar cepat selesai."


Apa-apaan pria itu, kenapa selalu semaunya sendiri sekarang.


Karena tak mau membuat semua orang menunggu, Mia buru-buru mendaratkan tubuhnya di kursi pengantin. Dia pun mengalihkan pandangannya, yang sedang kesal pada sang suami.


Sementara Daniel tersenyum kecil melihat istrinya yang kesal. Bukannya membuat wajah itu jadi jelek tapi justru menggemaskan. Dia sudah tidak sabar ingin berduaan dengan sang istri tapi saat ini dia harus bersabar sampai acaranya selesai.


Beberapa detik kemudian, Daniel sudah berhasil mengganti sepatu hak tinggi itu dengan sepatu tanpa hak yang sudah ia siapkan. Tentunya membuat kaki sang istri terasa nyaman.


"Sudah, sekarang kau sudah bisa berdiri lagi." Daniel mengulurkan tangannya pada sang istri.

__ADS_1


Mia yang merasa kakinya tak sepegal tadi pun menundukkan kepalanya. Hatinya menghangat saat melihat sebuah sepatu cantik tanpa hak sudah terpasang di kakinya. Padahal tadi dia sudah kesal pada suaminya.


Jadi dia mengganti sepatu ku. Apa dia sudah menyiapkannya dari awal. Ternyata dia cukup perhatian juga.


"Apa masih sakit sekarang?" bisik Daniel.


"Tidak lagi, terimakasih." Mia tersenyum manis pada suaminya.


"Tidak perlu berterimakasih sekarang, nanti saja saat berdua." Daniel membisikkan kata-kata itu di dekat telinga istrinya.


Blush.


Seketika pipi Mia semakin merona melebihi perona merah yang ada di pipinya. Entah apa maksud dari ucapan suaminya barusan, hanya mengatakan hal seperti itu saja sudah membuat nya berdebar kencang.


Mungkinkah dia akan langsung meminta haknya? Mia geleng-geleng kepala memikirkan hal itu. Walaupun mereka pernah melakukan nya tapi waktu itu dalam keadaan mabuk dan tidak sadar sama sekali. Kalau dalam keadaan sadar, sepertinya Mia belum siap.


Dad Alex dan mom Tania sibuk menyambut tamu undangan. Mereka juga mendapatkan banyak pujian hari ini. Walaupun mereka kaya raya tapi tak pernah melihat orang dari status sosialnya. Walaupun begitu masih saja ada yang berbicara buruk.


"Kenapa anda tidak mencari menantu yang sederajat dengan anda Tuan Alex. Apa anda tidak takut wanita itu hanya akan mengeruk harta keluarga kalian," ujar salah satu rekan bisnis dad Alex yang sempat berharap bisa berbesan dengan orang hebat itu.


"Putraku bukan alat yang bisa di pakai untuk berbisnis. Tanpa mempunyai menantu yang sepadan sekalipun, bisnis ku masih menjadi yang pertama menguasai negara ini dan negara lainnya. Kalau mereka yang sama-sama dari kalangan pengusaha justru saya khawatir kalau mereka hanya mau memanfaatkan hubungan pernikahan anak-anak."


Para pebisnis lain yang mendengar pun terkekeh mendengar jawaban pintar seorang CEO star company. Mereka tau betul bagaimana sulitnya kalau mau bekerjasama dengan perusahaan itu. Karena star company sangat ketat menyeleksi rekan bisnisnya. Jadi tidak mungkin seorang Alex Starles mementingkan hubungan seperti itu. Benar katanya, kalau selama ini bisnisnya bisa berkembang pesat tanpa bantuan siapapun. Tidak ada gunanya juga bekerja sama dengan mereka.


"Anda benar-benar mengagumkan tuan Starles. Semoga suatu saat perusahaan kecil kami bisa bekerjasama dengan perusahaan anda." Pebisnis yang lain bersuara.


"Tentu, saya tidak pernah membedakan perusahaan kecil ataupun besar. Yang saya lihat adalah bagaimana kompetensi dan kemampuan perusahaan tersebut."


Rumor yang mengatakan kalau tuan Alex hanya mencari perusahaan besar untuk bekerjasama ternyata salah besar. Karena dad Alex selalu terbuka saat melihat ada pengusaha-pengusaha kecil yang begitu gigih.


Mereka seperti mendapatkan angin segar barusan. Setelah ini mereka pasti akan berjuang keras agar bisa layak bekerjasama dengan perusahaan star company.


to be continue...

__ADS_1


__ADS_2