
°°°
Siangnya Daniel bersiap untuk datang ke rumah sakit. Dia sudah mengurus kepindahannya ke negara S dan dia langsung disambut baik oleh rumah sakit di negara itu. Bahkan pihak rumah sakit saling menawarkan agar Daniel bekerja di tempat mereka.
Sebenarnya Daniel tidak pilih-pilih tapi akhirnya dia memutuskan untuk bekerja di rumah sakit milik kakeknya. Demi untuk meneruskan impian kakeknya. Selama ini rumah sakit itu di jalankan oleh pamannya sebagai direktur di rumah sakit itu.
Merasa sudah siap dengan penampilannya Daniel pun keluar dari kamarnya dan turun ke lantai bawah mencari sang mommy.
"Mom, aku pergi dulu," pamit Daniel pada mommy nya yang sedang melakukan yoga di ruangan khusus olahraga.
"Apa kamu sudah memikirkan perkataan Daddy? Sepertinya ada benarnya juga, mommy juga kesepian di rumah. Akan menyenangkan kalau ada anak kecil yang berlarian di rumah ini," ucap mom Tania yang juga mendambakan seorang cucu.
"Nanti aku pikirkan Mom, aku pergi mom..." Tak lupa Daniel mencium pipi mommy nya tercinta.
"Hati-hati nak..." mom Tania pasrah, sepertinya tidak semudah itu membuat putranya mau menikah.
"Sebenarnya apa yang membuat kamu belum mau menikah atau menjalin hubungan dengan wanita. Apa ada sesuatu yang tidak mommy tau, apa kamu pernah terluka sebelumnya?" tanya mom Tania pada dirinya sendiri.
,,,
Daniel mengendarai mobilnya sendiri menuju rumah sakit. Meski sudah lama dia tidak pulang tapi Daniel tidak pernah melupakan tentang negaranya.
"Belum banyak yang berubah," gumam Daniel seraya menyetir mobilnya.
Tidak butuh waktu lama, Daniel sudah sampai di salah satu rumah sakit terbesar di negara S. Ternyata pamannya berhasil mengembangkan rumah sakit itu hingga seperti sekarang.
Semua mata memandang kearah Daniel, suara desas desus para perawat yang masih single berdengung di telinga. Kedatangan Daniel sangat disambut baik oleh seluruh dokter dan perawat. Selain karena keahliannya dan cucu dari mendiang pemilik rumah sakit itu, tentu karena ketampanannya juga.
"Lihat itu dokter yang baru, tampan sekali wajahnya," ujar salah satu perawat yang sedang berkerumun dengan teman-temannya.
"Iya sangat tampan, bahkan lebih cocok jadi model dari pada jadi dokter."
"Aktor Korea saja kalah." Mereka setuju dan menganggukkan kepalanya.
Mereka terpana apalagi saat Daniel melewati mereka dan melempar senyuman.
__ADS_1
"Ya ampun aku meleleh disenyumin dokter tampan itu." Mata mereka bahkan mengikuti kemana perginya Daniel.
"Hmm... lihat apa kalian?" tanya dokter Daren.
"Ehh dokter, kami sedang melihat dokter tampan yang akan bekerja di sini," jawab mereka.
"Mana? apa dia sudah datang?" tanya dokter Daren yang juga penasaran. Sebenarnya setampan sepupunya saat ini sampai membuat para perawat terpesona. Ya dulu ia akui kalau Daniel lebih tampan darinya, tapi sekarang Daren merasa dirinya lah yang paling tampan di rumah sakit itu.
"Dia sudah pergi ke ruangan direktur, kenapa apa dokter Daren merasa tersaingi?" ledek para perawat.
"Apa tersaingi? Tidak mungkin ada yang mengalahkan ketampanan ku di rumah sakit ini." Dokter Daren menyombongkan dirinya dengan menyisir rambutnya dengan jari tangannya.
Sontak para perawat pun tersenyum geli melihatnya. Memang dokter Daren tampan tapi dia terkenal playboy dan hampir semua perawat di rumah sakit itu sudah pernah ia pacari.
,,,
Daniel sudah berada di ruangan pamannya.
"Akhirnya kamu mau bergabung dengan rumah sakit ini juga, paman sudah lama menantikannya Niel." Paman Sam sangat senang dengan kedatangan Daniel.
"Semua ini karena Daddy, paman. Kau tau sendiri kalau Daddy perintah Daddy tidak bisa dibantah atau aku tidak bisa menjadi dokter lagi," ujar Daniel yang sedang duduk di sofa.
"Paman tau kan, aku sama sekali tidak tertarik pada dunia bisnis. Aku lebih suka membalut luka sejak kecil," ujar Daniel dia mengambil cemilan yang ada di atas meja.
"Paman sangat tau, dulu kamu lebih suka diajak kakek ke rumah sakit dari pada melihat kantor Daddy mu." Paman Sam mengingat masa kecil Daniel.
"Kau dengan Daddy mu sekarang seperti kakek dan Daddy saat muda. Dulu kakek sangat ingin putranya mengikuti jejaknya menjadi dokter yang hebat tapi Daddy mu sama sekali tidak tertarik dan lebih memilih mendirikan perusahaan sendiri. Tapi beruntungnya kakek mempunyai cucu yang juga menyukai dunia medis, Daddy mu seperti mendapatkan karmanya."
"Paman tau sepertinya kamu juga harus memberikan Daddy mu itu cucu agar kamu tidak terus dipaksa untuk meneruskan bisnisnya." Paman Sam memberikan saran.
"Paman ini sama saja seperti Daddy dan mommy, memangnya membuat cucu untuk mereka segampang itu atau ada toko yang menjual bayi." Daniel tak habis pikir dengan pemikiran para orang tua.
"Hahaha... kau itu. Tentu saja kamu harus menikah lebih dulu. Kamu itu tampan Niel, pasti banyak wanita yang mau dengan mu. Kamu lihat itu sepupu kamu yang wajahnya pas-pasan saja dengan mudah mendapatkan pacar," ujar paman Sam membicarakan putranya sendiri.
"Siapa yang ayah bilang wajahnya pas-pasan barusan?" Daren datang tiba-tiba dan sungguh mencengangkan saat mendengar sang ayah menjelekkan putranya sendiri.
__ADS_1
"Tentu saja kamu, siapa lagi." ujar paman Sam.
"Ayah, tidak bisakah ayah memujiku di depan sepupu ku ini. Setidaknya buat seolah aku ini sangat hebat di rumah sakit ini." Daren memasang wajah memelas.
"Untuk apa, lihatlah sepupumu, Daniel. Dia bisa menjadi dokter bedah handal dalam waktu beberapa tahun saja sedangkan kamu sekian lama hanya jadi dokter umum, itupun ayah yang memasukkan kamu ke rumah sakit ini." Paman Sam sama sekali tidak terpengaruh pada wajah putranya yang tidak bisa diandalkan.
Hancur sudah harapan Daren, ayahnya sendiri saja tidak mau menyanjungnya barang sedikit saja.
"Kau jadi assisten Daniel saja besok, belajar darinya agar bisa sedikit lebih pintar," tukas paman Sam.
Oh No... mau ditaruh dimana muka ku kalau harus jadi assisten Daniel. Yang ada para wanita itu tidak akan melihat ku lagi.
"Ayah tau apa yang sedang kamu pikirkan, jangan kira ayah tidak tau pekerjaan kamu sehari-hari cuma pacaran." Paman Sam mendelik.
"Aku pasti akan jadi dokter yang hebat suatu saat nanti ayah. Jangan jadikan aku assisten Daniel, please." Daren memohon pada ayahnya.
"Sudahlah paman, aku juga tidak mau mempunyai assisten seperti dia. Aku pergi melihat ruanganku dulu." Daniel mengejek sepupunya, sejak kecil mereka memang jarang akur.
"Aku juga tidak sudi," ketus Daren.
Plak!
"Aaww!! Ayah... kenapa kau memukul ku. Bagaimana anakmu ini bisa pintar kalau ayah saja tidak segan memukul." Daren mengusap kepalanya.
"Kau itu seharusnya bersyukur punya sepupu seperti Daniel, kau bisa belajar banyak darinya. Ayah tidak mau tau, kau harus belajar dari Daniel."
Daren hanya bisa pasrah kalau sudah begitu, atau ayahnya tak lagi memberikan fasilitas padanya. Karena kalau hanya mengandalkan gajinya sebagai dokter umum sangatlah kecil dan tidak akan cukup untuk mentraktir pacar-pacarnya.
to be continue...
°°°
Terimakasih yang sudah mau mampir dan yang belum semoga bisa liat novel ini dan segera mampir 🤭
Like komen dan bintang lima 😍
__ADS_1
Gowamo ❤️❤️
Sehat selalu pembacaku tersayang.