Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
80. Meng-iri


__ADS_3

°°°


Kini semua orang sudah melihat sosok pengantin pria yang merupakan putra keluarga Starles. Daniel menjadi pusat perhatian semua orang. Ketampanannya memang menurun dari daddy nya.


"Apa itu calon suami nona Mia. Wahhh tampan sekali. Seperti pangeran yang sedang menunggu kedatangan sang putri."


"Iya benar, aku mau jadi istri keduanya deh..."


Para gadis cekikikan sendiri membayangkan ketampanan Daniel. Padahal itu belum seberapa, bagaimana nanti kalau mereka tau kalau Daniel adalah putra dari pemilik perusahaan Starles. Pasti mereka menganga lebar.


Para rekan bisnis Alex pun terkesan dengan sosok Daniel. Mereka menyesal karena tidak dari dulu mencalonkan putri mereka untuk dinikahi pria tampan yang saat ini berdiri di atas altar.


Catty sang sahabat pun ikut senang akhirnya Mia menikah juga. Bahkan dengan laki-laki yang luar biasa. Dari cerita Mia yang mengatakan apa saja yang sudah Daniel lakukan membuktikan kalau pria itu sungguh laki-laki yang baik.


Sayang sekali Catty tidak bisa ikut menemani Mia. karena dia sibuk mengurusi putranya yang sejak tadi ribut ingin menemui Mia. Sementara penjagaan di pesta itu begitu ketat, dia tidak bisa keluar masuk ke dalam begitu saja.


"Sayang kau kenapa menangis?" tanya sang suami yang duduk di sebelah putranya.


"Tidak apa-apa, aku hanya terlalu bahagia karena akhirnya Mia menikah juga." Catty menyeka sudut matanya.


"Mana aunty Mia, mah. Aku ingin bertemu dengan nya," rengek Kenan.


"Sabar sayang, aunty mia sebentar lagi akan keluar. Kau bisa melihatnya dari sini." Jimmy sang ayah jauh lebih sabar menghadapi putra mereka. Setidaknya membuat Catty tak perlu cemas.


"Tapi Kenan mau ketemu aunty Mia sekarang Pah. Kenan mau main sama aunty." Masih merengek.


"Kenan...!" Catty tidak bisa bersabar lagi, dia melotot tajam pada putranya yang tak bisa tenang dan mengganggu tamu lain. Kenan pun langsung menunduk takut.

__ADS_1


"Ohh sayang, kau tidak boleh bersedih lagi. Lihatlah, disini banyak orang yang mau bertemu aunty Mia juga. Jadi kita harus antri, bukanlah di sekolah Kenan sudah diajarkan untuk mengantri. Apa Kenan paham?" Jimmy mengusap lembut kepala putranya yang takut karena pelototan sang istri.


Kenan pun mengangguk mengerti dan tak lagi ribut.


"Sayang, jangan bersikap seperti itu lagi pada putra kita. Dia masih kecil dan belum mengerti masalah orang dewasa."


"Ya ya, aku memang tidak bisa lemah lembut seperti kamu." Catty mencebikkan bibirnya kesal.


Sementara Jimmy geleng-geleng kepala, melihat istrinya yang tidak begitu dekat dengan putra mereka. Tapi apalah daya, pekerjaannya tidak sebaik Catty sekarang jadi dia tidak bisa menyuruh istrinya berhenti dari pekerjaannya.


Daniel berdiri dengan gagahnya di atas altar. Rasa gugup dan tidak sabar untuk bertemu dengan Mia membuat tangannya berkeringat.


Sejak tadi dia terus menatap ke arah karpet merah yang membentang dia tengah para tamu. Dimana Mia akan berjalan diatasnya.


Musik iring-iringan pengantin sudah mulai mengalun. Membuat suasana semakin meriah. Para tamu pun sudah berdiri untuk melihat sang pengantin wanita.


Mia pun melakukannya berulangkali, sampai degup jantungnya tak berdetak sekencang tadi.


"Aku siap Pah." Mia mengangguk.


Pelayan pun siap membukakan pintu.


Mia mulai berjalan di dampingi papahnya. Dilihatnya dekorasi pernikahan yang sangat megah dan para tamu yang sangat banyak. Lalu sorot matanya berpusat pada pria yang berdiri di ujung karpet. Itu Daniel yang sudah menunggunya. Pipi Mia merona, dia tidak tau apakah Daniel akan suka dengan penampilannya hari ini.


Bunga-bunga pun bertaburan di sepanjang jalan. Para kerabat yang menaburkannya untuk menyambut kedatangan pengantin wanita.


"Itu nona Mia wahh cantik sekali, dia seperti bidadari. Bagaimana mungkin kita tidak menyadari kecantikan nya selama ini."

__ADS_1


"Ya aku sempat berpikir kalau itu orang yang berbeda."


"Kenapa nona Mia tidak menunjukkan kecantikannya selama ini. Tubuhnya juga sangat bagus, lihatlah dengan balutan gaun pengantin itu terlihat sempurna."


Pujian terus terlontar dari mulut para tamu undangan. Mereka mengagumi kecantikan Mia. Lebih tidak menyangka tepatnya, selama ini mereka kira Mia terlihat biasa saja. Tidak menarik sama sekali dan kuno. Siapa sangka kalau Mia sangat cantik hari ini.


"Halah ... itu karena makeup nya saja yang bagus." Teman Laura mencibir.


"Mana, dia bahkan seperti tidak menggunakan makeup. Makeup nya sangat natural, kecantikan dan aura nona Mia lebih dominan."


Catty yang mendengar mereka berselisih pun tertawa puas, perlahan orang-orang yang dulu merendahkan Mia kini mulai menyadari kalau penilaian mereka salah. Tanpa perlu Catty membela, sudah banyak yang membela Mia.


"Mereka sungguh pasangan yang serasi, Mia cantik dan calon suami begitu tampan."


"Mereka seperti putri dan pangeran di negeri dongeng."


Tamu yang lain pun setuju akan hal itu. Satu pertanyaan yang belum terjawab siapa sosok Daniel itu dan bagaimana bisa seorang dokter bisa mengadakan pesta semegah itu. Tapi belum saatnya mereka tau, karena dad Alex sudah menyiapkan semuanya.


Ekor panjang yang menjuntai menambah keanggunan gaun yang dipakai Mia. Orang-orang pun banyak bertanya siapa desainer nya dan itu menjadi berkah tersendiri untuk bibi Glace yang saat ini menjadi incaran para wanita sosialita yang ingin dibuatkan gaun olehnya. Padahal disana juga hadir desainer ternama yang sudah melanglang buana di berbagai negara, ya nyonya Rose datang bersama putrinya.


Nyonya Rose dan Zoya sempat begitu percaya diri akan mempermalukan calon istri Daniel. Lalu berharap Zoya lah yang akan menjadi mempelai wanitanya. Tapi mereka harus menelan kekecewaan saat melihat bagaimana sempurnanya kecantikan dan penampilan Mia saat ini.


"Kata mami bukannya calon istri Daniel itu jelek dan kampungan, lalu apa ini. Semua orang bahkan memujinya. Gaun yang ia gunakan bahkan sangat indah Mam." Zoya tentu masih mengharapkan teman masa kecilnya itu. Dia kira bisa menikah dengan nya dan bisa dengan mudah menjadi desainer ternama tapi malah tiba-tiba mendengar kabar kalau dia akan menikah.


"Kau tidak kalah cantik, Zo. Tenang saja, kau pasti punya kesempatan untuk menjadi menantu keluarga Starles." Rose tidak bisa terima, sejak dulu dia selalu kalah dari Tania. Kali ini dia sudah bertekad agar putrinya bisa memasuki keluarga Starles.


"Tapi lihatlah mam, Daniel kelihatannya sangat menyukainya. Itu karena mami yang menyuruh ku berkarir, kalau tidak pasti aku yang berdiri di sana saat ini." Dulu Zoya menolak mengikuti jejak ibu nya, karena dia tidak ingin jauh dari Daniel. Ya dulu mereka begitu dekat.

__ADS_1


to be continue...


__ADS_2