
°°°
Daniel dan Mia berada dalam satu mobil, entah Daniel mau membawanya kemana dan Mia pun tidak berani bertanya. Suasana begitu canggung, tidak tau Mia benar atau tidak tadi ia melihat laki-laki itu marah pada pemilik butik itu. Atau hanya perasaan Mia saja yang terlalu percaya diri.
"Maaf... karena aku datang terlambat dan membuat mu harus di perlakukan seperti itu." Terdengar nada penuh penyesalan dari Daniel. Jadi benar kalau dia marah melihat Mia diperlakukan seperti tadi.
"Tidak apa-apa kenapa anda harus minta maaf," sahut Mia yang terkadang bingung harus bersikap bagaimana. Mungkin dengan menghormati pria di sampingnya sebagai putra dari atasannya akan lebih baik. Membuat ia tidak berpikir berlebihan.
"Mia..." panggil Daniel.
"Iya Tuan," jawab Mia, dia menoleh dan melihat Daniel menghembuskan nafasnya panjang.
"Aku calon suami mu Mia. Bukan atasan mu. Tidak perlu bersikap formal seperti itu," perintah nya.
"Tuan, sepertinya biarkan aku menghormati anda seperti aku menghormati tuan Alex. Kita menikah hanya karena memastikan apakah aku hamil atau tidak, atau mungkin sebaiknya tidak perlu ada pernikahan. Kata anda, saya sudah bisa melakukan tes kehamilan. Kalau saya tidak hamil, anda tidak perlu menikahi saya Tuan."
Cittt....
Daniel menghentikan mobilnya tiba-tiba hingga Mia sempat tersungkur ke depan. Untunglah dia memakai seltbelt dengan benar. Jadi tak ada yang terluka.
"Kenapa kau berkata seperti itu, bukankah aku sudah bilang kalau ada bayi ataupun tidak aku akan tetap bertanggungjawab. Kita akan tetap menikah dan jika kau tidak hamil pun tidak akan ada perceraian," terang Daniel.
"Tapi sungguh kita ini tidak cocok Tuan, anda bisa bersama wanita yang lebih baik yang lebih pantas dan sepadan dengan anda." Mungkin lebih baik Mia mundur sebelum semuanya terlambat, sebelum hatinya benar-benar jatuh lagi.
"Aku tidak pernah melihat orang dari hartanya, apalagi melihat mu. Kita sama, kita hidup dengan kemampuan kita sendiri bukan dari orang tua kita. Daddy juga tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Mia, kita akan tetap menikah sesuai dengan rencana kemarin." Daniel menatap manik mata Mia.
"Jangan mendengarkan omongan orang yang belum tentu benar. Aku dan Zoya hanya teman masa kecil, di antara kami tidak ada hubungan apapun. Bahkan jika aku tidak menikah dengan mu, aku juga tidak akan menikah dengannya." Kali ini Daniel meraih tangan Mia dan untuk kedua kalinya ia menggenggam tangan itu. Setelah tadi yang pertama saat berada di butik.
__ADS_1
"Apa ada lagi yang mengganggu pikiran mu? Katakan saja agar tidak ada lagi yang mengganjal," ujar Daniel.
"Tuan, perbedaan umur kita terlalu jauh dan aku pun bukan dari keluarga pengusaha. Menikah dengan ku hanya akan membuat anda mendapatkan banyak cibiran. Dan orang-orang pun akan mengira yang tidak-tidak padaku. Jadi..."
Mia membelalakkan matanya saat tiba-tiba saja Bi bir Daniel menempel di bi birnya. Mia terpaku, meski mereka pernah melakukan hal lebih tapi dulu mereka sedang dalam keadaan mabuk dan kali ini mereka berdua dalam keadaan sadar.
Mia bahkan menahan nafasnya saking terkejutnya. Dia merasakan sesuatu yang hangat menyentuhnya dan anehnya darahnya seakan berdesir, jantungnya pun berdegup kencang.
Sampai Daniel menarik diri pun Mia masih terpaku.
"Kita akan menikah, tidak ada yang berubah," katanya tegas. "Jangan pikirkan apapun lagi, sekarang aku akan mengajakmu ke suatu tempat." Daniel kembali menginjak pedal gas nya dan melajukan mobilnya ke suatu tempat.
Mia kembali ke posisi duduknya semula dengan degup jantung yang masih berdetak kencang. Ini seperti mimpi baginya, kejadian tadi begitu singkat tapi membuatnya terus memikirkannya.
Dia melirik sekilas pada laki-laki yang hampir saja membuat dia pingsan karena terkejut. Wajah pria itu terlihat biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa. Berbeda dengan Mia yang gugup tak karuan. Atau mungkin bagi laki-laki itu sudah biasa mencium lawan jenisnya, bagaimana pun pria itu pernah tinggal di luar negeri pasti hubungan bebas seperti itu sudah tidak asing lagi kan.
Membuat Mia jadi berpikir apakah di luar negeri pria itu juga sering tidur dengan wanita. Mengingat betapa bebasnya hidup di luar negeri. Lalu apakah nanti akan ada wanita yang datang meminta pertanggungjawaban saat mereka sudah menikah nanti. Atau jangan-jangan pria itu sudah punya anak dari wanita yang ia tiduri.
"Mia... ponselmu bunyi," ujar Daniel yang melihat Mia tak mendengar suara ponselnya.
"Mia... kau baik-baik saja," Daniel menyentuh tangan Mia yang masih bergeming.
Saat tangan hangat itu menyentuhnya barulah Mia tersadar dan menarik tangannya.
"Maaf, tadi ponselmu berdering tapi kau tak mendengarnya." Daniel merasa bersalah karena Mia menolak sentuhannya. Mungkin tindakannya tadi sudah keterlaluan.
Bukan itu yang membuat Mia menghindar tapi karena berpikir kalau laki-laki itu sudah biasa melakukan hal itu.
__ADS_1
Ponsel Mia kembali berbunyi dan ia segera mengangkatnya.
š"Hallo nak, kalian di mana? Maafkan Mommy, tadi mommy sungguh tidak bermaksud seperti itu. Apa Daniel masih marah?"
Mia bingung harus menjawab apa, mau bilang kecewa pun tidak berhak.
"Apa itu mommy?" tanya Daniel, dilihat dari ekspresi Mia sudah bisa ditebak.
"Biar aku yang berbicara," ujarnya seraya meminta ponsel Mia untuk berbicara pada mommy.
Mia pun menyerahkan ponselnya tapi bukannya menerima Daniel malah hanya memencet tombol pengeras suara.
"Ada apa Mom?" tanya Daniel.
š"Hallo Niel, apa kau marah pada mommy? Maaf, mommy tidak sengaja melakukan itu. Tadi mommy sudah berkata kalau kau akan menikah tapi maminya Zoya terus mengajak mengobrol. Maafkan Mommy, Niel."
Daniel menghela nafasnya, "Tidak apa-apa Mom, hanya saja lain kali tolong jangan perlakukan Mia seperti itu lagi dihadapan teman-teman mommy. Kalau memang mommy tidak berniat mengenalkannya lebih baik lain kali tidak usah mengajak Mia." Daniel seperti Daddy nya yang selalu bisa menjaga perasaan pasangannya.
š"Iya nak, Mommy mengerti. Ini salah mommy. Tadi mommy juga sudah minta maaf pada Mia, mommy harap kalian tidak salah paham pada mommy."
Daniel melirik Mia, apakah wanita itu sudah memaafkan mommy nya atau belum.
Mia pun mengangguk, kalau sudah meminta maaf tidak perlu diperpanjang lagi pikirnya. Lain kali dia yang akan sadar diri dan tidak membuat mom Tania malu lagi.
"Baiklah mom, kami sudah memaafkan mommy. Tidak perlu cemas lagi, Daniel yang akan mencarikan gaun pengantinnya."
š"Apa kau yakin nak, tidak apa-apa kalau kau tidak mau kembali ke butik tadi. Mommy masih ada rekomendasi yang lain."
__ADS_1
"Tidak Mom, Daniel sudah menyiapkannya untuk Mia."
to be continue....