
°°°
Pagi itu menjadi pagi yang panas untuk pasangan pengantin baru itu. Daniel tidak hanya melakukannya sekali tapi dua kali saat di kamar mandi juga. Alhasil sekarang Mia pun kesusahan untuk berjalan karena setiap permainannya butuh waktu lama sampai laki-laki itu menyemburkan benihnya di rahim sang istri.
"Terimakasih Sayang...." Daniel menciumi kening istrinya berulang kali saat Mia sedang di depan meja rias.
Sementara Mia hanya mengerucutkan bibirnya sebal karena pria itu mengingkari janjinya. Katanya sebentar tapi nyatanya begitu lama, bibir bawahnya sampai kebas dibuatnya.
"Kau semakin cantik kalau cemberut gitu," goda Daniel, mencolek dagu istrinya.
"Aku tidak mau lagi lain kali, bukannya kamu bilang tidak akan menyentuh ku kalau aku tidak mau." Mia menggerutu.
"Tapi kenyataannya kamu mau, tidak menolak sentuhan ku juga kan? Bahkan kau berhasil kli-maks berkali-kali." Daniel mengingat kegiatan panas mereka, dimana tubuh sang istri berhasil ia kuasai dan membuat wanita itu melayang berkali-kali.
"Kau...!!" Mia membelalakkan saat suaminya tak tau malu membahas hal seperti itu.
"Tenang saja aku siap kapanpun kau mau lagi." Dengan wajah tengilnya Daniel menjatuhkan diri di sofa. Puas menggoda istrinya.
Ya ampun, lihatlah wajahnya itu. Puas sekali dia, sedangkan aku harus merasakan sakit seperti ini.
Walaupun sudah tidak pera-wan tapi miliknya jelas sudah lama tidak dipakai, hanya malam itu bersama Daniel saja. Milik Mia jelas masih sangat sempit apalagi junior Daniel terlalu besar sampai rasanya mau sobek lagi miliknya.
Awas saja!! Aku tidak akan mau melakukannya lagi.
"Apa masih lama? Sepertinya kau masih memikirkan kegiatan kita tadi. Jangan sungkan kalau mau lagi."
"Niel...!!" Mia menghentakkan kakinya ke lantai. Lalu berjalan keluar lebih dulu, tak peduli dengan suaminya yang berteriak memanggilnya. Bisa gilaa kalau terus-terusan berdua dengan pria itu.
"Sayang tunggu, kenapa kau meninggalkanku." Daniel bergegas menyusul istrinya.
Entah mulai sejak kapan Daniel mulai menyematkan panggilan sayang untuk Mia. Mungkin saat mereka berolahraga pagi tadi dan Mia pun tidak menolak suaminya memanggil nya begitu.
Daniel menyusul istrinya yang sedang merajuk. Dilihatnya dari kejauhan cara jalan Mia yang terlihat aneh. Dia pun tergelak sendiri.
Apa aku sekuat itu sampai dia kesusahan jalan. Lain kali aku akan lebih lembut lagi.
__ADS_1
Maklum saja, tadi Daniel benar-benar menggila. Tidak bisa mengontrol dirinya saat melihat pemandangan indah di depan matanya. Tubuh sang istri sungguh membuatnya mabuk.
Mia berjalan dengan susah payah sambil menahan rasa perih. Kenapa juga dia mau mengikuti kemauan suaminya, kenapa dia tidak melawan. Aahhh sungguh memalukan, dia jadi seperti wanita yang haus akan belaian pria.
"Kenapa kau senyum-senyum sendiri?" Mia menyipitkan matanya, saat sang suami tersenyum aneh sejak tadi .
"Tidak apa-apa, apa kau masih marah?"
"Masih." Mia memalingkan wajahnya.
"Ohh benarkah, kalau begitu suamimu yang tampan ini mau meminta maaf karena sudah membuat istrinya merajuk. Apa ada cara agar kau tidak lagi marah?" tanya Daniel kemudian.
"Atau kau mau sesuatu, tas, mobil, perhiasan atau apartemen mewah?"
PLAK.
Mia memukulkan tas yang di tangannya pada lengan Daniel.
"Kamu kira aku apa? Setelah melayani mu lalu kau mau membayar ku." Mata Mia sampai berkaca-kaca.
"Maafkan aku, jangan menangis lagi. Aku hanya tidak tau bagaimana caranya membujukmu. Agar kamu tersenyum lagi, maaf... lain kali aku tidak akan menyentuh mu kalau kau tidak suka."
Entah kenapa Mia malah semakin sedih mendengar hal itu. "Kau menyebalkan, karena kau aku jadi susah berjalan. Bagaimana nanti kalau keluarga kita melihatnya." Memukul-mukul da-da suaminya.
"Aaa... itu karena kau yang terlalu menggoda, aku jadi tidak bisa mengontrol nya. Tubuhmu sangat indah, terutama pa..,."
"Stop Niel. Apa kau tidak malu membicarakan hal seperti itu," potong Mia. Untunglah di dalam lift itu hanya ada mereka berdua jadi tidak akan ada yang mendengar ocehan me-sum Daniel.
"Untuk apa malu di depan istriku sendiri. Maaf ya, lain kali aku akan lebih lembut agar kau tidak kesakitan seperti ini." Daniel semakin erat memeluk istrinya.
Selama di lift Mia berada dalam pelukan Daniel. Sebenarnya Daniel suka-suka saja, tapi kalau buah kesukaannya menempel di da-da nya bagaimana bisa ia tenang. Juniornya bahkan sudah bangun lagi. Dia harus punya banyak stok sabar kalau punya istri seseksi Mia, sabar jangan sampai dia tidak sabar menerkamnya lagi.
Ting
Sampailah mereka di lantai bawah dimana semua orang telah menunggu pasangan pengantin baru.
__ADS_1
Daniel merangkul pinggang istrinya saat berjalan, katanya biar tidak terlalu ketara dengan jalannya yang aneh.
"Pengantin baru kita datang juga." Semua orang memandang Daniel dan Mia dengan senyum-senyum yang aneh.
"Maaf kami terlambat," ujar Daniel sambil menarik kursi untuk istrinya.
"Tidak apa-apa, Daddy mengerti. Daddy juga pernah muda. Dulu bahkan, Daddy berhasil membuat mommy mu tak bisa jalan," seloroh dad Alex yang langsung mendapatkan cubitan dari istrinya.
"Aww sakit Sayang. Memang benar kan dulu kau sampai tidak bisa turun dari ranjang..."
"Dad!! Tidak usah membicarakan hal seperti itu di depan anak-anak. Kau itu tidak tau malu," omel mom Tania.
Daniel tertawa puas melihat Daddy nya kena Omelan dari mommy. Daddy nya itu kadang-kadang memang harus di marahi agar tidak berbicara sembarangan. Entah kenapa di luar sana dad Alex terkenal galak, berwibawa, kejam dan tidak kenal ampun. Padahal kalau di rumah begitu, takut dengan istrinya.
"Denger tidak, mommy saja sampai tidak bisa berjalan," bisik Daniel pada istrinya yang langsung mendapatkan tatapan tajam menghunus dari istrinya.
"Hehehe..." Daniel tersenyum memamerkan deretan giginya.
Ayah dan anak sama saja.
Felice yang tidak tau apa-apa pun hanya bisa menyaksikan mereka mengobrol. Sambil menerka-nerka apa yang terjadi, malam pertama sampai tidak bisa jalan. Ohh bukankah itu mengerikan. Felice bergidik mendengarnya.
"Nak, kau kenapa?" tanya mamah Emma saat melihat putrinya seperti ketakutan.
"Hehehe... tidak apa-apa Mah. Apa boleh mulai makan sekarang, aku sudah sangat lapar?" tanya Felice pada semua orang.
"Tentu nak, mari kita makan. Tidak usah pedulikan daddy kalian yang gilaa ini." Mom Tania mengajak semua nya untuk memulai sarapan.
Papah Willy juga ada di sana, dia sangat senang karena putrinya menikah dengan laki-laki yang baik dan keluarga Daniel juga sangat baik pada Mia. Setidaknya kalau dia sudah tidak ada putrinya sudah aman bersama keluarga yang menyayangi nya.
"Pah, papah mau pakai lauk yang mana? Biar Mia ambilkan."
"Apa saja nak, terimakasih." Tanpa terasa sudut matanya mulai berair. Salahnya yang menyia-nyiakan waktu kebersamaannya dengan keluarga selama ini. Sekarang saat umurnya tak lagi lama, barulah Willy menyadari betapa berharganya sebuah keluarga.
to be continue...
__ADS_1