Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
S2 Bab 43. Pergi Lagi


__ADS_3

Hari ini Daren dan Lucy memutuskan untuk kembali ke daerah selatan. Menyelesaikan tugas dan kewajiban Daren di sana, sekaligus untuk kembali menata hidup bersama keluarga kecilnya. Hatinya sudah cukup lega sekarang, sudah berlapang dada menerima sikap ayahnya.


"Papi... kita mau pulang?" tanya Zoro. Bocah itu menganggap rumah dinas yang ada di sana sebagai rumahnya. Baginya di sana jauh lebih nyaman, teman-temannya tidak ada yang mencibirnya, tetangga juga tidak ada yang menyebutnya anak penyakitan seperti di rumahnya dulu.


"Iya sayang. Hari ini kita pulang. Apa kau senang?" Daren membawa putranya ke dalam gendongannya.


"Zo senang Pi, Zo kangen teman-teman."


Daren juga bisa melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah putranya.


"Ya ampun, apa Zoro tidak senang tinggal di rumah aunty?" ujar Felice sambil merajuk meski hanya pura-pura.


"No aunty, Zo juga senang disini. Disini ada aunty Felice, aunty Mia, uncle tampan sama Oma. Dan Zo juga senang bermain dengan adik," ujar Zoro yang sudah semakin lancar bicaranya.


"Lalu kenapa Zoro tidak mau tinggal disini?"


"Zo harus pulang ke rumah aunty. Tidak bisa disini terus. Teman-teman Zo juga sudah menunggu." "Tapi nanti kapan-kapan, Zo minta papi untuk ajak-ajak Zo kesini." Bocah itu mencoba menghibur Felice.


"Zo janji?" tanya Felice sambil menunjukkan jari kelingking nya.


"Janji aunty."


Mereka sudah bersiap untuk pergi. Menggunakan mobil yang mereka pakai waktu datang ke sana. Mia dan Daniel tentu sudah menawarkan bantuan, mereka juga mau memberikan mobil yang lebih nyaman tapi Daren menolak semua itu.


Daren bertekad untuk memulai semuanya sendiri. Tidak bergantung pada siapapun lagi. Dia hanya minta satu hal pada sepupunya, yaitu tolong agar Daniel menjaga ayahnya.


"Kakak ipar, Felice, Tante. Aku berterimakasih sekali atas kebaikan kalian, terimakasih telah menjaga istri dan anakku selama aku tidak ada." Daniel membungkukkan tubuhnya untuk berterimakasih. Mereka bukanlah keluarga, sama sekali tidak ada hubungan darah tapi lebih peduli pada istri dan anaknya. Entah apa jadinya kalau tidak ada Keluarga Mia.

__ADS_1


"Tidak usah berterimakasih nak, Lucy dan Zoro adalah keluarga kami juga. Jangan pernah menganggap bahwa kalian sendiri, masih ada kami disini. Kalau kalian tidak punya tempat untuk pulang, datanglah kemari. Rumah kami selalu terbuka untuk kalian." Mamah Emma sudah mewakili putri-putrinya.


Daren sudah berkaca-kaca, tidak ada yang bisa ia katakan lagi. Meskipun Daniel sepupunya yang selalu saja mengalahkannya dulu tapi saat ini kalau tidak ada dia dan keluarganya entah bagaimana jadinya. Mungkin selamanya sang ayah akan terjebak dalam ketamakan. Sementara dirinya dan Lucy selalu akan dibayang-bayangi sang ayah yang pasti akan berusaha memisahkan mereka.


"Terimakasih... " Lirih Daren sambil menyeka sudut matanya.


Namun hal itu membuat semua orang tertawa. Daren sang Casanova dan suka berbuat onar kini sudah berubah dari pria yang penuh melow.


"Kau tidak pantas jadi cengeng seperti ini kak," ledek Felice yang masih tertawa.


Tapi Daren tidak peduli akan ledekan Felice, mau mereka menertawakannya juga dia tidak peduli. Hanya dengan begini dia bisa mengungkapkan perasaannya. Hanya dengan mereka dia bisa menunjukkan sisi lemahnya.


"Papi kenapa menangis?" tanya Zoro.


"Papi tidak menangis, boy. Mata Papi tadi hanya kemasukan debu saja." Daren segera menghapus sisa-sisa air matanya agar sang putra melihatnya, pasalnya dia sering kali mengatakan pada sang putra kalau laki-laki itu tidak boleh menangis.


"Semuanya, kami pergi dulu. Lain kali kami akan datang berkunjung," pamit Daren.


"Mamah, Lucy, kak Mia. Terimakasih... kalian selalu ada untukku dan Zoro."


"Sudah sewajarnya nak, kau juga Putri mamah dan Zoro adalah cucu mamah. Mamah harap kalian akan sering berkunjung, karena mamah sudah terlalu tua dan lemah untuk bepergian jauh."


"Tentu mah, aku dan Zoro akan sering datang dan menelepon mamah." Lucy pun memeluk mamah Emma yang sudah ia anggap ibunya sendiri. Rasanya dia sangat beruntung sekarang, tuhan mungkin mengambil mamahnya tadi tuhan juga mengganti nya dengan banyak orang yang menyayangi nya sekarang.


"Felice, aku pergi. Titip mamah," ujarnya pada Felice. "Dan jangan lupa juga sama saranku semalam, jangan sampai Calvin keburu diambil orang."


"Iya, iya Kak, eh tapi setelah aku pikir tidak masalah kalau dia memang memilih yang lain karena tidak sabar menunggu ku. Itu artinya kami memang tidak berjodoh," Felice cuek. Gadis itu tidak terlalu memikirkan masalah menikah, sampai saat ini pun dia masih belum siap.

__ADS_1


Lucy mengusap lembut kepala Felice. Terkadang dia ingin seperti Felice yang bisa cuek pada apapun yang terjadi. Kalau seperti itu pasti dia tidak akan merasakan sedih saat ayah mertuanya dan semua orang merendahkan nya.


"Kak Mia, terimakasih." Lucy Mungkin tidak terlalu dekat dengan Mia secara emosional dan hubungan tapi Mia dan Daniel lah yang justru telah banyak membantu nya.


"Sama-sama Lucy, jaga dirimu dan kandunganmu. Ibu hamil harus banyak tersenyum dan berpikir positif. Ingat!"


Lucy mengangguk paham, dia juga sudah beberapa kali bertanya pada ahli kemungkinan penyebab Zoro punya penyakit bawaan lahir itu karena dirinya yang terlalu stres saat hamil dulu. Dan kali ini dia tidak akan mengulangi hal yang sama. "Aku akan selalu mengingat pesan kakak."


Barang-barang sudah dimasukkan ke dalam mobil. Semuanya sudah siap. Daren, Lucy dan Zoro bersiap memasuki mobil.


"Dimana Daniel, kakak ipar. Apa dia tidak akan mengantarkan kepergian kami. Dasar sepupu durjana."


"Sepertinya dia akan datang sebentar lagi," kata Mia. "Eh tunggu dia telepon, baru saja di omongin."


Mia pun mengangkat telepon dari suaminya.


"Hallo Dad?."


"Apa...!!!"


...----------------...


...Permisi Semuanya, hai hai hai sobat-sobat othor dimanapun kalian berada. Jangan lupa mampir ke novel othor yang baru ya... Ditunggu semua😍...


Judulnya : Belaian Tante Jelita


rate : No Bocil Bocil 😂

__ADS_1



__ADS_2