
°°°
Mia hanya tersenyum tipis saat kedua wanita itu keluar dari lift.
Sayang sekali kalau mereka mengira Mia akan cemburu, dia malah bersyukur karena tidak jadi menikah dengan laki-laki seperti itu. Yang hanya menjadi benalu di hidupnya. Mungkin dulu dia terlalu dibutakan akan cinta hingga memutuskan untuk menikah dengan Justin .
Sampai di lantai paling atas, Mia langsung berjalan menuju meja kerjanya.
"Mia...," panggil seseorang yang sangat Mia kenal.
Mia hanya melirik sekilas lalu pura-pura tidak mendengarnya, di jam kerja seperti itu tidak baik memberikan contoh yang buruk untuk bawahannya dengan mengobrol.
Sampai di meja kerjanya, Mia langsung mengerjakan pekerjaannya yang tertunda.
Sampai seseorang datang menepuk pundaknya dengan keras.
"Mia, akhirnya kamu datang juga," ujar Catty yang menerobos masuk ke ruangan Mia. Dari sorot matanya sangat jelas kalau dia sedang penasaran dengan sesuatu.
"Ada apa, setiap hari aku juga datang tapi kamu tidak segembira ini melihatku," tukas Mia yang sedang melanjutkan pekerjaannya.
"Ihhh aku itu kan pengin tanya bagaimana pertemuan kamu dengan anak bos tadi," ledek Catty dengan menyenggol lengan temannya yang sedang serius bekerja.
"Bagaimana apanya? Tidak ada yang apa-apa, aku hanya mengantarkan nya pulang."
"Lalu apa terjadi sesuatu yang lain di antara kalian?" Catty mengambil kursi dan duduk di dekat temannya untuk mendengarkan cerita.
Mia mengangkat kepalanya dan menatap temannya, dia menepuk pipi Catty yang sedang menunggu jawabannya.
"Dia hanya anak muda, umurnya bahkan jauh dibawah ku. Apa yang kamu harapkan?" ujar Mia.
"Umur tidak jadi masalah sekarang, yang penting perasaan kalian," ujar Catty, entah apa yang ada dipikirannya, mungkin dia terlalu banyak membaca novel sehingga membayangkan Mia akan berpasangan dengan putra pemilik perusahaan itu.
"Apa kau pikir anak muda jaman sekarang akan tertarik dengan perempuan dewasa dan kuno seperti ku. Beruntung dia tidak memanggilku aunty," ujar Mia.
"Kamu si tidak mau mendengarkan saran ku kemarin. Aku kan sudah menyuruhmu untuk merubah penampilan, kamu itu cantik Mia dan yang paling penting kamu itu seksiii." Catty menggerakkan kedua tangannya membentuk sebuah gitar spanyol untuk menggambarkan bentuk tubuh Mia.
"Sudah sana, kembali ke meja kerjamu," usir Mia, biar bagaimanapun dia lebih tinggi jabatannya dari Catty dan tidak ingin menimbulkan rasa iri pada bawahannya yang lain.
"Iya... iya... nona sekretaris." Dengan mengerucutkan bibirnya, Catty keluar dari ruangan Mia.
__ADS_1
Nona sekretaris... Hmmm
Panggilan itu sudah sering kali ia dengar, tapi entah kenapa saat laki-laki itu yang mengatakannya sangat berkesan di hati Mia.
Panggilan telepon dari kantor CEO membuat Mia menghentikan pekerjaannya.
"Iya Tuan," ujar Mia.
"Baik, saya segera ke sana."
Setelah mematikan teleponnya, Mia bergegas memasuki ruangan CEO atas perintah tuan Alex.
"Permisi Tuan," ujar Mia menyembulkan kepalanya.
"Masuk."
Tuan Alex sedang duduk di kursi kebesarannya. Mia memaku sesaat, saat menyadari jika wajah Daniel sangat mirip dengan ayahnya. Seperti sedang melihat Daniel versi tua.
"Apa kau sudah mengantarkan putraku ke rumah?" tanya tuan Alex.
"Sudah Tuan, tuan muda sudah ada di rumah," jawab Mia.
"Sama-sama Tuan," ujar Mia.
Bisa dilihat kalau tuan Alex sangat menyayangi putranya. Ya namanya juga ayah pasti dia akan menyayangi anaknya. Tidak seperti ayahnya Mia yang bisanya menyusahkan keluarga.
"Dia sudah kembali, aku tau dia tidak suka menjadi pemimpin perusahaan. Dia lebih suka mengerjakan impiannya, tapi kalau bukan padanya pada siapa aku harus menyerahkan semuanya ini." Tuan Alex sedang menceritakan beban pikirannya.
"Mungkin pelan-pelan nanti tuan muda akan mengerti dan mau meneruskan menjalankan perusahaan ini Tuan," ujar Mia sekenanya. Walaupun dia sebenarnya tidak tau mengenai permasalahan keluarga atasannya.
"Tidak, dia tidak akan mau, keinginannya tidak bisa diganggu gugat. Dia tidak akan menyerah hingga impiannya terwujud. Mungkin suatu saat aku harus menutup perusahaan ini." Tuan Alex menyenderkan punggungnya.
"Bagaimana kalau aku menyerahkannya padamu saja, Kamu lebih paham tentang perusahaan ini dan aku akan lebih tenang nantinya," ujar tuan Alex yang hampir membuat Mia jantungan. Bagaimana mungkin segampang itu seseorang mengatakan akan memberikan perusahaannya. Itu terdengar seperti sebuah lelucon.
"Tidak Tuan, saya tidak pantas. Saya hanya orang luar." Lebih baik menolak dari pada mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi.
"Kalau kamu mau, aku tidak peduli pantas tidaknya. Justru kamu sangat pantas Mia."
Kenapa ucapan tuan Alex terdengar sangat serius. Mia justru bergidik mendengarnya.
__ADS_1
"Kalau suatu saat kamu berubah pikiran, katakan saja padaku." Tuan Alex berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah jendela kaca kantornya. Dia berjuang sampai ke titik ini dengan tidak mudah demi istri dan anaknya. Lalu sekarang tidak ada yang mau menggantikannya, bukankah semua itu jadi tidak berguna lagi. Lelahnya, waktunya dan pikirannya terbuang percuma.
Mia memandang tuannya, dia bukan baru sebentar berkerja pada pria itu. Mia sudah cukup tau bagaimana keadaan tuannya. Pasti berat saat anak satu-satunya tidak mau meneruskan usaha kerasnya tapi dia juga tidak bisa memaksa sang putra untuk melakukan apa yang ia inginkan.
Mia sempat berpikir kenapa mereka tidak melahirkan anak yang banyak, bahkan hartanya tidak akan habis sepuluh turunan kalaupun di bagi untuk beberapa anak. Tapi sepertinya tidak semudah itu, sang istri dari atasannya tidak memungkinkan untuk mempunyai anak lagi karena suatu alasan.
Dari situ Mia berpikir, jadi tidak selamanya uang bisa menyelesaikan masalah tapi justru mendatangkan masalah.
Mia kembali ke meja kerjanya setelah pembicaraan yang sangat tidak masuk akal menurutnya.
Ada bos seperti itu, mau memberikan perusahaan pada sekretaris nya. Kalau ada yang dengar pasti mengira aku jadi simpanan bos.
Mia masih tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Sangat tidak masuk akal menurutnya.
Sorenya, Mia pulang lebih awal karena atasannya juga pulang awal hari ini. Bisa dimaklumi pasti bosnya itu ingin segera menemui putranya.
"Mia... ayo pulang. Aku nebeng ya," ujar Catty yang sudah siap untuk pulang.
"Kemana suamimu?" tanya Mia pasalnya temannya itu biasanya pulang dengan suaminya.
"Dia lembur, aku malas pakai taksi. Lebih baik bareng kamu, toh kita searah," ucapnya dengan percaya diri.
"Kalau aku tidak mau bagaimana?" tukas Mia seraya merapikan meja kerjanya.
"Maka aku tidak mau lagi jadi temanmu lagi." Catty melipat kedua tangannya.
Mia tidak memperdulikan ancaman temannya karena ia tau itu tidak mungkin terjadi, dia berlalu begitu saja mendahului Catty.
"Hai Mia, dasar malah aku di tinggal...," pekik Catty seraya segera berlari menyusul temannya untuk menebeng pulang.
to be continue...
°°°
Minta dukungan like komen dan bintang lima 😍 Biar othor nya semangat up.
Gomawo... ❤️❤️❤️
Sehat selalu pembacaku tersayang
__ADS_1