
°°°
Rapat berlangsung dengan lancar. Proyek baru yang akan di garap sudah siap di sepakati. Termasuk siapa saja yang akan memegang nya.
Mia sedang menjelaskan tentang proyek itu pada para staf yang ditunjuk. Ya Daddy Alex hanya perlu mengawasi, semuanya hampir semua Mia yang mengerjakan. Memang dia sudah berniat menyerahkan perusahaan itu pada Mia, tapi mungkin belum saat ini. Dia masih harus mendampingi menantunya sambil mengajarinya pelan-pelan.
"Jadi seperti itu, apa ada yang mau di tanyakan?"
Sejak tadi, kepala Mia sudah terasa pusing. Nyeri di perutnya juga belum sembuh juga. Makan juga tidak enak. Dia sangat lemas saat ini tapi tidak ingin menunjukkan nya di hadapan semua orang. Kecuali Catty yang sudah tau keadaannya sejak tadi pagi. Saat ini pun dia terlihat cemas.
Seketika, tubuh Mia terhuyung ke depan saat seorang staf sedang mengajukan pertanyaan untuknya. Matanya berkunang-kunang seperti tadi pagi, tapi saat ini pandangan matanya mulai menggelap dan tiba-tiba saja tubuhnya lemas. Dan Mia tidak mengingat apa-apa lagi.
"Mia...!?"
"Nona Mia...!?"
Orang-orang yang ada di sana pun seketika panik. Tak terkecuali Daddy Alex dan Catty. Para wanita langsung mengerubungi Mia dan memberi pertolongan. Para laki-laki sibuk mencari bantuan, mereka tentu tau siapa Mia. Salah satu orang terpenting di perusahaan itu, menantu pemilik perusahaan.
Beberapa saat kemudian.
Mia sudah di bawa ke rumah sakit. Beberapa orang terdekat juga sudah berkumpul di sana. Begitu Alex mengabari besannya dan istrinya, mereka langsung menyusul ke rumah sakit.
Semua orang cemas, termasuk mamah Emma yang terlihat sangat bersalah karena tadi pagi seharusnya dia menahan putrinya di rumah. Dengan begitu Mia tidak akan sampai pingsan.
"Sudah Mah, kak Mia pasti tidak kenapa-kenapa. Dia wanita yang kuat, mamah kan tau itu." Felice juga sangat khawatir, tapi dia harus tetap membuat mamahnya tenang.
__ADS_1
"Iya Tante, Mia sudah ditangani oleh dokter. Pasti sebentar lagi sembuh," ujar Catty, ikut menenangkan mamah Emma.
"Ini salah Mamah, mamah yang tidak bisa menjaga Mia dengan baik." Terus menyalahkan diri sendiri.
Felice pun memeluk mamahnya, memberikan ketenangan.
Sementara dia sisi lain pun ada mom Tania yang duduk di samping suaminya. Dia juga sangat mencemaskan menantunya.
"Sebenarnya bagaimana Mia bisa pingsan, Dad?" tanya mom Tania pada suaminya.
"Maafkan aku, aku yang tidak peka saat menantu kita sedang tidak enak badan. Aku membiarkan nya mengurusi rapat." Dad Alex paling panik, dia melihat sendiri bagaimana pucatnya wajah Mia saat tergeletak di ruangan rapat. Rasa bersalah sungguh memenuhi hatinya saat ini, apalagi putranya sudah menitipkan Mia padanya.
"Tidak perlu menyalahkan diri sendiri Dad. Kita berdoa saja agar Mia tidak kenapa-kenapa. Mungkin saja dia hanya kelelahan." Mom Tania menggenggam tangan suaminya.
Cukup lama dokter memeriksa keadaan Mia. Membuat semua orang semakin cemas dibuatnya. Dari mereka, satupun belum ada yang mengabari Daniel selaku suaminya. Mereka tidak mau hal itu membuat Daniel kepikiran. Nanti saja kalau sudah tau keadaannya.
Pintu ruangan terbuka, dokter yang tadi menangani Mia keluar dari ruangan itu. Semua orang langsung bangkit dan mendekat, ingin segera tau kabar Mia.
"Bagaimana keadaan menantu ku, Dok?" tanya Daddy Alex.
Semua orang menunggu dokter itu berbicara.
"Keadaan nona Mia saat ini, asam lambungnya naik lalu tubuhnya sangat lemas dan kekurangan cairan juga tapi untungnya tidak terlalu parah. Sepertinya nona Mia tidak selera makan hari ini sampai lemas seperti itu."
"Iya Dok, tadi pagi dia hanya makan sepotong roti," jawab mamah Emma.
__ADS_1
"Ohh pantas saja," dokter itu mengangguk.
"Bukan penyakit berbahaya kan Dok? Menantu ku akan segera sembuh kan?" Dad Alex penasaran, termasuk semua orang juga.
Tampak dokter itu mengulum senyumnya. "Tidak apa-apa tuan, dia hanya butuh istirahat dan lalu meminum vitamin dan makanan yang sehat. Hal itu normal terjadi pada wanita hamil di trimester pertama, bahkan biasanya mereka akan mengalami mual dan muntah di pagi hari."
Semua orang tampak tercengang mendengar penuturan dokter dan terdiam.
"Maksud anda Dok?" tanya Dad Alex dengan wajah syok.
"Selamat anda akan segera menjadi seorang kakek tuan Starles."
"Benarkah itu dokter? Kau tidak bercanda?"
"Tentu Tuan, saat ini di dalam rahim nona Mia sudah tumbuh calon cucu anda. Usianya sekita delapan Minggu, di usia kehamilan yang masih sangat muda janin masih sangat rentan jadi si calon ibu harus banyak beristirahat dan mendapatkan asupan makanan yang sehat. Nanti akan saya jelaskan lebih lanjut apa saja yang perlu di perhatikan," jelas dokter itu.
Kabar bahagia itu sungguh mengejutkan semua orang. Bahkan sebagian orang pun terharu dibuatnya. Mereka saling berpelukan dan mengucap syukur atas kehadiran calon pewaris selanjutnya di keluarga Starles.
"Aku akan menjadi kakek? Sayang, kau dengar itu. Aku akan jadi kakek, itu artinya kau akan jadi nenek." Dad Alex tampak begitu gembira menyambut calon cucu pertamanya. Cucu yang sangat ia nantikan sekian lama.
"Iya Dad, kita akan mempunyai cucu." Mom Tania juga tidak kalah senangnya.
Mamah Emma, Felice dan Catty juga ikut bahagia mendengarnya. Mereka saling mengucapkan selamat.
"Selamat pak, Bu. Kalian akan menjadi kakek dan nenek," ujar mamah Emma pada besannya.
__ADS_1
"Selamat untukmu juga, besan."