Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
121. Sudah Sangat Rindu


__ADS_3

°°°


Pengawal yang tadi menunjukkan jalan tampak berbicara pada kedua orang tua Yiyi. Sementara gadis itu masih diam di samping Mia. Bukannya segera berlari ke dalam pelukan orangtuanya.


"Sayang, apa mereka mommy dan Daddy Yiyi?" tanya Mia dan gadis itu menagngguk.


Kedua orangtua Yiyi mendekat ke arah mereka. Tapi Yiyi malah beringsut bersembunyi.


"Yiyi... Yiyi sayang...," panggil seorang ibu itu dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Yiyi, itu mommy. Apa Yiyi tidak ingin mengatakan keinginan Yiyi?" bujuk Mia dengan berbisik.


"Yiyi takut aunty, mommy suka marah-marah." Gadis itu mengadu.


Ibu itu yang mendengar hal itu dari mulut putrinya merasa bersalah. Ia kira selama ini putrinya tak pernah sekalipun mengeluh akan sikapnya.


"Tidak sayang, mommy tidak akan marah. Mana mungkin mommy marahin Yiyi," bujuknya.


"Yiyi dengarkan? Mommy Yiyi bilang, dia tidak akan marah. Jadi Yiyi bisa mengatakan apapun pada mommy, apa yang Yiyi suka dan tidak suka." Mia meyakinkan Yiyi lalu menatap wanita yang tak lain adalah ibunya Yiyi, agar wanita itu mengiyakan apa katanya.


"Benar sayang, mommy janji tidak akan marah. Sini sayang, apa Yiyi tidak ingin memeluk mommy?" bujuknya.


Yiyi tampak memandang ragu ibunya dan ayahnya yang diam saja sejak tadi. Dia sungguh sudah kehilangan sosok orang tua dalam hidupnya. Waktunya lebih banyak ia habiskan dengan para pengasuh.


"Sayang, sini nak. Daddy rindu sekali dengan Yiyi." laki-laki itu merentangkan kedua tangannya, berharap sang putri mau berlari ke pelukannya.


"Apa aunty akan pergi setelah ini," berat itu yang Yiyi rasakan, dia ingin menghampiri kedua orangtuanya tapi takut wanita cantik dan baik yang baru ia temui itu pergi.


"Tidak sayang, aunty akan menemani Yiyi disini sampai memastikan kalau mommy dan Daddy Yiyi menemani kamu bermain." Mia meyakinkan gadis itu.

__ADS_1


Dengan langkah yang berat Yiyi pun menghampiri kedua orangtuanya. Menghambur ke pelukan mereka.


"Ohh sayang, kau dari mana saja. Mommy dan Daddy sangat mencemaskan mu nak."


Mia senang melihatnya. Setelah situasi cukup kondusif, dia lalu menceritakan apa yang terjadi dari awal dia bertemu dengan Yiyi sampai gadis itu bercerita dengannya. Keluhan tentang kedua orangtuanya yang sibuk juga Mia ceritakan dan meminta agar mereka lebih memperhatikan Yiyi kedepannya. Walaupun mungkin keadaan luarnya terlihat baik-baik saja tapi belum tentu dalam hati anak-anak itu baik-baik juga.


Daniel yang sejak tadi melihat bagaimana istrinya menangani pasien dan keluarganya pun tersenyum bangga. Ternyata benar kalau wanita yang tadi ia lihat adalah istrinya.


"Terimakasih sekali lagi Nona, terimakasih karena anda sudah mau mengantarkan putri kami kembali. Anda juga sudah menyadarkan kami kalau selama ini kami sudah terlalu mengabaikan Yiyi."


"Sama-sama Nyonya, Yiyi gadis yang manis. Siapa saja yang bertemu dengannya tadi pasti akan melakukan hal yang sama." Mia menemani gadis itu sampai perawat menyuntikkan obat padanya.


"Sepertinya Yiyi sangat menyukai anda, padahal biasanya Yiyi susah berinteraksi dengan orang baru. Apa anda punya anak kecil juga, sepertinya anda sangat pandai membujuk anak-anak."


"Aa... belum nyonya. Saya belum diberi kepercayaan akan hal itu. Mungkin aku masih harus banyak belajar untuk menjadi ibu yang baik sampai Tuhan percaya pada saya, nyonya." Mia tersenyum.


"Kami sedang usaha Nyonya," ujar seseorang yang tiba-tiba datang dan memeluk pinggang Mia.


"Iya dia istri ku, apa aku sudah bisa membawanya pergi." Daniel tersenyum kecil pada wanita yang sempat bersitegang dengan nya itu.


"Tentu Dok, maaf karena kami tadi sempat membuat keributan di rumah sakit ini. Terimakasih sekali untuk istri anda Dok." Wanita itu meminta maaf pada Daniel.


"Tidak apa nyonya, kami mengerti dengan kepanikan kalian tadi. Oh iya, keadaan Yiyi juga semakin baik. Mungkin Minggu depan bisa menjalani operasi kalau dia sesehat ini."


"Benarkah? Terimakasih Dok. Kami akan berusaha menjaga Yiyi dengan baik dan lebih memperhatikannya," ujar wanita itu, sementara sang suami sedang bermain dengan Yiyi.


"Ayo sayang...," ajaknya pada Mia.


"Tunggu sebentar," ujar Mia, dia lalu menghampiri Yiyi.

__ADS_1


"Hai sayang, Yiyi cantik lain kali jangan kabur lagi ya sayang. Kalau Yiyi mau sesuatu katakan saja pada mommy dan Daddy, ok cantik."


"Iya, aunty. Yiyi tidak kabur-kabur lagi. Mommy dan Daddy baik sekarang." Anak kecil memang tidak bisa bohong, apa saja yang ia alami ia katakan sekenanya.


Setelah semua urusan selesai Daniel membawa istrinya ke ruangannya. Sudah sejak tadi dia menahan diri untuk tidak merengkuh istrinya di depan umum. Tindakan Daniel yang seperti tergesa-gesa menggandeng istrinya ke ruangannya pun tak luput dari perhatian para perawat dan dokter. Mereka sampai heran melihat dokter Daniel seperti itu.


"Niel, kenapa kau buru-buru sekali. Lihatlah, orang-orang memperhatikan kita," ujar Mia saat sudah berada di depan ruang istirahat suaminya.


Daniel diam saja tidak menjawab tapi menarik istrinya masuk dan segera mengunci pintu.


"Niel...," Mia cemas apa suaminya marah karena dia datang tiba-tiba. "Niel maaf aku tidak memberitahu mu kalau mau kesini. Aku--." Ucapan Mia terpotong saat suaminya tiba-tiba menarik pinggangnya dan menci-um nya.


Daniel sudah menahan diri sejak tadi, saat sudah berdua tentu dia tidak menyia-nyiakan kesempatan. Segera ia lu-mat habis bi-bir istrinya yang sudah beberapa hari ini tidak ia nikmati karena istrinya yang sibuk membuatnya tidak tega kalau harus meminta jatahnya.


"Kau bisa datang kapanpun kau mau," ujar Daniel setelah cium-aann mereka terlepas. Diusapnya bibir Mia yang basah karena ulahnya.


"Jadi kau buru-buru mengajakku kesini untuk ini, kau licik sekali, Niel." Mia memukul da-da suaminya.


"Apa kau tidak tau kalau aku sangat rindu, sudah berapa hari membiarkan dia menganggur." Menunduk melihat kearah celananya yang sudah menonjol.


Mia membulatkan matanya melihat sesuatu dibawah sana yang sudah menjadi kesukaannya menunjukkan keberadaannya. "Niel, kau-?"


Tak buang-buang waktu lagi, Daniel kembali me-ma-gut bi-bir istrinya. Kali ini lebih brutal dari sebelumnya, tangannya juga tidak tinggal diam. Membuka satu persatu kancing depan kemeja yang istrinya gunakan.


"Niel apa kita akan melakukannya disini?" tanya Mia saat keduanya sudah berkabut gai-rah.


"Iya, disini aman. Tidak akan ada yang berani masuk sebelum aku mengijinkan." Daniel me-re-mas kasar pa-n-tat sintal istrinya lalu kembali menyerang istrinya dengan memberikan rang-sang-an dibagian sensitif nya.


Uhhh... aahhh...

__ADS_1


Kini keduanya sudah ada di atas sofa dengan Mia yang duduk di pangkuan suaminya. Kancing depan pakaian sudah terlepas dan menunjukkan dua buah benda kesukaan Daniel.


°°°


__ADS_2