
Lampu di atas pintu ruangan operasi tiba-tiba saja mati, menunjukan kalau operasi baru saja selesai. Mereka langsung berdiri dengan perasaan yang tidak menentu. Terutama Lucy yang raut wajahnya menyiratkan kecemasan dan jantungnya yang berdebar begitu cepat.
Tidak lama kemudian, Daniel keluar dari ruangan operasi, sudah melepaskan mantel, sarung tangan dan penutup kepalanya tapi masih menggunakan maskernya. Langkahnya cepat menghampiri semua orang yang sudah menunggu. Tidak sabar memberitahu apa hasilnya.
"Bagaimana Dad?" Mia langsung menodong suaminya dengan pertanyaan.
"Iya bagaimana kakak ipar? Cepat katakan pada kami." Felice tidak mau kalah.
"Bagaimana keadaan anak itu Niel?" tanya Daren yang ikut bergabung bersama mereka.
"Ya ampun, kalian ini. Sebaiknya biarkan nak Daniel berbicara lebih dulu," timpal mamah Emma yang melihat mereka bertanya pertanyaan yang sama.
Daniel lebih dulu menarik nafas dalam sebelum berbicara pada mereka. "Anak itu benar-benar beruntung, dia bisa selamat dari penyakitnya dan sekaligus berhasil melewati masa kritisnya," ujar Daniel sambil berdecak kagum, baru kali ini dia melakukan operasi yang seperti ini. Meski anak itu baru berumur dua tahun tapi semangatnya untuk hidup sungguh besar, dia seperti tidak rela meninggalkan ibunya sendirian di dunia ini. Ya Daniel akui kalau dia hampir saja menyerah tadi tapi tiba-tiba saja detak jantung dan denyut nadi anak itu kembali normal dan nafasnya juga kembali teratur.
"Jadi maksud anda, pu-putra saya selamat dok?" tanya Lucy dengan keterkejutannya.
"Benarkah itu Dad?"
Satu anggukan dari kepala Daneil membuat semua orang bisa lega dan tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Dia bukan hanya selamat tapi juga sudah sembuh dari penyakitnya."
Semua orang tidak berhenti bersyukur atas keselamatan dan kesembuhan Zoro. Lucy bahkan masih juga menangis haru dalam pelukan Felice.
"Apa kami bisa melihatnya Dad?" tanya Mia.
"Tidak sayang, dia butuh waktu untuk bisa di jenguk langsung oleh kalian. Tapi nanti kalian bisa melihatnya dari jendela kaca setelah di pindahkan." Daniel mengecup puncak kepala istrinya lembut, saat menyelamatkan Zoro tadi dia terus memikirkan calon anaknya yang belum terlahir ke dunia ini. Entah bagaimana jadinya kalau kemarin dia tidak selamat dalam bencana itu, pasti anaknya akan bernasib sama seperti Zoro, tidak bisa merasakan kasih sayang dari ayahnya.
Daniel pun melihat jam di pergelangan tangannya, sudah hampir tengah malam dan tidak baik bagi ibu hamil jika tidur terlalu malam. Dia pun menghampiri istrinya yang sedang ikut melihat keadaan Zoro dari kaca setelah anak itu dipindahkan.
"Sayang, sebaiknya kita pulang. Kau juga harus memikirkan anak kita," ujar Daniel lirih, tak enak kalau terdengar yang lain juga.
"Lucy, sepertinya aku harus pulang. Apa kau tidak apa ditinggal?" tanya Mia.
"Tidak apa-apa nona, keadaan Zoro juga sudah baik. Aku tinggal mengawasinya saja. Sekali lagi aku berterimakasih pada nona Mia, nona Felice, Tuan Daniel dan nyonya Emma yang sudah mau meluangkan waktunya untuk menemani ku disini. Tanpa kalian, aku tidak tau apa jadinya kalau aku sendirian."
"Jangan berkata seperti itu Lucy, kita ini sudah seperti keluarga jadi apa yang terjadi padamu harus kita hadapi bersama," ujar Felice.
"Benar nak, kau jangan pernah sungkan untuk meminta bantuan pada kami." Mamah Emma mengimbuhi.
__ADS_1
Mia memeluk Lucy sebelum pergi, memberikan usapan di punggung wanita itu. "Kamu wanita yang kuat Lucy, jadilah ibu yang tangguh untuk Zoro."
"Terimakasih nona, aku selalu mengagumi anda. Aku ingin menjadi wanita tangguh seperti anda."
"Pasti, kau akan menjadi yang luar biasa. Bagi Zoro kau adalah cahaya kehidupannya." Diusapnya air mata yang menetes di pipi Lucy, entah sudah berapa banyak air matanya tumpah hari ini, "Jangan tunjukan air matamu di hadapan putramu, tersenyumlah," ujar Mia sambil menarik bibirnya ke atas.
Setelah berpamitan Mia pun pulang bersama mamah Emma, sedangkan Daniel dia harus lebih dulu mengawasi perkembangan anak itu. Setelah operasi besar seperti itu dia tidak bisa pergi begitu saja. Dan Felice memutuskan untuk menemani Lucy, tidak tega kalau membiarkan dia sendiri di sana. Padahal Lucy sudah menyuruhnya untuk pulang saja.
Daren menghampiri Daniel yang ada di ruangannya. Pria itu masih saja ingin memastikan keadaan anak itu.
'Niel, apa kau yakin kalau anak itu akan sembuh segera."
Daniel sedang mengganti pakaiannya, ber-te-lanjang da-da menampilkan otot perutnya yang sempurna di hadapan sepupunya yang masuk nyelonong begitu saja ke dalam ruangan.
"Apa kau mau melihatku mengganti pakaian?" tajam Daniel menyipitkan matanya.
"Tidak, untuk apa? Meskipun bentuk tubuhmu sangat bagus tapi aku masih normal. Tenang saja, kau cukup menjawab pertanyaan ku, aku akan menutup mataku dan tidak akan mengintip." Daren langsung mengatupkan kelopak matanya, agar tidak bisa melihat pemandangan yang mungkin akan menodai matanya.
Daniel pun berbalik membelakangi sepupunya, lalu melepaskan celana panjangnya yang berwarna biru. Untung saja di dalam sana dia masih menggunakan celana pendek, dia tidak segila itu untuk memamerkan tubuhnya di hadapan lelaki.
__ADS_1