Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
S2 Bab 3. Kehilangan Orang Tercinta


__ADS_3

Pekerjaan Felice hari itu hanya membaca berkas-berkas dari sekretaris yang terdahulu dan belajar membuat kopi yang ternyata cukup rumit dan harus teliti. Lalu ikut pria itu meeting dan menemaninya makan siang. Felice jadi berpikir, segampang itukah menjadi sekretaris. Tapi kenapa berbeda dengan kakaknya dulu yang sepertinya banyak sekali pekerjaan sampai kadang diselesaikan di rumah. Mungkin karena dia masih baru sepertinya. Felice tidak mau ambil pusing, yang penting dia digaji tiga kali lipat dari bayaran pemagang yang lainnya.


Felice melihat jarum jam yang menunjukan saatnya jam pulang kantor. Dia melirik atasannya yang tampak masih sibuk. Apa tidak apa-apa kalau dia pulang duluan, pikirnya.


Felice sudah bangun dari duduknya dan bersiap pulang.


"Tuan, apa saya sudah boleh pulang?" tanya Felice. Dilihatnya wajah bos muda itu yang begitu serius dalam bekerja, apa memang seperti laki-laki akan terlihat semakin tampan saat sedang bekerja.


Calvin mengangkat wajahnya, melihat Felice sudah berdiri di depannya.


"Ya, kau boleh pulang." Singkatnya.


"Kalau begitu saya duluan tuan. permisi." Felice menunggu pria itu menyahut lagi tapi dia hanya mengangguk. Ya sudahlah, dia pun mengangkat bahunya acuh. Setelah itu dia pergi dari sana.


Setelah Felice hilang dari balik pintu, barulah Calvin mengangkat kepalanya lagi. Sayang sekali dia tidak bisa pulang cepat, ada pekerjaan yang tidak bisa ia tunda. Kalau tidak pasti dia akan mencari cara agar bisa mengantarkan gadis itu. Calvin mengotak-atik ponselnya dan menelpon seseorang.


"Awasi dia, pastikan dia baik-baik saja sampai di rumahnya." Setelah itu dia kembali mematikan ponselnya.


,,,


Felice pulang menggunakan taksi. Dia punya mobil tentu saja punya dari kakaknya tapi dia tidak ingin memakainya karena tidak ingin terlihat mencolok. Apalagi tempat dia magang hanya perusahaan kecil, bagaimana tanggapan karyawan lama jika melihatnya menaiki mobil mewah.


"Turun disini saja pak," ujar Felice saat taksi yang dinaikinya sampai di depan rumah papahnya. Tak lupa dia menyerahkan bayaran taksinya lalu segera keluar.

__ADS_1


Dia memang lebih sering datang mengunjungi papahnya yang tinggal seorang diri. Ya walaupun ada pelayan tetap saja berbeda dengan keluarga. Sementara kakaknya yang tengah hamil paling hanya saat weekend datang berkunjung bersama suaminya. Mia juga harus sambil mengurus perusahaan karena Dad Alex sudah menyerahkan tanggungjawab perusahaan sepenuhnya pada Mia.


"Pahhh... aku datang." Suara gadis itu melengking di seluruh ruangan.


"Dimana papah ku, bi?" tanya Felice pada pelayan saat tidak mendapati papahnya di lantai bawah.


"Tuan ada di kamarnya, Nona. Beliau baru saja beristirahat," terang si pelayan itu.


"Baiklah aku mengerti." Felice pun langsung saja menuju lantai atas untuk melihat keadaan papahnya yang semakin hari semakin lemah. Dia selalu berdoa agar ke dua orang tuanya itu kembali bersama karena dari yang ia lihat pun mamah Emma masih mencintai papah Willy. Tapi kenyataannya berkata lain, mereka berdua memutuskan untuk tidak kembali bersama. Namun, sepakat untuk menjadi teman dan partner yang baik untuk kedua putrinya.


Ada satu alasan penting yang membuat papah Willy tidak bisa meminta mantan istrinya untuk kembali bersama. Dia tidak ingin kalau dirinya tiada suatu hari nanti membuat sang istri terlalu bersedih dan kehilangan. Ya papah Willy sadar kalau umurnya sudah tidak mungkin bisa lebih lama lagi. Bisa saja hari itu dia kembali ke tangan Sang Pencipta.


"Papah!!"


Felice memaku, pandangannya seketika kosong. Tas yang ia bawa pun terjatuh begitu saja. Baru saja ia membuka pintu, pemandangan pertama yang ia lihat adalah papahnya yang tergeletak di lantai begitu saja. Tubuh yang begitu renta itu meringkuk di atas dinginnya lantai kamar itu.


Seketika tangisnya pecah, tubuhnya langsung melemas. Dipeluknya tubuh yang sudah terasa dingin itu.


"Papah!!" teriak Felice tidak tertahankan lagi. Bagaimana bisa papahnya tergeletak seperti itu, bukannya banyak pekerja di rumah itu.


Teriakkan Felice membuat semua orang yang yang ada di rumah itu pun bergerak menuju kamar tuannya. Betapa terkejutnya mereka saat melihat keadaan tuannya yang sudah tidak bernyawa. Padahal baru saja tadi pria itu ingin tidur katanya dan menyuruh semua pelayan untuk keluar dari kamar.


"Papah, kenapa papah meninggalkan Felice pah. Bukannya papah bilang ingin melihatku menikah." Felice yang begitu dekat dengan papahnya tentu merasa sangat terpukul.

__ADS_1


Semua pelayan menunduk, mereka merasa sangat bersalah dan merasa lalai dengan pekerjaannya.


,,,


Kabar meninggalnya papah Willy sudah menyebar ke semua orang termasuk mamah Emma dan Mia. Tentu saja mereka langsung bergerak ke sana.


Mamah Emma tentu saja merasa sangat sedih atas kematian mantan suaminya. Dia langsung terisak saat mendengar kabar itu, sesampainya di rumah duka pun langsung duduk bersedih di samping jenazah.


"Wiliiam, kenapa secepat ini kau pergi. Bukankah kau sudah berjanji padaku akan menjaga putri-putri kata bersama-sama."


Felice memeluk mamahnya, mereka sama-sama larut dalam kesedihan.


Mia pun sama, dia terus terisak dalam pelukan suaminya. Dia merasa belum membahagiakan papahnya, tapi papah Willy sudah lebih berpulang. Bahkan dia jarang datang berkunjung akhir-akhir ini karena kesibukan di kantor dan kehamilannya.


"Papah, Dad... papah sudah tidak ada," ujar Mia.


"Iya sayang, dengarkan aku. Sekarang papah sudah tidak merasakan sakit lagi, dia pasti lebih bahagia sekarang." Daniel mencoba menenangkan istrinya.


Beberapa saat kemudian, jenazah papah Willy sudah di makamkan. Felice, Mia dan mamah Emma masih sangat terpukul, mereka terus bersimpuh di samping makam, enggan untuk beranjak dari sana.


Maafkan Mia, pah. Mia belum sempat membahagiakan papah.


Mamah Emma juga masih melihat nisan yang bertuliskan nama mantan suaminya. Jadi inikah alasannya kau tidak mau menikah. Karena kau akan pergi lebih dulu meninggalkan ku.

__ADS_1


Felice juga masih berderai air mata, "Papah... kenapa kau meninggalkanku pah."


Daniel pun membiarkan mereka untuk tetap di sana sebentar. Dan juga meminta beberapa pelayan untuk mendampingi adik ipar dan mamah mertuanya.


__ADS_2