
°°°
Mia menyembunyikan wajahnya dalam selimut, mengingat kejadian tadi membuatnya malu setengah mati. Bagaimana bisa dia jadi seperti itu, merindukan belaian sang suami.
Ohh ya ampun, kenapa aku bisa melakukan hal itu. Apa aku sudah mulai gilaa karena terlalu lama berjauhan dengan Daniel. Mia membatin.
Mi-liknya bahkan masih terasa berkedut setelah pelepasan tadi.
Mia mengacak rambutnya sendiri, malu sungguh malu luar biasa. Kenapa tubuhnya jadi gampang berna-psu seperti itu.
Drrttt... ddrttt.
Mia tersentak ketika ponselnya tiba-tiba berdering. Jantungnya mendadak berdebar melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
"Daniel," gumamnya.
Segera ia merapikan rambutnya yang tadi dia acak. Lalu mengangkat panggilan video dari suaminya.
š"Sayang, akhirnya kau mengangkat telepon ku juga. Kau tidak apa-apa kan? Kenapa kau tidak membalas pesanku."
Benar kata mamah, pria itu terlihat begitu cemas karena Mia belum juga membalas pesan nya.
"Maaf tadi aku pergi jalan-jalan dengan Catty, aku lupa membalas pesan dari mu."
š"Tidak apa-apa, yang penting kau baik-baik saja. Syukurlah, aku bisa tenang sekarang."
"Dibalas pun tidak langsung dapat balasan lagi darimu," gumam Mia tapi masih bisa di dengar oleh Daniel.
š"Maaf... sinyal disini benar-benar susah sayang dan masih banyak korban yang memerlukan penanganan."
"Iya aku tau."
š"Apa kau marah?"
"Tidak," jawab Mia singkat.
š"Kau menggemaskan saat marah, kalau aku di sana pasti sudah habis aku makan."
__ADS_1
Mendengar godaan suaminya langsung membuat pipi Mia memerah. Tapi dia berusaha menahannya dan memalingkan wajahnya.
š"Aku merindukanmu..."
Hal itu membuat Mia semakin merona.
"Kalau rindu kenapa masih disitu."
š"Andai kondisi disini sudah kondusif, aku pasti sudah pulang sekarang. Mana bisa aku berlama-lama berjauhan dengan mu. Rasanya sungguh menyiksa lahir dan batin ku."
"Kau gombal..." Mia sedikit tersenyum. lalu menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Tanpa sadar selimut yang tadi dia pegang untuk menutupi bagian tubuhnya yang terbuka, kini melorot dan memperlihatkan sesuatu yang membuat Daniel meneguk salivanya sendiri.
š"Apa kau mencoba menggodaku dengan berpakaian seperti itu."
Mata Mia membulat sempurna, ia lupa kalau sekarang ia hanya memakai lingerie tipis tanpa da-la-man. Buru-buru ia menutupi da-danya yang terekspos.
"Ah... i-tu tadi gerah jadi aku memakai ini."
š"Kenapa ditutup, aku ingin melihatnya lagi. Buka sayang..."
"Kau dimana? Kalau ada yang lihat bagaimana." Mia ragu.
š"Aku di bukit, tidak ada orang disini. Kalau pun ada, mereka juga sibuk dengan ponsel mereka karena hanya disini sinyalnya sedikit kuat."
Mia yang mendengar suaminya terus meminta untuk memperlihatkan apa yang ia tutupi pun akhirnya menyerah. Dia menurunkan selimutnya. Kini tubuh sek-si bagian atasnya bisa terlihat jelas oleh Daniel.
š"Itu sangat indah... kau terlihat sangat sek-si. Aarrggghhh... aku jadi ingin menyentuhnya."
Mia hanya bisa tersipu saat pria itu terus mengagumi tubuhnya. Entah kenapa juga tiba-tiba dia tertantang untuk menggoda suaminya. Dia semakin membusungkan da-danya, hingga benda favorit pria itu semakin jelas nampak di layar ponsel. Bagian pu-c-uk yang sudah mengeras pun semakin menggoda Daniel.
š"Ohhh shiiittt... kau menyiksaku sayang. Bagaimana aku bisa tahan." Daniel menahan suaranya agar tidak mengerang. Takut ada yang dengar dan berpikir yang tidak-tidak.
"Kenapa, apa kau tidak merindukan mereka." Mia menggoyang pundaknya hingga da-danya pun ikut bergoyang. Digigitnya bibir bawahnya juga menggoda.
š"Mia.... sayang. Dari mana kau belajar menggodaku. Kalau aku pulang nanti aku tidak akan melepaskan mu."
"Benarkah, ohh Niel. Lihat ini, kenapa aku merasa dia semakin besar." Mia berani, dia mengeluarkan sebelah kanan gunung ke-mbarnya. Memegang nya, lalu ia dekatkan ke layar.
__ADS_1
Daniel membulatkan matanya sampai mau keluar. Tidak menyangka akan apa yang dilakukan istrinya dan sialnya hal itu membuat yang didalam celananya meronta.
š"Sayang, kau sengaja menggodaku." Aakhhh... bagaimana aku menuntaskan ini.
"Tidak, aku hanya mau menunjukkan kalau ini semakin besar. Lihatlah, kenapa ya? Apa kau juga mau lihat yang satunya lagi."
š"Tidak, jangan lakukan itu!"
"Kenapa? Apa kau tidak mau melihatnya." Mia pura-pura polos.
Mia baru mau menurunkan tali lingerie yang satunya tapi tiba-tiba panggilan video itu terputus.
"Hahaha... kau pasti tidak tahan kan, Niel. Biarkan saja kau merasakan apa yang aku rasakan tadi."
Mia puas, akhirnya bukan hanya dia yang tersiksa. Dia yakin kalau saat ini suaminya sedang frustasi karena ulahnya. Memikirkan caranya pria itu menuntaskan has-ratnya membuat Mia bisa tidur nyenyak juga.
,,,
Di tempat lain. Daniel yang tadi buru-buru mengendarai motor untuk kembali ke tenda. Bahkan saat ada yang menyapanya pun dia abaikan. Dia seperti orang yang sudah kebelet. Ya kebelet keluar.
"Aakhhh... kau sungguh nakal sayang. Kau membuatku bermain sendiri."
Membayangkan buah pepaya yang kenyal itu, dia semakin mengerang. Ia pun memejamkan matanya, membayangkan sedang menja-mah tubuh sang istri.
Aakkkhhh... enak sekali. Benar ini semakin besar. Daniel dalam bayangan nya.
"Aarrggghhh... lebih cepat sayang. Kau semakin pintar uhh... " Kali ini dia membayangkan kalau mi-liknya sedang dia puaskan menggunakan mu-lut sang istri.
Gerakan lima jarinya semakin cepat. Saat ia membayangkan mi-liknya menyatu dengan mi-lik sang istri. Bagian legit yang hangat dan sangat menggigit itu sungguh membuat nya melayang walau hanya membayangkannya saja.
"Aaarrrggghhh..."
Erangan panjang menjadi saksi bagaimana benda kental dan lengket itu keluar, menyembur dari benda tumpul itu. Benih-benih super berjatuhan di bawah, terbuang begitu saja.
Awas kau sayang, habis kau kalau aku pulang.
to be continue...
__ADS_1