Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
106. Permintaan Yang Tidak Gratis


__ADS_3

°°°


Malamnya di hari kelima. Kegiatan mereka masih sama seperti sebelumnya. Lebih banyak melakukan hubungan suami-istri. Tapi setelah Mia membujuk dan mengancam tidak mau memberikan suaminya jatah barulah pria itu mau mengajaknya makan di luar. Itupun saat kembali ke kamar, Mia harus pasrah saat sang suami kembali men-cumbu nya.


"Sampai kapan kita akan disini Niel?" tanya Mia.


"Kenapa sayang, apa kau sudah bosan melakukannya?" mengedipkan matanya.


"Bukan itu Niel, tapi apa kau tidak harus kembali ke rumah sakit. Kasian pasien mu harus menunggu mu terlalu lama." Sebenarnya tidak bosan, hanya saja lelah. Bayangkan saat malam hari Mia tidak bisa tidur nyenyak karena gangguan Daniel yang terus meminta.


"Sebenarnya rumah sakit memberiku ijin sampai seminggu, tapi sepertinya istriku sudah bosan menghabiskan waktu dengan ku." Merubah wajahnya jadi memelas, seakan Mia telah berbuat jahat padanya.


"Sudah aku bilang bukan karena bosan. Berarti masih ada dua hari lagi kan, bagaimana kalau besok kita keluar. Jalan-jalan ya, bagaimana apa kau mau?" tanya Mia dengan penuh harap. "Atau kau malu jalan dengan ku karena aku lebih dewasa darimu?" berubah sendu. Tidak bisa dipungkiri kalau ketakutan akan hal itu masih Mia rasakan sampai saat ini.


"Kapan aku pernah bilang seperti itu. Untuk apa aku malu, bahkan kamu masih terlihat seperti masih gadis," goda Daniel. Sepertinya dia memang harus membuktikan pada istrinya kalau umur bukanlah masalah baginya.


"Jadi kau mau kan, jalan-jalan keluar?" tanya Mia dengan mata berbinar. Dan Daniel mengangguk setuju.


"Terimakasih Niel." Mia menghambur ke pelukan hangat suaminya. Lumayan, karena sekarang dia sudah tidak malu-malu lagi pada Daniel.


"Itu tidak gratis, apa imbalannya untukku?" Lagi-lagi senyum aneh Daniel sematkan di wajahnya. Kalau sudah begitu Mia tidak bisa kabur lagi.


"Iya aku tau, tanpa kau meminta juga akhirnya akan seperti itu."


"Istriku pintar sekali." Mencubit gemas hidung istrinya.


Mereka berbalik memandang indahnya malam dari balkon kamarnya. Dengan Daniel yang memeluk istrinya dari belakang, seakan tidak akan ia biarkan angin malam menyentuh kulit istrinya barang sedikitpun.


"Memang kau mau pergi kemana? Apa ada tempat favorit mu di kota ini." Daniel menopangkan dagunya pada pundak sang istri.


"Di sana," tunjuk Mia pada sebuah tempat. "Aku sudah lama tidak pergi ke sana," lanjutnya.

__ADS_1


"Sungai aster? kau mau ke sana?" tanya Daniel.


"Iya, aku ingin kesana. Menaiki perahu dan berkeliling kota."


"Baiklah besok kita akan ke sana." Daniel semakin mengeratkan pelukannya dengan senyum yang terus tersungging di bibirnya.


Mendengar sungai aster, dia juga ingin ke sana. Hanya saja, dia ragu saat akan mengajak istrinya. Yang ia tau, para wanita sekarang lebih suka berjalan-jalan di mall dan berbelanja. Jarang sekali wanita modern yang ingin mengunjungi tempat tua itu.


Tangan Daniel menelusup mencari kehangatan. Menyentuh perut rata Mia, ya perutnya masih rata. Mungkinkah benih yang ia tanam malam itu tidak tumbuh. Tidak apa lah, dari kemarin dia sudah kembali menanamnya sebanyak mungkin. Kali ini pasti jadi, pikirnya.


"Niel, kita masih di luar." Mia mencegat tangan suaminya yang semakin nakal menyentuh bagian favorit nya. Hingga kimono yang ia pakai hampir terbuka dan menampilkan tubuhnya yang berbalut kain transparan.


"Tidak akan ada yang melihat dengan ketinggian seperti ini."


"Ihh... aku tidak mau. Memangnya kita sedang membuat video ++ sampai melakukannya di tempat terbuka seperti ini." Bagaimana jadinya kalau ada yang melihat dan merekam. Bisa viral dalam semalam. Jarak antar gedung saja berdekatan.


"Baiklah, kita masuk ke dalam." Daniel menggendong istrinya dan membawanya ke dalam karena sang istri tidak mau diajak bersenang-senang di balkon.


Perlahan Daniel menurunkan Mia di atas ranjang, lalu melepaskan semua pakaian yang menempel padanya. Hingga juniornya yang sudah on pun langsung menegak saat terbebas dari sangkarnya.


Walaupun sudah berulang kali Mia melihat dan merasakan mi-lik Daniel mengobrak-abrik mi-liknya ,tapi saat melihatnya masih membuatnya terkagum. Dirasanya benda itu semakin besar saja.


"Kenapa sayang, apa kau sudah mulai menyukai nya?" Maksud Daniel tentu saja juniornya.


"Apa kau mengonsumsi obat penguat dan pembesar? Kenapa setiap hari berbeda ukuranya." Mia menebak asal.


"Kau ini ada-ada saja. Tanpa obat seperti itu saja aku bisa tahan satu sampai dua jam. Bagaimana kalau meminum obat seperti itu, kau bisa pingsan karena kelelahan meladeni ku." Daniel tergelak membayangkan dia ber-cin-ta semalam.


Berbeda dengan Mia yang merinding membayangkan mereka ber-cin-ta sampai pingsan. Mengerikan sekali.


Daniel gemas pada istrinya yang selalu punya pembahasan saat mereka sedang ber-cin-ta. Dia pun segera me-lu-mat bi-bir yang sedang menganga itu. Sebenarnya ingin memasukkan yang lain tapi dia takut istrinya belum basah dan akan menyakitinya.

__ADS_1


Emmm...


Mia juga tidak mau kalah, dia ikut menanggalkan pakaiannya. Sehingga da-da yang indah dan montok terpampang jelas di depan mata suaminya.


"Woooww...," Daniel berdecak kagum. "Yang aneh itu kenapa da-da mu bisa sebesar ini. Apa ini asli?" me-re-mas.


"Tentu saja asli, apa kau pikir itu hasil suntik solihin. Ini asli, lihatlah." Mia malah melakukan gerakan yang membuat Daniel langsung mere-mang, dia me-re-mas da-danya sendiri tanpa sadar justru seperti sedang menggoda suaminya.


"Kau semakin menggoda sayang."


Tak mau buang waktu lagi, Daniel segera memulai permainan mereka. Yang akan menghasilkan peluh keringat dan suara merdu. Membuat Mia menggelinjang hebat dan mengeluarkan cai-rannya di bawah sana.


"Kau sudah basah sayang," ujar Daniel dengan suara seraknya. Tangannya mulai berpindah ke bawah pe-rut. Bagian kedua yang ia sukai juga.


Dibukanya ka-ki Mia lebar-lebar agar ia bisa melihat daging merah merekah yang selalu membuat mi-liknya menggila.


Uhh aahhh..


Lagi-lagi Mia dibuat lemas baru dengan dua jari saja. Belum lagi Daniel menyapukan li-dah nya , dan menggigit biji klit- o- risnya.


"Niel... arrggghh... cepat lakukan Niel," memohon dengan wajah yang sudah sangat memerah. Dia ingin lebih dari itu, ingin sesuatu yang membuat mi-liknya terasa sesak.


Daniel menyeringai, dia selalu puas saat sang istri sangat menikmati permainan nya, sampai ia memohon agar segera di masukkan.


"Aku datang sayang..." Menggoda dengan menggerakkan ujungnya di bagian luar daging basah itu.


"Niel, jangan main-main," pinta Mia.


"Ok, siap tuan putri. Aku akan memulainya sekarang."


to be continue...

__ADS_1


__ADS_2