
°°°
Catty tertawa puas setelah kejadian di lift tadi. Dia berhasil membuat pasangan munafik itu bungkam tanpa berani bersuara lagi.
"Apa kau lihat tadi bagaimana wajah mereka berdua saat mendengar kalau calon suami mu lebih hebat dari Justin geblek itu." Catty terbayang-bayang raut dua manusia hina itu.
"Kau itu suka sekali cari gara-gara dengan mereka, kalau begini aku yang menanggung perbuatan kamu," cicit Mia. Pernyataan Catty tadi pasti memperkeruh suasana di perusahaan ini, mereka yang mendengar pasti bertanya-tanya dan meragukan berita itu.
"Gampang kalau itu, kamu tinggal menikah saja dengan dokter itu. Selesai semuanya, kita jadi tidak dianggap membual," ujar Catty dengan gampangnya.
Mia pun tak mengindahkan ucapan temannya, dia berbelok ke mejanya sendiri.
Tidak terasa waktu bergulir dengan cepat, saatnya Mia mengemas pekerjaannya yang akan ia bawa pulang karena dia ingin memperhatikan mamahnya dengan intens sebelum waktunya operasi.
"Kau bawa pulang lagi pekerjaan mu?" tanya Catty yang sudah lebih dulu bersiap pulang.
"Iya mau bagaimana lagi, aku tidak bisa mengabaikan tanggung jawab ku sebagai sekretaris. Kalau aku tidak menyelesaikan tepat waktu akan jadi masalah nantinya," jawab Mia.
"Tidak bisa dibayangkan bagaimana kalau bos sendiri jadi mertua." Catty terkikik geli membayangkan ucapannya sendiri.
"Isshh... kau meledekku," desis Mia tidak terima.
"Waah kau percaya diri sekali kalau aku sedang meledek mu. Apa kau begitu menginginkan jadi menantu CEO," goda Catty dengan menaik turunkan alisnya.
"Apa sih...," Mia berusaha menyembunyikan pipinya yang pasti sudah memerah.
"Lihatlah, pipi mu bahkan merah. Sebentar lagi kau akan jadi menantu bos, aku tidak bisa meledekmu seperti ini lagi. Ehh jangan lupa minta naikkan gajiku ya...," seloroh Catty, tidak ada salahnya kan memanfaatkan keadaan kalau menguntungkan baginya.
"Jangan harap... akan aku potong gajimu karena terlalu banyak mengobrol saat bekerja." Setelah berkata seperti itu, Mia berlalu meninggalkan temannya yang kesal.
__ADS_1
"Hai... kau bahkan belum jadi bos tapi sudah semena-mena padaku, omooo... sepertinya aku salah karena sudah menyuruhnya menikah dengan dokter itu." Catty bergumam sendiri, membayangkan bagaimana kalau Mia jadi pemimpin yang galak nanti dan dia tidak bisa menggosip lagi saat sedang bekerja.
Hobinya memang menggosip, tidak hanya dengan Mia tapi rekan lainnya juga. Tapi Catty bukan orang yang suka membicarakan temannya sendiri. Hanya orang-orang yang ia tidak suka atau rekan lainnya bicarakan dia akan ikut bergosip.
Mia sudah ada di parkiran. Menuju mobilnya yang terparkir di sana. Baru saja ia mengambil kunci tiba-tiba seseorang datang menarik lengannya.
"Lepaskan!" sentak Mia tidak suka.
"Ok ok... aku lepaskan, tapi aku ingin bertanya sesuatu padamu." Justin, pria itu sengaja menunggu Mia di parkiran. Pasalnya apa yang ia dengar di dalam lift tadi sungguh mengganggu pikirannya.
"Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, jadi kau tidak berhak bertanya apapun," tolak Mia.
"Maaf, aku tau aku salah dan sudah berulang kali aku meminta maaf padamu. Tidak bisakah kita berteman seperti biasa," ujar Justin.
"Tidak perlu karena aku tidak ingin terlibat apapun dengan kalian lagi. Aku harus pergi," tutur Mia, kemudian dia membuka pintu mobilnya.
"Tunggu, apa benar kalau kau akan menikah? Siapa pria itu? apa aku mengenalnya?" Justin menahan pintu mobil itu dengan tangannya.
"Jadi semua itu tidak nyata kan, kau melakukan itu hanya untuk memanasi ku. Aku yakin kau masih mencintai ku." Dengan percaya diri Justin mengatakan hal itu.
Mia tidak menggubris perkataan Justin yang terdengar mustahil di telinganya. Tidak ada gunanya juga menyangkal karena dia tidak punya bukti kalau dia sudah melupakan pria itu.
"Kau diam, berarti benar kan? Begini kalau kau masih mencintai ku, kita bisa..."
"Justin!!" Teriak seorang wanita yang sudah bertanduk kepalanya.
Mia sudah menduga bagaimana akhirnya, dia memilih memanfaatkan kesempatan ini untuk menyingkirkan Justin yang lengang. Dia pun berhasil masuk ke dalam mobil dan segera menyalakan mesinnya.
"Nikmati saja Omelan istrimu itu." Mia tersenyum miring.
__ADS_1
"Mia, kenapa kau pergi. Aku belum selesai bicara." Justin mengetuk kaca mobil Mia.
Tapi Mia tidak peduli dan mulai menginjak pedal gas.
Selamat tinggal mantan. Mia melambaikan tangannya.
Sementara Justin kini salah tingkah karena terpergok istrinya yang pencemburu itu. Tidak ada pilihan lain selain mengkambing hitamkan Mia.
"Sayang, ini tidak seperti yang kau lihat. Tadi aku baru mau mengambil mobil tapi Mia menarikku kesini dan merayuku. Padahal aku sudah mengatakan kalau aku tidak mungkin mengkhianati istri ku." Seperti biasa Daniel yakin kalau kali ini istrinya yang manja itu pasti akan percaya padanya.
"Apa aku kira aku bodoh! Jelas-jelas tadi wanita itu menatap mu tak suka. Bagaimana mungkin dia merayu mu." Sungguh Laura merasa terbodohi. Suaminya itu juga seringkali menyebutkan nama Mia saat sedang mabuk. Sudah jelas kalau suaminya yang masih mengharapkan mantannya.
"Tidak sayang, kamu tau kan aku sangat mencintaimu. Aku bahkan rela meninggalkan nya demi bisa bersamamu. Apa kau ragu padaku?" Justin mengeluarkan ucapan andalannya, karena setiap kali dia berkata seperti itu, sang istri pasti langsung luluh.
"Ini bukan pertama kalinya Justin. Aku juga sering melihat mu diam-diam memandangi wanita itu. Saat kau mabuk juga menyebutkan nama wanita itu, apa kau masih menganggap ku istri mu." Bibir Laura bahkan bergetar saat mengatakan hal itu, unek-uneknya yang selama ini ia tahan sendiri demi menutupi kesedihannya dari orang lain. Karna Laura ingin selalu terlihat bahagia di depan orang lain.
Justin terdiam, tidak menyangka kalau istrinya itu tau apa yang ia lakukan yaitu diam-diam masih mendamba Mia. Dan soal menyebutkan nama Mia saat mabuk, dia juga baru tau. Karna selama ini Laura tidak pernah protes apapun selain meminta uang.
Tapi kali ini Justin melihat sisi lemahnya sang istri, istri yang biasanya merengek meminta uang dan barang mewah atau minta jalan-jalan ke luar negeri. Saat ini menangis tersedu-sedu di depannya.
"Kau jahat Justin, apa kurangnya aku di matamu. Aku sudah cukup sabar menghadapi sifat pelitmu. Apa kau pikir uang darimu bisa untuk membeli barang-barang mewah ku dan bisa jalan-jalan ke luar negeri. Kalau bukan dari orangtuaku mana bisa kita hidup enak."
Selama ini Justin pikir semua uang darinya cukup untuk sang istri, tak menyangka kalau sang istri masih mendapatkan uang dari orangtuanya. Gaji Justin memang kecil, hanya dua puluh juta tapi kalau dia tidak pelit pasti memberikan uangnya pada sang istri. Nyatanya selama ini sang istri hanya di beri lima juta sebulan, itulah kenapa Laura suka merengek.
to be continue...
°°°
Like komen dan bintang lima 😍
__ADS_1
Gomawo 🤗
...Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Maafin author kalau ada salah kata 🙏🙏🙏...