Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
166. Hallo Daddy..


__ADS_3

Saat Daniel masuk ke kamar mandi, Mia tidak tidur. Dia malah bangun dan mengambil sesuatu yang ia simpan di dalam laci dekat ranjang. Diambilnya sebuah kotak yang sudah ia siapkan, untuk ia berikan pada suaminya saat pulang. Sekarang saatnya dia memberikan sang suami tercinta dengan sebuah kejutan besar.


Aku tidak sabar melihat reaksi ayahmu saat melihat ini. Semoga saja dia bahagia menyambut kehadiranmi sayang, ujar Mia dalam hatinya sambil mengusap perutnya.


Jantung Mia begitu berdebar dan gugup menunggu suaminya menyelesaikan mandinya. Dia yang ingin memberikan kejutan tapi dia yang berdebar tidak karuan. Saat ini dia masih belum memakai pakaian, hanya melilitkan selimut di tubuhnya dan duduk di bibir ranjang.


Ceklek.


Pintu kamar mandi terbuka, Daniel keluar dengan menggunakan handuk di pinggangnya. Rambut dan bagian atas tubuhnya masih basah dan banyak tetesan air di otot-otot perut yang semakin menambah kesan sek-si pria itu.


Segera Mia menggeleng, sekarang bukan waktunya untuk memikirkan hal itu. Kenapa juga dia jadi me-sum begini.


"Sayang, kenapa kau bangun?" Daniel menghampiri istrinya yang duduk terdiam sambil memandangi tubuhnya.


"Aku menunggumu, ada sesuatu yang mau aku berikan padamu." Mia pun menyerahkan kotak yang tadi ia pegang.


"Apa ini? Apa hadiah?" tanya Daniel.


"Buka saja, kau akan tau."


Daniel pun membuka kotak yang menyerupai kotak hadiah itu. Dia tidak bisa menebak apa isinya. Mungkinkah hadiah, tapi dia tidak sedang berulang tahun. Dilihatnya sebuah tulisan yang membuatnya membulatkan matanya.


'HALLO DADDY...'


Sebenarnya dia sudah bisa menebak apa maksudnya tapi dia ingin tau lebih banyak dari apa yang ia lihat, takut prank mungkin. Dibukanya sebuah amplop putih berlogo nama sebuah rumah sakit yang melayani ibu dan anak. Dengan tangan gemetar, Daniel membuka amplop yang ia tebak adalah hasil pemeriksaan.

__ADS_1


"Ini... sayang kau... kau hamil?" tanya Daniel dengan mata yang sudah berkaca-kaca, apakah sekarang dirinya yang sedang bermimpi?


Mia tau saat ini suaminya pasti terkejut melihat hasil pemeriksaan itu. Diambilnya tangan sang suami lalu ia letakkan di atas perutnya. "Dia sudah tumbuh disini, apa kau merasakannya?"


"Sayang... ini nyata kan? Aku akan jadi ayah?" Daniel langsung berjongkok dihadapan istrinya dan menghujani perut sang istri dengan ciuman. Sungguh ia sangat bahagia saat ini, sudah sejak awal dia memang menginginkan seorang anak bersama sang istri bahkan sebelum mereka menikah pun Daniel sudah berharap kalau benih nya sudah tumbuh di perut Mia.


Cup cup cup


"Hallo nak, ini daddy... daddy ada disini sekarang." Daniel berbicara pada calon anaknya.


"Hallo daddy, akhirnya kau pulang juga," jawab Mia sambil menirukan suara anak kecil.


"Maafkan daddy karena tidak menyapamu dari awal, setelah ini daddy janji akan selalu berada di sisi mommy mu dan menjaga kalian." Cup, Daniel kembali mendaratkan kecupan yang lembut dan begitu lama.


,,,


Setelah mengetahui kehamilan istrinya, Daniel langsung berubah jadi suami siaga. Dia juga terus saja meminta maaf karena tadi sudah mengajak istrinya. Walaupun Daniel bukan dokter kandungan tapi ia tau kalau seharusnya di trimester pertama jangan dulu melakukan hubungan suami istri. Dia terus bertanya apa perut Mia terasa tidak nyaman dengan raut wajah yang begitu cemas.


"Sayang, maaf. Seharusnya aku tidak melakukan hal itu tadi, sungguh aku tidak mengontrol diriku kalau sudah berada di dekatmu."


Padahal Mia sudah bilang tidak apa-apa karena memang dia  juga menginginkan nya.


"Sayang kita ke dokter ya, aku takut terjadi apa-apa dengan anak kita."


"Untuk apa? Dokterku kan sudah datang," ujar Mia.

__ADS_1


"Beda sayang, kita harus memeriksanya dengan alat USG untuk mengetahui keadaannya."


"Tidak perlu Niel, aku tidak apa-apa," tolak Mia, karena memang dia merasa tidak apa-apa.


"Kau yakin?"


"Iya Niel, sangat yakin. Sekarang ini dia hanya ingin menghabiskan waktu dengan daddynya." Mia menelusupkan wajahnya ke da-da suaminya. Mencium aroma yang membuatnya rindu.


"Ehh Niel?" Tiba-tiba saja Mia teringat sesuatu.


"Ada apa sayang? Kau ingin sesuatu?" tanya Daniel.


"Bukan itu, aku baru ingat kalau dari kemarin itu aku tidak suka mencium bau parfum. Tapi kenapa saat didekat mu aku tidak bereaksi apapun," bingung Mia kerena merasa aneh.


"Benarkah, apa kau seperti mommy dulu saat sedang hamil aku. Kata daddy dulu semua orang di rumah dan di perusahaan sampai dilarang menggunakan parfum karena mommy pasti akan mual."


"Kalau aku tidak mual, tapi kesel dan bikin nggak berselera makan. Tapi sekarang kok aneh, sudah nggak kesel lagi rasanya tapi malahan penginnya di dekat kamu terus, Niel." Mia kembali mendekap tubuh suaminya.


"Mungkin dia tau kalau aku ini daddynya, sayang." Masuk akal juga, mungkin janin itu juga bisa merasakan kehadiran ayahnya.


"Berarti kalau semua orang di rumah ini dan di perusahaan menggunakan parfum yang sama denganmu, aku tidak akan terganggu lagi kan Niel. Bagaimana menurutmu?" tanya Mia dengan wajah berbinar, dia seperti mendapatkan jakpot besar. Pikirnya kalau idenya benar maka di perusahaan tidak akan ada yang mengeluh bau keringat lagi.


Sementara Daniel melongo, parfum yang ia gunakan tentu saja bukan sembarang parfum yang ada di toko isi ulang. Dia membelinya dari luar negeri dan harganya tentu tidak murah. Haruskah dia memesannya untuk semua orang, jumlah karyawan Daddy Alex yang ada di pusat saja ratusan.


Nak, bukannya kata mom Tania dan mamah Emma kau tidak pernah meminta apapun sejak kemarin. Jadi kau menunggu daddy pulang untuk meminta sesuatu.

__ADS_1


__ADS_2