
°°°
Daniel tetap melanjutkan aksinya tak peduli dengan suara ketukan pintu. Dia terus menyapukan li-dahnya pada perut bawah Mia. Membuat istrinya hanya bisa menggeliat.
"Aakhhh... Niel... berhenti dulu ada yang mengetuk pintu." Mia menahan pundak suaminya yang tidak mau menghentikan aksinya di bawah sana.
"Sebentar lagi, biarkan saja." Daniel sudah dalam posisi siap-siap untuk membuka pa-ha Mia.
Tok tok tok.
"Niel... sepertinya orang-orang sudah mencari kita," ujar Mia dengan menahan kakinya sekuat tenaga.
"Biarkan saja, mereka pasti mengerti apa yang sedang kita lakukan." Daniel tidak ingin menghentikan semua itu di tengah jalan tapi sepertinya akan butuh waktu lama agar mereka sama-sama nyaman untuk melakukan hal itu untuk kedua kalinya. Tidak bisa terburu-buru meski kini tubuhnya sudah dikuasai gai-rah dan has-rat ingin melakukan penyatuan.
Tok tok tok.
Shiiittt... sedikit lagi padahal. Siapa yang berani mengganggu ku!
"Niel... " rintih Mia. Dia tak enak jika sampai membuat orang-orang menunggunya.
Daniel mengusap wajahnya dengan kasar lalu mengambil selimut untuk menutupi tubuh Mia yang hampir te-la-njang, hanya menyisakan kain segitiga nya. "Tetap disini jangan kemana-mana, biar aku lihat siapa yang datang," ujar Daniel setelah nya.
Daniel bangkit dan sedikit menenangkan adik kecilnya yang sudah sangat on di balik celananya. Menghirup nafas dalam-dalam dan ia keluarkan.
"Sabarlah, harimu masih panjang dan masih banyak waktu untuk melakukannya," ujar Daniel dalam hati sambil mengusap-usap juniornya.
Mia mengamati dari atas ranjang, apa yang sedang Daniel lakukan. Sedikit ada rasa bersalah dalam hatinya, melihat suaminya tidak mendapatkan apa yang ia mau. Tapi bukankah ini bukan salahnya, dari awal dia sudah bilang kalau tidak mau tapi laki-laki itu terus menyerangnya. Pada akhirnya malah dirinya lah yang dipuaskan, sedangkan Daniel tidak mendapatkannya.
Daniel membuka pintu dengan wajah masam, ingin rasanya dia mencekik siapa saja yang sudah berani mengganggu nya.
"Hai kakak ipar, maaf mengganggu waktumu. Aku harus membawa kakakku untuk bersiap." Dia Felice, gadis yang sudah memberinya kesempatan sebagus tadi. Daniel pun tidak bisa memarahi nya.
Kenapa wajah kakak ipar tidak senang, apa mereka tidak melakukan apa-apa. Tapi dari penampilannya yang berantakan, seharusnya sudah terjadi sesuatu kan. Felice menerka-nerka.
"Nanti aku akan mengantarkannya ke bawah setelah membersihkan diri dan makan. Kau tunggu di bawah saja," ujar Daniel sambil melipat kedua tangannya.
__ADS_1
"Ohh... baiklah, ehh apa kakakku ada di dalam bolehkah aku melihatnya sebentar." Felice penasaran ternyata. Dia pun berjinjit-jinjit untuk melihat keadaan di dalam kamar.
"Sebaiknya kau turun saja, kau masih terlalu kecil untuk mengetahui urusan orang dewasa."
"Ihh.. siapa bilang, aku hanya ingin melihat kak Mia sebentar kak. Ya...," pinta Felice dengan mata memohon.
"Baiklah, kau masuk saja." Daniel pun membukakan pintu untuk adik iparnya. Ia rasa kalau tidak diijinkan pun gadis itu akan tetap memaksa masuk.
"Siapa yang datang Niel?" teriak Mia.
"Aku kak. Hehehe..." Mia melompat di depan kakaknya tapi kemudian matanya membulat sempurna saat menyadari tubuh kakaknya tidak memakai pakaian dan hanya dibalut selimut.
"Felice, kenapa kau masuk kesini!" Mia panik, bagaimana bisa suaminya itu membiarkan adiknya yang masih gadis melihat keadaannya yang seperti ini.
"Jangan salahkan aku, tadi aku sudah melarangnya tapi dia memaksa." Daniel berjalan santai.
Seketika Felice berbalik, dan benar saja dia melihat kamar yang berantakan dan pakaian yang berserakan. Dia menelan ludahnya sendiri. Belum melakukannya bukan berarti tidak tau apa-apa, dia juga pernah melihatnya dalam adegan film dewasa.
Omoo... mataku ternoda.
Apa berarti kakakku sudah tidak pera-wan. Aa... apa aku akan segera memiliki keponakan. Mia senyum-senyum sendiri di dalam lift.
,,,
Beberapa saat kemudian. Mia dan Daniel sudah membersihkan diri. Mereka sedang menyantap makanan yang Daniel bawakan tadi.
"Ini semua gara-gara kau, bagaimana kalau Felice berkata yang aneh-aneh pada orang-orang." Mia masih saja mencemaskan hal itu padahal Daniel sudah berusaha meyakinkan nya tadi.
Tangan Daniel terulur untuk membersihkan sisa saos yang menempel di bibir Mia.
"Kau mau apa?" Mia melotot tajam. Mengantisipasi hal yang sama.
"Aku hanya ingin membersihkan ini." Ibu jari Daniel mengusap bibirnya Mia, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya sendiri.
Apa-apaan pria itu, apa dia tidak merasa jijik. Mia menatap heran.
__ADS_1
"Manis, seperti bibirmu," ujar Daniel dengan senyum menggoda.
"Niel, aku serius!! Kau itu!" kesal Mia.
"Tidak perlu mencemaskan hal seperti itu, jangan membuat pikiran kamu terbebani. Cukup pikirkan aku saja, pikirkan yang sudah kita lalui." Daniel kembali menyantap makanannya.
Ya ampun, aku baru tau kalau laki-laki ini menyebalkan. Lebih baik aku pergi saja.
"Mau kemana?" Mencegat pergelangan tangan Mia saat wanita itu berdiri.
"Mau ke bawah, mereka sudah menunggu terlalu lama. Kau habiskan saja makanan mu, aku turun sendiri saja." Mia berusaha melepaskan tangannya tapi Daniel malah menariknya hingga terjerembap dan duduk di pangkuan pria itu.
"Niel!!" pekik Mia.
"Kau tidak boleh kemana-mana sebelum kau menghabiskan makananmu." Daniel memeluk erat pinggang istrinya hingga ia tidak bisa kemana-mana.
"Aku sudah kenyang Niel, aku mau turun sekarang. Kau itu kenapa selalu semaunya sendiri." Mia hampir saja menangis, matanya sudah berkaca-kaca akibat ulah Daniel.
"Hai... kenapa kau menangis. Maafkan aku, jangan menangis lagi. Aku hanya tidak ingin kamu sakit, lihatlah baru sedikit yang kau makan." Daniel menenangkan Mia, mengusap lembut pipi istrinya yang basah. Lalu mengecupi wajah istrinya.
"Kau jahat! Kau selalu memaksa!" Masih protes.
"Iya aku jahat, aku pemaksa tapi aku tampan dan bisa membuatmu melayang." Daniel malah menggodanya wanitanya yang sedang merajuk itu.
Mia tentu saja semakin kesal, dia menghujani da-da Daniel dengan pukulan hingga pria itu mengaduh kesakitan.
"Awww... kau menyakitiku sayang. Apa kau ingin menjadi janda secepatnya, kenapa memukul ku begitu keras."
"Biarkan saja, lebih baik aku mencari suami yang lebih dewasa bukan pria pemaksa seperti mu."
Hap! Daniel memegang tangan Mia yang masih memukulinya. "Kau bilang apa? Kau mau mencari suami lagi?" Tatap Daniel tajam, entah kenapa dia tidak suka mendengar ucapan Mia barusan.
to be continue...
°°°
__ADS_1