
°°°
Masih isi hati Mia.
Pada akhirnya aku tidak bisa menolak niat baiknya. Aku duduk di depan meja rias. Dengan kedua tangan ku yang sibuk membenarkan kimono yang aku pakai agar tak memperlihatkan apa yang aku sembunyikan. Ya apa lagi kalau bukan ke dua asetku. Walaupun sebenarnya percuma karena bahan kimono yang lembut dan mudah jatuh, membuat pahaku terlihat hampir seluruhnya saat duduk. Ya sudah kulipat saja ke dua kakiku agar menutupi lembah berdaging yang dibalut segitiga berwarna merah.
Kurasakan Daniel mulai mengering rambut ku, tangannya menyelinap di leher belakang ku lalu mengangkat tinggi rambuku. Gerakan itu berlangsung berulangkali dan membuatku merinding sendiri saat jarinya tak sengaja menyentuh leherku.
Ingin ku menggeliat tapi tidak bisa, aku hanya bisa bergerak menggeser-geser pan-tatku dengan resah.
Shhh... Kenapa tubuhku bergetar begini saat dia tak sengaja menyentuh cuping telinga ku. Ku gigit bi-bir sensual ku agar tak mengeluarkan suara luknut. Kapan semua ini berakhir Tuhan, aku sudah tak sanggup.
Aku juga diam-diam memperhatikan suami ku, kulihat jakunnya naik turun menelan ludah. Mungkinkah dia tera-ng-sa-ng karena melihatku. Tapi perasaan sejak tadi dia tidak melihat ku.
Aku akui dia begitu tampan berkali-kali lipat saat penampilannya berantakan. Akhh... seandainya saja dia benar-benar menjadi suami selamanya. Mungkin itu hanya mimpi, dia bisa saja jatuh cinta pada wanita yang lebih muda suatu saat nanti.
Akhirnya selesai juga penderitaan ku, saat angin dari hairdryer yang membuat merinding dan tangan Daniel yang membuat ku bergetar saat tak sengaja menyentuh daerah sen-si-tifku.
"Terimakasih," ucapku, lalu aku segera berdiri agar terbebas dari laki-laki itu.
Deg.
Kurasakan tangan seseorang tiba-tiba melingkar di pinggang dan perutku. Ya siapa lagi kalau bukan Daniel. Bahkan sekarang kepalanya terbenam di leher belakang ku.
Ahhh.... aku tak sanggup lagi, tubuhku lemas seperti tersengat listrik. Siapapun tolong... Tapi sayangnya aku hanya bisa berteriak dalam hati, yang ada mulutku ku bekap sendiri agar tak mengeluarkan suara aneh itu.
__ADS_1
"Jangan ditahan..." Jangan ditahan matamu! Ingin aku teriak tapi yang keluar malah suara yang memalukan.
Shhh... aakhhh...
Aku mencoba melepaskan diri tapi apa, justru sesuatu yang aneh terasa di bagian belakang tubuh ku. Apa itu milik Daniel, mataku sampai membelalakkan. Dia bilang aku jangan banyak bergerak kalau tidak nanti dia tidak tahan lagi.
Apa-apaan dia seenaknya saja, apa dia kira hanya dia saja yang tidak tahan. Kan aku juga sudah tidak tahan, Ups... maksud ku tidak tahan ingin lepas darinya.
Entah kenapa juga aku menurut dan diam, bahkan menikmati sensasi gegi-geli yang bikin merem melek. Aku wanita dewasa dan normal, jadi wajar saja kalau tubuhku bereaksi seperti itu bukan? Tapi bagaimana ini, apa aku biarkan saja sesuatu terjadi lagi di antara kami.
Ku rasakan cium-aann Daniel semakin kemana-mana. Kimono yang aku pakai bahkan sudah terbuka bagian atas karena Daniel terus menciumi kulit punggung ku. Bagian depan jangan ditanya, sudah pasti da-da ku sudah terekspos dengan nyata hanya tertutup kain menerawang.
Eh... Aku terkejut saat tiba-tiba tubuh ku berputar dan kini aku dan Deniel berhadap-hadapan. Tidak ini tidak bisa dibiarkan lagi. Baru saja aku mau protes tapi bibirku sudah dibungkam dengan bi-birnya.
Mati aku!
Cium-aann Daniel semakin liar dan aku tak sanggup lagi mengimbanginya. Bibirku dihi-sap, di-lu-mat dan di-gi-git tanpa ampun. Tubuhku pun digiring hingga menghimpit meja rias. Tiba-tiba saja tubuh ku melayang dan pa-n-tatku mendarat di atas meja rias. Ajaibnya cium-aann kami belum terlepas malah semakin dalam dan menuntut.
Huh hah... Aku menghirup oksigen sebanyak-banyaknya saat Daniel melepaskan bi-birku. Da-da ku naik turun hingga buk-it ken-yal ku pun ikut bergoyang. Sudahlah, aku sudah tidak punya tenaga untuk mencari kimono yang sudah terlepas sejak tadi. Biarkan saja Daniel melihatnya, kami memang sudah sah menjadi suami istri.
Kulihat kancing kemeja Daniel juga sudah hampir terlepas semua. Apa?? Tidak mungkin itu perbuatan tanganku kan, kenapa aku tidak sadar saat melakukan hal itu. Sepertinya tanganku jadi nakal sekarang. Malu sekali aku, padahal sejak awal aku menolak tapi malah melakukan hal itu pada Daniel.
Aku juga merasakan nafas Daniel yang masih tersengal-sengal sama seperti ku. Aku kira dia sangat ahli tapi sama juga. Ehh kenapa dia mendekat lagi, aku pun reflek memejamkan mata.
"Aku sudah berjanji tidak akan melakukan hal lebih tapi kalau seperti ini bagaimana bisa aku tahan. Apa kau sengaja menggodaku."
__ADS_1
Ternyata dia hanya mau menempelkan keningnya di keningku. Kan aku bilang apa, dia pasti mengira aku sengaja menggoda nya. Terpaksa aku menjelaskan yang sebenarnya kalau di dalam koper milikku hanya ada pakaian seperti ini dengan berbeda warna. Ehh.. apa coba dia jawab.
"Sepertinya aku harus berterimakasih pada orang itu."
What!! Aku mengerutkan keningku dan menatapnya tajam. Tapi dia malah tersenyum kuda. Dasar!!
Aku mendorong tubuh nya agar menjauh dan satu tanganku ku gunakan untuk menutupi bagian depanku. Tapi sungguh itu adalah hal yang sia-sia karena tenaganya ternyata kuat juga. Yang ada dia malah semakin menghimpit tubuh ku.
"Cukup Niel, aku tidak mau melanjutkannya!" tegasku.
"Kau sudah membuatnya berdiri lalu tidak mau bertanggung jawab." Senyumnya sungguh mengerikan, apa artinya itu. Apa aku dan dia akan melakukannya. A.. aku belum siap, meski bagian bawah ku sudah basah sejak tadi.
Mataku melotot saat bibir kami menempel lagi. Tapi aneh kali ini dia hanya menempelkannya.
"Niel... Sshh.." Aku menyebut namanya dalam de-sah-an ku saat bibir nya berpindah ke cuping telinga ku. Memainkan li-dahnya di sana dan menggigit dengan gemas. Kalau begini aku hanya bisa pasrah karena tubuh ku sudah tidak bisa kemana-mana lagi.
Puas bermain di telinga ku, kini li-dahnya bergerak menyapu leher ku. Menggigit kecil juga, entah bakal meninggalkan jejak atau tidak.
"Aku ingin membuat tanda kepemilikan agar tidak ada laki-laki yang berani memandangi mu lagi, tapi aku tidak ingin kau malu saat berada di pesta nanti."
Terserah kau sajalah.
POV end
to be continue...
__ADS_1