Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
60. Tak Dianggap


__ADS_3

°°°


Mia sudah memasuki butik itu bersama mom Tania. Pelayan butik sudah berjejer rapi untuk menyambut kedatangan mereka. Dan hari ini butik itu pun sengaja di boking oleh mom Tania agar mereka bisa leluasa disana tanpa ada gangguan.


"Selamat datang Nyonya Starles," sapa seorang wanita dengan pakaian berbeda dengan para pelayan. Dia lah pemilik butik itu, sekaligus desainer ternama yang biasa membuatkan pakaian untuk keluarga-keluarga konglomerat.


"Apa kabar Rose? Lama sekali kita tidak berjumpa."


Mereka berpelukan dan saling melepas rindu.


"Maaf aku terlalu sibuk mengurusi fashion show di luar negeri," ujar wanita yang di panggil Rose itu.


"Kau itu tidak ada lelahnya, bukannya putrimu sudah pintar mengurus sendiri. Desain pakaian nya juga tidak kalah denganmu," ujar mom Tania.


"Dia masih belum bisa di lepas sendiri, aku belum berani memberikan pelanggan-pelanggan ku padanya. Tau sendiri kalau orang-orang berduit itu suka banyak maunya, dan putriku pasti belum bisa menangani mereka."


"Tapi kau juga harus memberinya kesempatan agar dia berkembang. Gadis itu pasti sudah dewasa sekarang, lama sekali aku tidak melihatnya." Mom Tania seperti bernostalgia dengan sahabat lamanya.


Sementara Mia sejak tadi hanya sebagai penyimak yang baik. Tanpa bersuara, ya mungkin terlihat seperti seorang asisten.


Untungnya dia tidak ambil pusing karena dia tau posisinya sendiri.


"Ahh iya dia sudah tumbuh dewasa dan cantik, dia juga sering menanyakan kabar kalian. Sayang sekali aku juga jarang bertemu dengan mu," ujar Rose terlihat begitu nyaman berbicara dengan mom Tania. Ya mereka sangat cocok, Mungkin karena dari kalangan yang sama.


"Mana mungkin dia menanyakan ku, paling dia menanyakan Daniel. Mereka itu dulu tidak terpisahkan saat masih kecil, tidak menyangka setelah sama-sama besar malah pergi dengan tujuan sendiri-sendiri."


"Ya mereka mengejar cita-cita mereka, coba saja mereka bertemu saat ini. Mungkin kita bisa menjadi besan. Hahaha...."


Mereka tertawa bersama sangat seru dan menyenangkan. Berbeda dengan Mia yang merasa kehadirannya tidak begitu diharapkan di sana. Atau mungkin dia terganggu dengan candaan mereka tadi. Ahhh apa mungkin Mia kesal saat ada orang lain yang menginginkan Daniel menjadi menantunya.


Tidak, Mia ingin membohongi dirinya kalau dia sama sekali tidak terpengaruh tapi nyatanya saat ini perasaannya tidak tenang. Entah apa yang membuatnya takut. Apa ia takut jika gadis yang mereka bicarakan tiba-tiba ada di sana dan bertemu dengan Daniel lalu cinta masa kecil mereka kembali bersemi.


Aaa... membayangkan hal itu saja Mia kesal apalagi kalau sampai terjadi.

__ADS_1


"Sayangnya kita tidak ditakdirkan menjadi besan karena putraku sebentar lagi akan menikah," ujar mom Tania.


Mia menoleh pada calon ibu mertuanya itu, tidak menyangka kalau wanita itu akan mengatakan hal itu. Ia pikir tadi dia barusan dilupakan, atau bahkan tidak dianggap orang.


"Oh ya, sayang sekali. Padahal mereka sangat cocok dari kecil." Wanita yang bernama Rose itu memaksakan senyumnya, ya menurut Mia dia hanya terpaksa tersenyum yang sebenarnya dia kecewa mendengar Daniel sudah akan menikah.


Masih banyak laki-laki di luar sana kenapa harus menginginkan Daniel juga. Tidak ada salahnya sih, salahkan Daniel yang terlalu sempurna sehingga banyak para ibu yang menginginkannya untuk menjadi menantunya.


"Aku doakan semoga Zoya bisa mendapatkan pendamping hidup yang sama hebatnya seperti dia yang bersinar saat ini," ucap mom Tania tulus. Jujur saja mom Tania pernah punya rencana seperti itu karena melihat bagaimana dekatnya mereka saat kecil. Tapi sekali lagi, tidak ada yang bisa melawan takdir.


Jadi Zoya namanya, Zoya... Zoya... Mia seperti sering mendengar nama itu. Aah dia seperti nama brand pakaian yang terkenal itu. Dia juga suka wara-wiri di televisi dan banyak mendapatkan penghargaan sebagai desainer muda. Mungkinkah memang dia yang dimaksud. Kalau memang itu dia bukankah akan sangat serasi bila bersanding dengan Daniel.


Mia mengipaskan tangannya, di ruangan ber-AC itu bahkan ia merasa gerah hanya dengan memikirkan hal itu. Apa mungkin seharusnya dia tidak datang.


"Sayang sekali mereka tidak bisa bersama," ujar Rose masih dengan nada kecewa.


Ya mau bagaimana, mereka tidak jodoh. Itu sudah cukup jadi jawaban. Mau sedekat apapun mereka di masa kecil belum tentu juga mereka cocok sekarang.


Suara Daniel mengalihkan perhatian semua orang.


"Tidak apa-apa, kami juga baru datang," ujar mom Tania.


"Hai Niel, apa kau masih ingat pada Tante?" sapa Rose ramah. Dia menyapa orang yang baru datang tapi Mia yang sejak tadi ada di sana sama sekali tidak pernah ia sapa.


Heh!


Mia juga tidak butuh di sapa, kalau bukan mom Tania yang mengajaknya ke sana. Dia juga tidak mau datang lagi.


"Tentu ingat, bagaimana kabar Tante?" sapa Daniel.


Ini lagi satu, bukannya sapa dulu calon istrinya malah menyapa yang tidak penting.


"Kabar Tante baik, Tante rindu sekali dengan kalian. Sepertinya kapan-kapan kita harus makan bersama." Rose senang seperti masih mempunyai kesempatan untuk mempunyai menantu dari keluarga Starles.

__ADS_1


"Mungkin kapan-kapan Tante, karena akhir-akhir ini mom dan aku pasti sibuk untuk mengurus pernikahan ku," ujar Daniel.


"Ohh iya maaf Tante lupa," Rose tertawa untuk menutupi rasa malunya. Lupa apanya sejak tadi mom Tania juga sudah mengatakannya.


"Mom bagaimana? apa sudah dicoba gaunnya?" tanya Daniel pada mommy nya.


"Oh ya dari tadi mengobrol dengan Tante Rose sampai lupa dengan gaunnya. Di mana gaunnya Rose, biar calon menantu ku mencobanya," ujar mom Tania.


"Bukannya dia belum datang, jadi kita mengobrol dulu tadi." Rose tersenyum kuda.


"Mom, apa mom belum memperkenalkannya pada Tante Rose?" Daniel menatap mamahnya kecewa, entah apa yang terjadi sebelum ia datang tadi.


"Maaf Niel, mommy tadi terlalu asyik membahas masa kecilmu dengan Zoya. Jadi mom lupa..."


"Tante Rose, perkenalkan ini Mia calon istriku." Daniel menarik pinggang Mia agar mendekat padanya. Rasa bersalah sungguh menyusup dalam hatinya. Bagaimana sang calon istri di perlakukan sejak tadi.


"Ohhh jadi ini, maaf tadi Tante tidak melihat ada orang lain disini."


Mia menunduk mendengar hal itu, mungkin memang benar jika dia seharusnya ada di sana.


"Maaf mom, Tante Rose. Sepertinya butik ini tidak cocok untuk istriku. Kami akan mencari butik yang mau menerima istri ku dengan baik." Daniel membungkuk.


Mia sungguh tidak menyangka kalau Daniel akan membelanya seperti itu. Dia jadi merasa bersalah, karenanya Daniel harus memusuhi wanita itu.


"Maaf Niel, maksud Tante bukan begitu..."


"Mom, kami pergi. Daniel sendiri yang akan memilihkan gaun untuk Mia," pamit Daniel dengan berapi-api.


to be continue...


°°°


Yuk komen🤭

__ADS_1


__ADS_2