
°°°
Sore hari yang melelahkan. Mia baru saja pulang dari kantor. Beruntungnya, calon anaknya mudah diajak bekerjasama. Tidak membuatnya banyak mengeluh, hanya cukup tercukupi urusan perutnya saja sudah cukup.
"Mah... Mom... aku pulang," sapa Mia pada mamah dan mom Tania yang masih tinggal dirumahnya. Mereka sedang mengobrol santai di ruang tamu.
"Sayang kau sudah pulang? Sini duduk," ujar Mom Tania yang lalu sedikit memberi jarak dekat mamah Emma agar Mia duduk di tengah-tengah.
Mia pun menurut, dia sangat senang kalau seperti itu. Disayang oleh dua orang ibu rasanya sangat bahagia. Apalagi perhatian mereka yang tidak tanggung-tanggung.
"Bagaimana kabar cucu grandmom? Dia tidak nakal kan hari ini?" tanya mom Tania berbicara pada janin yang ada di perut Mia, sambil mengusap lembut perut Mia.
"Dia selalu menurut dan sangat pengertian Mom," ujar Mia sambil tersenyum simpul. Anaknya memang tidak terlalu menyusahkan nya, makan apa saja juga mau tidak pilih-pilih. Hanya saja dia terlalu sensitif pada bau-bauan, di perusahaan pun Dad Alex sudah memerintahkan seluruh karyawan untuk tidak memakai parfum agar menantunya tidak terganggu.
Sementara mamah Emma mengusap lembut punggung putrinya. Sungguh berat ujian yang dilalui Mia, dari dia kecil sampai beranjak dewasa dia belum pernah memikirkan kebahagiaannya. Baru saja saat mengenal Daniel hidupnya sedikit berubah dan berwarna, tapi ada saja cobaannya.
'Syukurlah nak Daniel sudah ditemukan dan dia baik-baik saja. Semoga setelah ini tidak ada lagi hal yang membuat mu bersedih nak.' Harap mamah Emma dalam hatinya.
__ADS_1
"Mom, Mah... aku ke kamar dulu ya. Mau mandi dulu, rasanya sudah sangat bau keringat," pamit Mia. Sambil menciumi bau tubuhnya sendiri yang terasa sangat bau keringat, itu karena dia tidak bisa menggunakan parfum.
Mom Tania dan mamah Emma sama-sama terkekeh.
"Bagaimana tidak bau kalau kau tidak menggunakan parfum nak," seloroh mamah Emma.
"Iya mau bagaimana Mah, lebih baik mencium bau keringat dari pada mencium bau parfum."
"Ya sudah sana kamu mandi, nanti turun kalau makan malam. Oh iya, kamu mau dimasakin apa nak malam ini?" tanya mom Tania.
"Apa saja Mom, aku akan memakan apapun yang mommy dan mamah masak. Rasanya sangat enak masakan kalian, aku jadi mendadak lapar." Mengusap-usap perutnya. "Aku mau mandi dulu." Buru-buru Mia pergi sebelum perutnya kembali minta diisi, padahal tadi dijalan pun dia baru saja mampir makan kue bersama Catty.
"Iya Mah, taruh saja di meja kamar," ujar Mia sedikit berteriak karena dia sudah berada di tangga atas.
Dua ibu itu melihat Mia yang sudah mulai menghilang dari pandangan mereka. Rasanya lega melihat Mia sudah tidak terlalu terpuruk.
"Rasanya aku ingin memberitahu Mia kalau suaminya sudah ditemukan dan akan pulang hari ini," ujar mom Tania.
__ADS_1
"Iya jeng, pasti Mia akan sangat bahagia mendengarnya. Tapi Daniel sendiri yang meminta agar kita tidak memberitahu Mia. Kita hanya bisa mengikuti kemauan mereka."
"Kau benar jeng Emma, anak muda memang selalu ribet. Ayo kita masak saja," ajak mom Tania.
"Kira-kira jam berapa mereka akan sampai jeng? Apa kita masak yang banyak malam ini?"
"Tidak perlu jeng, sepertinya sampai tengah malam. Banyak yang harus diurus dan ingin bertemu mereka juga."
Mom Tania, mamah Emma dan Felice sudah mengetahui mengenai kabar Daniel yang sudah ditemukan. Mereka pun diminta untuk merahasiakan nya dari Mia, sesuai permintaan Daniel. Tadi siang saat Mia di kantor, mereka sudah berkomunikasi lewat panggilan video. Betapa bahagianya mom Tania saat mengetahui putra satu-satunya selamat.
Mereka berdua pun kembali melanjutkan obrolan di dapur sambil memasak. Selama mom Tania tinggal di sana, mereka jadi lebih akrab. Banyak melakukan kegiatan bersama-sama. Saat mom Tania sakit dan pingsan karena memikirkan putranya juga mamah Emma yang selalu merawat besannya saat Mia ke kantor.
,,,
Mia baru saja selesai mandi, tubuhnya jauh lebih segar dan harum sabun mandi. Saat ini dia sedang mengeringkan tubuh nya dengan handuk, berdiri di depan cermin besar yang ada di kamar mandi. Dia memiringkan tubuhnya untuk melihat perutnya yang sudah mulai terlihat membuncit meski belum begitu ketara.
"Tumbuhlah sehat anakku... meskipun nanti ayah mu tidak bisa bersama kita tapi ibu janji akan memberikan kasih sayang yang melimpah padamu, sampai kau tidak akan merasakan kekurangan kasih sayang sedikitpun. Ada grandmom, granddad, nenek Emma dan aunty Felice juga yang akan menyayangimu."
__ADS_1
"Kau harus jadi anak yang kuat, ibu sangat menyayangi mu nak. Kau adalah alasan ibu satu-satunya agar tetap tegar dan kuat meskipun tanpa ayahmu."
Setetes air mata mengalir dari sudut matanya, di bagian da-danya terasa nyeri memikirkan anaknya yang belum lahir ke dunia. Haruskah dia bernasib sama seperti nya, tidak bisa bisa merasa kasih sayang seorang ayah bahkan sebelum dia lahir.