
°°°
Seusai makan malam, Daniel juga menceritakan niatnya pada mamah Emma dan Felice. Saat ini mereka sedang duduk di ruang keluarga. Daniel menjelaskan semuanya. Sementara Mia lebih memilih masuk duluan ke dalam kamar.
"Jadi begitu Mah, Fel. Aku berniat menjadi relawan untuk menolong para korban bencana."
Mamah Emma dan Felice mendengarkan nya dengan seksama. Cukup terkejut juga mengenai keputusan Daniel. Tapi mereka juga tidak berhak melarang nya.
"Nak, mamah bangga padamu. Kau begitu peduli dengan sesama, jarang anak muda yang berpikir seperti mu. Namun, apa kau sudah memikirkan hal itu dengan matang. Mamah dengar dari beberapa berita kalau gempa susulan masih terus terjadi sampai saat ini."
Felice manggut-manggut saja, dia juga sepemikiran dengan sang mamah. Saat ini bukan ranah nya untuk berbicara.
"Sudah mah, sebelum ini selama di luar negeri aku juga sering menjadi relawan. Aku akan menjaga diri dengan baik, aku pasti akan kembali pada istriku," mantap Daniel, tidak goyah lagi.
"Kalau begitu, kami hanya bisa mendoakan kamu, nak. Tolong jaga diri dengan baik saat di sana." Mamah Emma tidak bisa menahan pria itu.
"Aku janji akan jaga diri mah, terimakasih karena sudah percaya dengan ku." Saat ini tugasnya hanya perlu meyakinkan istrinya.
,,,
Di dalam kamar.
Mia duduk merenung dan bersandar pada kepala ranjang. Memikirkan rencana suaminya. Mia tau kalau suaminya itu sangatlah peduli dengan orang lain. Sebenarnya hal itu tidak buruk tapi membiarkan Daniel pergi ke tempat berbahaya seperti itu rasanya berat. Ya ia takut sesuatu yang buruk menimpa laki-laki yang sudah menjadi bagian dari hidup nya.
__ADS_1
Ceklek.
Pintu kamar terbuka, Daniel kembali ke dalam kamar setelah berbicara dengan mamah Emma dan adik iparnya.
Dilihatnya sang istri yang masih belum tidur. Dia memilih untuk masuk ke dalam kamar mandi lebih dulu untuk menggosok gigi sebelum menyusul istrinya di tempat tidur.
Mia memperhatikan suaminya, salam hatinya ingin berkata "Bisakah aku berkata jangan pergi, jangan pergi Niel. Aku takut..."
Namun, apakah artinya dia egois. Selain menjadi suaminya Daniel juga seorang dokter yang artinya juga milik pasiennya. Egoiskah Mia kalau melarang suaminya pergi?
Sampai pria itu keluar dari kamar mandi dan bergerak duduk di sampingnya. Mia masih berperang dengan pikirannya sendiri.
"Tidak perlu mencemaskan banyak hal, aku pasti akan jaga diri. Aku bukan mau pergi ke medan perang. Hanya mau membantu mereka yang membutuhkan bantuan ku."
Daniel tersenyum mendengar ucapan istrinya. Lalu mendaratkan kecupan di kening istrinya berulang kali.
"Apa kau tau, awalnya aku juga ingin mengabaikan mereka. Untuk apa aku susah-susah kesana dan meninggalkan istriku yang cantik ini," goda Daniel. "Tapi, saat paman Sam mengumumkan hal itu. Hanya ada satu dua dokter dan perawat yang mendaftar, mereka banyak berpikir dan banyak pertimbangan."
Mia mendengarkan dengan baik.
"Bagaimana aku bisa diam saat itu. Jumlah itu tentu saja belum cukup untuk membantu kan. Saat itu lah aku putuskan untuk mendaftar dan apa kau tau apa yang terjadi. Para dokter dan petugas lainnya berbondong-bondong juga ikut mendaftar. Lalu kalau tiba-tiba aku batal ikut, menurutmu apa mereka juga akan tetap pergi?"
Mia terdiam dan mencerna setiap kalimat yang dilontarkan suaminya. Benar juga pemikiran Daniel, Mia tidak menyangka kalau banyak yang tidak mau jadi relawan.
__ADS_1
"Daddy pasti bisa melakukan sesuatu kan?" tanya Mia.
"Ya aku juga sempat berpikir seperti itu. Daddy bisa mengirimkan banyak bantuan termasuk para relawan. Mengandalkan uang, semua bisa teratasi. Tapi, bagaimana kalau orang yang Daddy bayar tidak bekerja dengan baik karena mereka hanya terpaksa demi uang. Bukannya lebih baik uang yang jumlahnya banyak itu di berikan pada para relawan yang dengan tulus membantu."
Mia menjauhkan tubuhnya dan memandangi wajah tampan suaminya. Dia sempat ingin berpikir egois tapi ternyata Daniel sudah memikirkan hal itu dengan sangat matang.
"Biar aku bantu mengemasi barang-barang mu."
Daniel tersenyum senang melihat reaksi istrinya. Wanita itu memang sangat pintar dan dengan cepat mencerna apa yang Daniel katakan.
Dan malam itu Mia membantu suami nya berkemas. Beberapa pakaian tebal yang bisa melindungi Daniel dari benda-benda tajam, Mia bawakan. Ya mungkin saja di sana banyak puing-puing bangunan yang bisa menyakiti suaminya. Sepatu dan mantel juga tidak lupa.
Setelah berkemas Mia memilih bermanja-manja pada suaminya. Menikmati momen sebelum besok berpisah. Sambil bercerita juga, beberapa pengalaman Daniel saat menjadi relawan. Lalu nanti mungkin dari perusahaan star company juga akan banyak menyumbang bantuan.
Bahkan Mia sempat berceletuk kalau ia berharap dad Alex juga mengirim nya ke sana. Untuk mengantarkan bantuan.
Tentu saja Daniel tidak setuju, tidak ingin istrinya kenapa-napa.
"Hai!! Bukankah itu tidak adil. Kau boleh pergi tapi aku tidak."
"Kau wanita sayang, dan kau juga belum pengalaman di tempat bencana. Bisa jadi para pengungsi juga menjadi bar-bar karena kurangnya makanan dan keperluan mereka. Aku tidak mau kau terluka sedikitpun."
"Kau tidak adil." Mia melipat kedua tangannya.
__ADS_1
"Kau cukup tunggu aku di rumah dan jaga kesehatan dengan baik selama aku tidak ada."