Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
S2 Bab 21. Menyadari


__ADS_3

Daren berperang dengan pikirannya sendiri. Dia masih ragu akan perasaannya pada wanita yang senyumnya kini membayangi hari-harinya. Seminggu adalah waktu yang sangat singkat untuknya tapi dia juga bersyukur karena bocah yang sudah ia tolong akhirnya bisa merasakan udara bebas juga. Namun, nyatanya bukan hanya Zoro yang merasa tak bahagia karena bisa pulang, Daren pun sama. Ingin rasanya dia mencegah mereka untuk pergi tapi itu tidak mungkin.


Daren mendongakkan wajahnya ke atas, memejamkan matanya. Memikirkan langkah apa yang akan dia ambil selanjutnya. Tapi tiba-tiba saja wajah Zoro yang tadi pagi tampak berbeda terlintas di kepalanya. Dia sempat heran kenapa bocah itu tampak cuek dan acuh padanya, dan Daren juga merasa aneh karena dia seolah tidak suka saat anak itu mengabaikannya.


Sebenarnya perasaan apa ini, kenapa membuatku seperti ini. Shiiittt...


Daren berdecih, dia muak dengan dirinya yang lemah seperti ini. Bukannya wanita adalah mainan untuknya lalu kenapa sekarang dia harus disiksa oleh perasaan. "Ohhh god... aku harus menemui mereka." Dia bangun dan segera berlari ke ruangan yang sudah beberapa hari ini sering ia kunjungi. Jas putih kebesarannya tampak menggembung menabrak angin, tangannya mengayun cepat seirama dengan langkah kakinya.


,,,


Mia baru saja kembali dari ruangan suaminya, rambut dan make up nya yang berantakan karena perbuatan suaminya sudah ia rapikan sebelum. Dress nya tidak ia ganti karena tadi Daniel sudah melepasnya sebelum kusut. Tapi yang berbeda adalah wajahnya tampak berseri-seri karena memikirkan permainan singkatnya bersama sang suami tadi.


Mamah Emma dan Lucy yang melihat hal itu pun ikut tersenyum sendiri.


Ceklek.


"Apa semuanya sudah siap?" tanya Daniel yang baru saja tiba setelah mengambil obat. Ya pria itu memutuskan ikut mengantarkan Lucy dan putranya pulang. Terlebih lagi karena dia khawatir pada istrinya yang baru saja dia ajak olah raga singkat tapi cukup memuaskan.

__ADS_1


"Sudah tuan," ujar Lucy yang sudah siap dengan satu tas besar di tangannya.


"Bagaimana dengan kamu boy, apa kamu senang akan pulang?" tanya Daniel pada Zoro yang tampak tidak bersemangat seperti kata Mia. Bocah itu hanya mengangguk lalu kembali tertunduk di pelukan ibunya.


Mia pun menghampiri suaminya lalu bergelayut pada lengan kekarnya, "Ayo pergi sekarang," ajaknya. "Oh iya Lucy, sebaiknya Zoro biar suamiku saja yang menggendong, biar kamu tidak kesusahan."


Sesuai permintaan istrinya Daniel pun mengulurkan tangannya pada Zoro tapi bocah itu tidak mau menerimanya. Dia tetap kekeuh di gendongan ibunya yang tampak kesusahan karena harus membawa tas juga.


"Tidak apa-apa nona, biar saya saja," ujar Lucy. Daniel dan Mia saling pandang lalu mereka pun mengangguk, dengan cepat Daniel menyambar tas besar yang Lucy bawa karena tak ingin lagi memaksa bocah itu, takut nantinya malah membuatnya menangis.


"Tidak apa Lucy," potong Mia.


Mereka pun berjalan keluar dari rumah sakit, Mia dan suaminya berjalan berdampingan sambil bergandengan tangan dengan satu tangan Daniel membawa tas. Disusul mamah Emma dan Lucy beserta Zoro di belakang.


Zoro, bocah itu sejak tadi terus memandang ke belakang berharap melihat seseorang yang tadi pagi ia acuhkan keberadaannya. Dia ingin sekali punya satu kesempatan bertemu sekali lagi dengan pria dewasa itu ingin mengucapkan salam perpisahan dan berterimakasih karena sudah menemaninya selama di rumah sakit itu lalu satu lagi ada yang sangat ingin ia tanyakan.


Di sisi lain.

__ADS_1


Daren hampir tiba di ruangan yang ditujunya, seharusnya dia tiba lebih cepat tapi tiba-tiba telepon dari UGD membuatnya harus menunda keinginannya untuk segera bertemu dengan Zoro. Dia sempet menghubungi Daniel agar pria itu mencegah mereka pulang sampai ia datang, tapi sialnya sepupunya itu sama sekali tidak meresponnya. Mia pun sama, dia hanya membaca pesannya tanpa membalasnya.


"Semoga saja aku belum terlambat." Daren berlari lebih kencang saat melihat ruangan itu sudah ada di depan mata. Kali ini dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan lagi.


Brak!


"Uncle datang Zo..." Dengan nafas yang masih tersenggal-senggal dan detak jantung yang tak beraturan karena berlari, Daren dengan semangat membuka pintu dan menyematkan senyuman terbaiknya untuk sang bocah yang sudah mewarnai harinya. Tapi kenyataannya semua itu hanya tinggal bayangannya saja karena bocah yang biasanya menyambut kedatangannya dengan begitu ceria kini sudah tidak ada.


"Di mana pasien yang ada di kamar ini?!" tanya Daren pada dua cleaning servis yang sedang membersihkan ruangan.


Mereka tampak bingung dan saling pandang.


"Haii jawab! Dimana kalian menyembunyikan mereka?!" Sentak Daren tidak sabar.


"Ka-kami tidak tau dok. Kami hanya diperintakan untuk membersihkan kamar ini setelah yang menempatinya pergi." Salah satu dari mereka menjelaskan yang sebenarnya.


"Shiittt!!!" Daren mengumpat dan memukul pinggiran ranjang. Dia terlambat...

__ADS_1


__ADS_2