Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
113. Cara Berterimakasih


__ADS_3

°°°


Mia terlihat gelisah sepanjang perjalanan ke kantor. Setelah apa yang ia lihat tadi. Dia tidak bisa menerima semua kebaikan ayah mertuanya begitu saja. Mia menikah dengan Daniel bukan karena ingin itu semua. Baginya mendapatkan suami dan mertua yang baik saja cukup.


"Kenapa sayang? Kau masih memikirkan hadiah dari Daddy?" tanya Daniel yang saat ini sedang menyetir mengantarkan istrinya terlebih dahulu.


"Hmmm... tidak apa-apa kan kalau aku mengembalikannya? Apa Daddy akan marah?"


"Dia tidak akan marah, paling menggantinya dengan yang lebih mahal atau lebih besar." Menjeda sambil membelokkan mobilnya. "Kau ingat saat Daddy memberikan rumah itu tapi kau menolak, apa yang akan Daddy lakukan waktu itu. Ya mungkin kalau kau menolak kali ini hanya akan membuat Daddy menggantinya dengan yang lebih."


"Itu saja sudah sangat mahal, Niel. Bagaimana Daddy mau mengganti dengan yang lebih lagi," bingung Mia dengan pikiran orang kaya.


"Ya sudah, kau coba saja kembalikan. Kalau apa yang aku katakan terjadi, ya sudah terima saja kalau ada sesuatu yang Daddy kirimkan lagi," ujar Daniel.


"Jangan terlalu dipikirkan, kan bukan kamu yang minta. Daddy sendiri yang ingin memberimu hadiah." Daniel mencoba memberikan istrinya pengertian.


Mia mengangguk paham lalu memasukkan sebuah kotak kecil yang sejak tadi ia pegang ke dalam tas.


Sampai di depan perusahaan.


"Saat makan siang aku akan menjemputmu."


"Apa kita mau pergi?" tanya Mia.


"Aku sudah membuat janji dengan dokter kandungan, kau tidak keberatan kalau memeriksanya sekarang? Aku hanya khawatir kalau janinnya sudah tumbuh tapi kamu tidak merasakannya. Perlu vitamin dan lain-lain jika memang benar hamil." Daniel tidak ingin istrinya tersinggung atau mengira dia akan melakukan pemeriksaan apa.


"Baiklah, nanti aku kabari kalau sudah jam makan siang. Terimakasih sudah mengantarku," ujar Mia lalu melepaskan seat belt dan mau membuka pintu. "Niel, kenapa belum dibuka pintunya?"


"Kau belum mengucapkan terimakasih dengan benar pada suamimu. Aku bukan supir atau temanmu yang cukup dengan terimakasih saja," gerutu Daniel yang masih enggan membuka kunci pintu.


"Lalu harus bagaimana?" ya mana Mia tau kalau suaminya tidak bilang.


"Bukannya kemarin kamu sudah bisa melakukannya."


Mia mencoba mengingat lagi, apa yang kemarin ia lakukan saat berterimakasih pada suaminya. Aahh ya ia ingat. Kemarin saat di mobil dia dengan berani mencium pipi Daniel. Seketika Pipi nya merona, belum juga melakukannya sudah malu duluan. Kalau kemarin kan refleks saja, tidak direncanakan.

__ADS_1


"Sudah ingat, ayo cepat." Daniel sudah bersiap dengan memejamkan mata.


"Bagaimana kalau ada yang lihat Niel?"


"Tidak akan, kacanya gelap dari luar. Kalaupun lihat juga tidak apa-apa. Mencium suami sendiri apa salahnya."


Mia menghela nafasnya, ya dia tidak ada pilihan lain dari pada tidak bisa turun dari mobil. Dengan mengumpulkan keberanian dan menahan nafas karena gugup, Mia memajukan kepalanya. Semakin dekat, semakin dekat dan ... cup.


"Eeuummm..."


Saat bibir Mia sudah semakin dekat, Daniel malah menoleh dan akhirnya bi-bir merekalah yang menempel. Laki-laki itu memanfaatkan kesempatan itu, dia menahan pinggang dan tengkuk istrinya hingga bukan menempel lagi tapi berubah jadi cium-aann yang dalam.


Mia menikmati saja apa yang dilakukan sang suami, rasa was-was dan malu yang tadi ada sudah tidak ia pedulikan lagi. Kini tangannya malah melingkar di leher Daniel, membuat laki-laki itu dengan leluasa memainkan benda favorit nya.


"Sudah tau bagaimana caranya berterimakasih sekarang," ujar Daniel sambil mengelap bibir istrinya yang basah.


"Kau... bagaimana kalau ada yang lihat." Melihat sekeliling sambil merapikan kancing kemeja yang sempat terbuka oleh ulah Daniel.


"Dahhh... jangan lupa nanti siang aku jemput." Daniel melambaikan tangan, lalu meninggalkan area gedung perkantoran itu setelah istrinya turun.


Ya ampun Mia apa yang kau pikirkan! Cepat masuk, pekerjaan menunggu mu.


Hari pertama masuk bekerja setelah menikah dengan putra pemilik perusahaan itu sendiri. Perlakuan para karyawan terlihat berbeda pada Mia. Lebih banyak yang menyapa dan tersenyum ramah dan tidak ada gosip lagi gosip yang membuat telinga panas di pagi hari.


"Mia...," panggil seseorang saat Mia sedang menunggu pintu lift terbuka.


"Kenapa kau lari-larian? Apa kau tidak bawa mobil?"


huhh hahh Catty masih mengatur nafasnya yang memburu setelah berlari dari halte bus.


"Tidak...," jawabnya sambil menggoyangkan tangannya. "Biasa mobil tua itu rusak lagi." Catty memang punya dua mobil tapi yang satu dibawa suaminya dan arah tempat mereka bekerja berlawanan. Jadilah Catty yang mengalah menggunakan kendaraan umum, karena dia hanya bekerja sampai sore sedangkan suaminya bisa sampai tengah malam baru pulang.


"Kasian sekali, sabar ya. Semoga saja tuan Alex menaikkan gajimu agar bisa membeli mobil baru."


"Kau kan menantunya sekarang, aku harus baik padamu agar tuan Alex menaikkan gajiku. Tidak apa-apa kan men-jilat teman sendiri."

__ADS_1


"Silahkan saja kalau bisa," sinis Mia.


"Hehehe... kau kan calon bos. Jangan lupa kalau sudah jadi bos, gajiku dinaikkan dan bonusnya juga." Catty mengedipkan matanya.


"Jangan harap!" Langsung masuk begitu saja ketika pintu lift terbuka.


"Dasar, tidak mau bagi-bagi kebahagiaan sedikit saja. Ehhh bagaimana liburan kalian. Apa kalian sudah itu...?" tanya Catty dengan isyarat aneh.


"Itu apa?" Mia tidak paham.


"Apa aku harus menyebutkannya disini? Itu loh... kau dan suamimu apa sudah unboxing." Catty sedikit mendekat saat bicara karena di sana ada karyawan lain juga.


Mia makin tak paham, bahasa yang temannya gunakan terkadang terlalu ajaib. Unboxing? Buka kado? Sudah tapi belum semuanya. Mia pun mengangguk saja.


"Benarkah? Bagaimana rasanya? berapa kali saat malam pertama?" Catty bertanya dengan nada yang lumayan keras sampai karyawan lain pun menoleh.


"Husstt... kalian tidak boleh menguping." Catty menyuruh orang lain untuk menghadap ke depan.


Mia tentu saja tidak menjawab pertanyaan itu, malu sekali kalau harus mengatakan tentang bagaimana berhu-bungan badan. Walaupun Catty terus menagih tapi Mia tetap tidak mau menceritakannya.


Mia sudah kembali bekerja, berkutat dengan laptopnya dan mengecek jadwal kegiatan ayah mertuanya.


"Kau sudah datang, Mia?" tanya dad Alex.


"Oh iya Tuan, apa anda membutuhkan sesuatu?"


"Tidak, nanti ke ruangan ku sebentar," ujar dad Alex lalu pergi menuju ke kamarnya


Ada apa kira-kira, Hmm kebetulan aku juga mau mengembalikan pemberian dari Daddy. Mia langsung segera mencari kotak kecil yang tadi ia simpan di laci meja kerjanya.


"Ini dia, maaf ya. Bukannya aku tidak suka tapi kau terlalu mahal."


to be continue...


°°°

__ADS_1


__ADS_2