Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
S2 Bab 53. Kau Lucyku??


__ADS_3

Daren pun membuka pintu.


"To--tolong..." Lucy tergeletak di depan pintu, tubuhnya sangat lemah dan kehilangan tenaga.


"Nona..." pekik Daren saat melihat wanita itu meringkuk di lantai. Dia sudah coba menghubungi beberapa rumah sakit tapi sama, mereka pun sedang tidak mempunyai obat itu.


Daren pun berjongkok dan mencoba menyadarkan wanita yang belum ia ketahui wajahnya itu. Sementara dia sengaja tidak menyalakan lampu karena dia tidak ingin melihat bagaimana kacaunya wanita itu.


"Nona sadarlah... kau mendengar ku..." Daren menepuk pipi wanita itu.


"To... long.., " Hanya kata itu yang keluar dari mulut wanita itu pun sangat lirih.


Daren segera mencoba mengangkat wanita itu, hingga dia bisa sedikit melihat wajahnya.


"Kau... kau Lucy? Lucy istriku..." terkejut Daren saat samar-samar melihat wajah wanita itu yang sang mirip dengan istrinya yang lama menghilang.


"To... long... panas," rancau Lucy, saat Daren menyentuhnya dia merasakan tubuhnya bereaksi hebat.


"Kau Lucy ku?? Bagaimana bisa kau ini kau sayang... kau kemana saja selama ini." Daren benar-benar sudah sangat yakin kalau itu adalah istrinya. Dia pun segera memeluk istrinya erat. Tangisnya pun luruh juga.


"Panas..."

__ADS_1


Cukup lama Daren memeluk istrinya dan mengungkapkan kerinduan nya, dia hampir lupa kalau saat ini sang istri tidak sedang baik-baik saja. "Aku akan membunuh pria itu karena sudah berani berniat menodaimu." Daren menggertakkan giginya.


"Tenanglah, aku akan menolong mu sayang." Daren segera membawa Lucy ke atas ranjang di turunkan nya perlahan dan siapa sangka kalau tangan Lucy langsung menarik nya agar tidak pergi.


"Tolong... jangan pergi," bisik Lucy.


"Aku tidak akan kemana-mana, bersiaplah. Aku akan mengobatimu." Daren membuka satu persatu kancing baju Lucy yang tadi sudah terbuka. Dilepaskannya semuanya yang menempel pada tubuh Lucy dan melemparkan nya asal.


"Aku harap orang itu tidak memberimu obat terlalu banyak. Kalau tidak, kau tidak akan puas kalau hanya sekali."


"Ss... aahh... mmm... " Lucy menggila saat Daren mulai menyentuhnya. Meski dia tidak sadar akan apa yang ia lakukan saat ini tapi dia merasa sangat nyaman akan sentuhan Daren.


"Kau suka? Tubuhmu masih sama seperti dulu sayang. Sekarang bersiaplah, aku akan mulai permainan utamanya." Daren pun memposisikan dirinya dibawah sana. Membiasakan miliknya terlebih dahulu sebelum memasuki permainan utamanya.


"Aakkhh ahh aahhh... "


Mereka menghabiskan malam bersama hingga pagi. Rupanya obat yang diberikan pada Lucy cukup besar dosisnya sehingga efeknya lama pada Lucy. Dia terus meminta dipuaskan pada laki-laki yang masih berstatus suaminya itu.


Paginya. Lucy merasakan sekujur tubuhnya terasa sakit, terutama di bagian pinggulnya dan pada mi-liknya juga terasa sang perih.


"Ohh ya ampun. Apa yang terjadi padaku." Tentu saja Lucy begitu terkejut melihat keadaan dirinya yang tak memakai pakaian. Dengan tubuh yang terasa remuk redam. Tangisnya langsung pecah mengingat kejadian semalam, dia ditarik begitu saja oleh pria tua itu dan setelah itu dia tidak ingat apa-apa lagi. "Apa yang sudah aku lakukan, apa aku sudah melakukan hal itu dengan pria itu." Lucy terisak, dijambaknya rambutnya sendiri dengan keras.

__ADS_1


"Kau sudah bangun?" Daren ternyata baru saja mandi, tadi saat ia bangun Lucy masih tertidur.


Mendengar suara pria, Lucy pun langsung mengangkat kepalanya. "Daren?? kau bagaimana itu kau?" terkejut nya.


Daren yang hanya menggunakan handuk pun mendekat dan duduk di depan Felice yang menekuk kakinya. "Ya ini aku suamimu..."


Lucy langsung menghambur ke pelukan Daren, tidak peduli lagi pria itu tidak memakai pakaian dan dirinya juga yang masih polos. Dia menumpahkan air matanya. "Aku sangat takut kalau laki-laki itu pria itu... hiks hiks hiks..."


Daren mengusap lembut kepala istrinya dan juga membalas pelukannya. "Maafkan aku karena tidak tau itu kamu, seandainya aku bisa datang lebih cepat pasti kamu tidak akan sampai masuk ke kamar ini. Apa laki-laki itu menyakiti mu?"


Lucy menggeleng, dia ingat pria itu mencoba membuka pakaiannya tapi saat itu dia masih bisa melawan. Pria itu juga tidak bisa menciumnya sedikitpun.


"Terimakasih..."


Setelah Lucy tenang, Daren pun menyuruh nya membersihkan diri. Sementara Daren menelpon orang suruhannya dan Daniel agar tidak memaafkan laki-laki itu, dia pun menceritakan kalau wanita yang ia tolong ternyata adalah Lucy.


"Ren... " panggil Lucy yang baru keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk kecil yang tidak bisa menutupi tubuhnya. Jejak-jejak merah pun nampak terlihat oleh mata Daren.


"Apa kau masih menginginkan nya sayang? Mi-lik ku langsung bangkit kalau kau seperti itu."


"Aku tidak punya pakaian," lirih Lucy sambil merona malu.

__ADS_1


"Aku lupa," Daren menepuk keningnya. Lalu mengambil tas belanjaan di atas meja. "Ini pakaian mu... Kalau saja tidak ada hal yang lebih penting pasti aku akan memakanmu lagi."


__ADS_2