Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
81. Memperkenalkan


__ADS_3

°°°


Daniel sungguh tak bisa berpaling dari Mia. Jantungnya pun berdegup kencang saat papah Willy menyerahkan putrinya dan menautkan tangan mereka. Daniel adalah dokter, tentu dia tau keadaan tubuhnya dan selama ini tidak ada masalah dengan tubuhnya. Lalu kenapa saat ini jantungnya berdegup begitu kencang. Mungkinkah ini karena hormon andrenalin yang berlebihan sehingga jantungnya jadi berdebar.


Prosesi pengucapan janji suci pernikahan berlangsung dengan lancar. Daniel dan Mia sudah sah menjadi suami istri dimata agama dan negara.


"Silahkan pengantin memasangkan cincin pernikahan."


Daniel dan Mia pun saling memasangkan cincin bergantian. Gurat kebahagiaan sangat terlihat di wajah mereka dan para kerabat. Para orang tua bahkan menangis haru.


"Sekarang pengantin pria sudah boleh mencium pengantin wanita."


Mendengar hal itu Daniel dan Mia pun kembali gugup. Meski sudah pernah berciuman tapi kalau dihadapan banyak orang pastilah ada rasa malu.


"Ayo cium... cium..."


Suara tamu menggema menyuruh pasangan pengantin yang baru sah beberapa menit lalu.


Saat ini Daniel dan Mia pun sudah berhadapan, tangan Daniel mulai terulur untuk menyingkap kain penutup kepala Mia. Dilihatnya wajah Mia yang sudah merah merona dan hal itu membuat Daniel semakin gemas.


Kenapa wajahnya menggemaskan sekali.


Tak mau membuat semua orang menunggu, Daniel mulai mengangkat dagu Mia hingga pandangan mereka saling bersitatap. Perlahan dan pasti dia mendekatkan wajahnya dan mulai mencium bibir wanita yang kini sudah menjadi istrinya.


Tepuk tangan para tamu dan musik pun menjadi saksi kedua insan itu menyatu.


Mamah Emma dan Felice pun saling memeluk, mereka sangat bahagia. Akhirnya Mia mendapatkan suami yang baik dan mereka berharap pernikahan mereka bisa langgeng dan penuh kebahagiaan.


,,,


Acara masih terus berlangsung, saat ini para tamu sedang menikmati hidangan yang disajikan di sana. Sambil di suguhkan dengan hiburan dari artis-artis papan atas yang memeriahkan acara itu.


Sementara sepasang pengantin baru yang tadi baru saja mengucapkan janji suci sedang duduk di atas altar yang disediakan. Sebelum nanti mereka menyambut para tamu.


"Apa kau mau minum, biar aku ambilkan." Daniel menawari Mia.

__ADS_1


"Ah... tidak, nanti saja." Tidak taukah Daniel kalau acara masih panjang dan Mia tidak bisa terlalu banyak minum. Bisa gawat kalau dia ingin ke kamar mandi dengan gaun seperti itu.


"Kau cantik sekali hari ini," puji Daniel dan sudah berulang kali dia mengatakan hal itu, tapi tetap saja Mia berbunga-bunga mendengarnya.


"Kau berlebihan Niel."


"Tidak, itu sungguhan. Aku bahkan ingin langsung membawa mu ke kamar." Daniel mengerlingkan matanya.


Mia pun semakin malu, entah pipinya sudah semerah apa sekarang. Pria di depannya itu kenapa sekarang jadi me-sum begitu.


"Karena aku tidak ingin ada laki-laki lain yang melihat kecantikan mu. Aku ingin mengurungmu di kamar dan hanya aku yang menikmati kecantikan mu."


Ucapannya kali ini mendapatkan hadiah cubitan dari istrinya.


"Aaww..."


"Berhenti mengatakan hal-hal seperti itu lagi Niel. Bagaimana kalau ada yang mendengar." Mia sudah cukup malu harus duduk di hadapan banyak orang. Di tambah Daniel yang terus menggodanya.


"Aku hanya ingin kamu tidak terlalu gugup lagi, ada aku disini. Tak perlu cemas." Daniel menggenggam tangan istrinya.


"Lagi-lagi aku kalah cepat dari Daniel. Bagaimana bisa dia mendapatkan kakaknya Felice dalam waktu singkat. Aakhh... kalau begini mulai sekarang aku tidak boleh membuat Daniel kesal atau aku tidak akan punya kesempatan untuk mendekati Felice."


"Lihatlah, dia cantik sekali hari ini. Aku harus membujuk Daniel agar mau membantu ku."


Daren bermonolog sendiri sambil memandangi Felice dari kejauhan.


"Selamat siang semuanya, terimakasih atas kehadiran kalian semua di acara hari ini." Dad Alex sudah ada di atas altar.


"Hari ini saya akan secara resmi memperkenalkan putra dan menantu keluarga Starles pada kalian semua."


Ini yang Mia takutkan, pasti setelah ini banyak yang akan menggosipkannya.


Daniel dan Mia pun berdiri di samping Daddy Alex.


"Ini adalah putra saya satu-satunya, Daniel Starles. Hari ini dia menikahi wanita cantik dan hebat ini, Mia Khalisa."

__ADS_1


Semua orang bertepuk tangan, kecuali para karyawan perusahaan. Mereka lebih syok mendengar berita yang baru saja mereka dengar. Bagaimana bisa Mia yang hanya sekretaris tuan Alex kini malah jadi menantunya. Mereka pun mulai berspekulasi dengan pikiran masing-masing.


Dad Alex memperkenalkan dengan bangga sosok putranya dan menantunya. Dia tidak pernah memandang orang dari hartanya. Baginya Mia adalah wanita yang luar biasa.


Semua orang pun dibuat terkesima oleh dad Alex yang menerima dengan baik menantunya yang berasal dari kalangan orang biasa. Mereka seperti tertampar karena mereka selalu mengandalkan pernikahan anak-anak mereka untuk memperbesar bisnis dan usaha mereka. Tanpa peduli dengan perasaan anak-anak.


"Kenapa kau menangis." Daniel mengusap pipi Mia yang basah oleh air mata.


"Aku terharu pada Daddy, dia tidak malu memperkenalkan ku pada rekan-rekan bisnisnya. Bagaimana kalau setelah ini aku hanya membuat keluarga kalian merasa malu."


"Hai... Kenapa kau berbicara seperti itu. Daddy sangat bangga padamu, jadi apa yang harus membuat nya malu. Kamu juga sudah banyak membantu perusahaan. Dan kau adalah istriku."


"Mulai sekarang kau tidak boleh berpikir seperti itu lagi. Kau istri ku, Mia."


Daniel mendaratkan kecupan di kening istrinya.


"Ehemmm... pengantin baru maunya mesra-mesraan terus," ejek Felice yang datang menghampiri kakaknya untuk memberikan selamat.


"Fel...."


"Tenang-tenang, aku tidak akan menggangu. Aku hanya ingin mengucapkan selamat untuk kalian. Selamat ya kak, akhirnya kau mengakhiri masa lajang mu." Felice memeluk kakaknya erat. Dibalik segala ucapannya yang kadang menyebalkan, dia adalah orang yang paling bahagia atas pernikahan mereka.


"Kau itu... Terimakasih." Mia pun merasakan isakkan sang adik.


"Sudah ah... aku tidak mau menangis lagi." Felice melepaskan pelukannya dan menyeka air mata nakal yang lolos tanpa permisi.


"Kakak ipar, tolong jaga kakakku. Jangan sampai membuat nya bersedih. Kalau sampai kakakku menangis karena mu, aku orang pertama yang akan memberikan pelajaran pada kakak ipar." Felice beralih pada Daniel.


"Kau bisa percaya padaku."


"Baguslah, aku tidak akan lama-lama karena banyak yang sudah mengantri untuk bersalaman dengan kalian."


"Kak, aku punya kado spesial. Aku meletakkannya di kamar kalian," bisik Felice di dekat telinga kakaknya sebelum dia pergi dari sana.


Mia menatap bingung punggung adiknya dan curiga saat alisnya naik turun. Apa yang anak itu rencanakan, Mia bertanya-tanya dalam hatinya.

__ADS_1


to be continue...


__ADS_2