Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
133. Berjauhan


__ADS_3

°°°


Seminggu setelah kepergian suaminya. Hari-hari Mia terasa hampa tanpa kehadiran Daniel. Terasa ada yang kurang apalagi kalau malam. Walaupun hampir setiap hari mereka melakukan video call tapi tetap saja berbeda apalagi handphone Daniel yang kadang susah dihubungi karena sinyal yang susah. Bencana itu sudah hampir meratakan kota A, menyebabkan beberapa akses susah termasuk listrik dan sinyal.


Sudah beberapa hari ini juga mood Mia sangat buruk. Kadang kesal sendiri dan berpikir berlebihan sampai menangis. Orang-orang yang terdekatnya yang sangat merasakan hal itu termasuk Catty yang hampir setiap hari bertemu di kantor.


"Mia, kau kenapa lagi?" tanya Catty cemas. Melihat temannya yang biasanya semangat bekerja sekarang malas. Untunglah atasannya mertuanya sendiri.


"Entahlah, rasanya malas. Tubuh ku mudah letih akhir-akhir ini." Mia menyenderkan punggungnya di kursi. "Ada apa?" tanyanya kemudian.


"Aku hanya khawatir padamu, sejak tadi aku lihat kau seperti sedang tidak mood. Apa kau terlalu merindukan suami mu?" tebak Catty sambil menggoda.


"Tidak juga, setiap hari kami telepon."


"Benarkah, tapi wajahmu berkata lain. Kalau rindu bilang saja, suruh dia pulang." Catty terkikik.


"Tidak bisa. Di sana masih belum kondusif. Hampir setiap hari ada korban dan terlalu banyak pasien."


"Kalau begitu sabar ya, atau kau mau jalan-jalan nanti sore. Biar aku temani, biar tidak suntuk lagi," ajak Catty sambil memberikan ide.


"Ide yang bagus, baiklah aku mau."

__ADS_1


Mereka sepakat untuk pergi nanti sore sepulang kerja.


Mia kembali mengerjakan pekerjaan nya. Untunglah saat ini keadaan di kantor tidak begitu sibuk karena beberapa proyek sudah selesai di dapatkan oleh perusahaan, sisanya tinggal bagian bawah yang mengerjakan. Mia hanya tinggal memantau perkembangannya dan melapor pada dad Alex.


Satu pesan tiba-tiba masuk ke ponselnya. Pesan dari seseorang yang sangat ia tunggu. Ya suaminya, susah sekali berkomunikasi dengan pria itu sampai kadang Mia kesal sendiri dan ingin menyusul.


Daniel : "Sayang, bagaimana keadaan mu? Apa kau sudah makan siang?"


Mia kembali meletakkan ponselnya, tidak mau membalas. Dibalas juga tidak langsung dapat balasan lagi, entah kapan lagi pria itu akan membalas pesan nya.


Biar saja dia merasakan apa yang aku rasakan. Memangnya enak menunggu balasan.


,,,


Seminggu di kota yang sedang terjadi bencana terasa setahun. Setiap harinya para relawan hampir kewalahan mengobati korban, karena gempa susulan masih terus terjadi dan para warga masih ada yang tidak mau mengungsi. Alhasil, ada saja warga yang jadi korban karena tertimpa bangunan rumahnya sendiri.


Daniel dan rekan-rekannya bekerja ekstra, terutama Daniel. Banyak korban yang memerlukan operasi. Selain itu terkadang dia juga harus ke lokasi reruntuhan untuk melakukan penyelamatan karena memang jumlah tim penyelamat yang kurang.


Belum lagi berbagai kendala lain, tidak ada listrik hanya mengandalkan jenset yang terbatas, susahnya air dan sinyal serta kondisi lainnya. Kalau makanan serta pakaian cukup tercukupi karena bantuan yang datang kebanyakan makanan dan pakaian.


Susah sinyal itulah yang membuat semua orang resah, tidak bisa menghubungi keluarga dan orang tercinta. Termasuk Daniel, yang sudah sekali untuk sekedar mengirim pesan pada istrinya. Kalau mau telepon malah harus mencari tempat yang agak tinggi, bukit di sekitar kota itu.

__ADS_1


"Dok, ada pasien baru datang lagi." Perawat mengabari Daniel yang sedang mengangkat ponselnya setinggi mungkin karena sejak tadi Mia tak membalas pesannya, takutnya pesan itu tidak bisa masuk karena sinyal nya.


"Baiklah, sebentar lagi aku akan ke sana."


Perawat itu pun pergi lebih dulu. Sementara Daniel kembali mengetikkan sesuatu di ponselnya.


Daniel : "Sayang, aku tugas lagi. Jaga diri mu disana dan jaga kesehatan juga. Nanti malam aku akan menelepon mu." Send.


Setelah itu Daniel menyimpan kembali ponselnya dan berjalan ke arah tenda khusus untuk pengobatan.


Berbeda dengan Daniel yang tersiksa, sebaliknya Daren malah betah di sana. Pertama tentu saja karena jauh dari ayahnya yang suka memarahinya, kedua karena jadi relawan tak seburuk pemikiran nya, ketiga tentu saja karena gadis cantik. Ternyata di kota A banyak sekali gadis cantik nan polos. Daniel jadi betah berlama-lama di sana. Semangatnya dalam mengobati pasien juga begitu bergelora, terutama pada pasien yang cantik.


Daren beruntung karena gadis di sana sangat mudah didekati. Mungkin karena tidak tau Daren siapa dan terlalu polos. Walaupun begitu Daren tidak pernah berbuat jauh, meski dia bisa saja melakukan hal lebih tapi pada gadis polos seperti mereka dia tidak. Dari dulu dia memang begitu, kalau yang dipacarinya gadis baik-baik dia paling jauh hanya cium. Tapi kalau wanita itu nakal barulah Daren ikut meladeninya.


"Hai nona, kau sangat cantik. Siapa namamu?" tanya Daren pada seorang gadis yang baru dia obati lukanya.


Gadis itu tersipu malu, tapi tatapan matanya entah melihat ke arah mana.


"Nama saya Mishel Dok," jawab gadis itu.


"Nama yang cantik seperti orangnya." Daren memuji kecantikan gadis itu, dari gadis-gadis yang ia temui di sana, Mishel adalah gadis yang mempunyai daya tarik tersendiri. Dia begitu manis saat tersenyum dan mempunyai tubuh yang proporsional.

__ADS_1


Daren menyeringai, Mishel akan dia jadikan pacar selanjutnya.


to be continue...


__ADS_2