Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
29. Sepertinya Jodoh


__ADS_3

°°°


Daren yang merasa dibodohi pun mengikuti sepupunya dengan malas. Menurutnya dia hanya buang-buang waktu sejak tadi karena sama sekali tidak ada pelajaran yang bisa ia ambil. Dia hanya mencatat dan mencatat.


Aku harus protes pada ayah agar aku tidak perlu belajar dari Daniel lagi besok.


Daren juga cukup kelelahan berjalan dari kamar satu ke kamar lainnya karena biasanya dia hanya berdiam diri di IGD. Menunggu pasien datang dan memeriksa keadaannya sementara sebelum akhirnya ia lemparkan pasien itu pada dokter spesialis masing-masing.


Saat ini mereka sedang berada di lift untuk melihat pasien di lantai yang berbeda.


"Apa masih banyak? Kenapa dari tadi tidak ada habisnya," protes Daren.


"Kalau kau lelah kau bisa beristirahat," ujar Daniel dengan mudah.


"Benarkah, kau baik sekali. Terimakasih sepupu." Tentu saja Daren senang bukan main karena sepupunya menyuruhnya untuk istirahat.


Ternyata dia masih punya belas kasihan juga, batin Daren.


"Yaa... beristirahatlah di IGD."


Ting.


Pintu lift terbuka, semua orang keluar. Menyisakan Daren yang melongo. Kebahagiaan nya hilang seketika saat mendengar ucapan sang sepupu.


Dasar sepupu kurang ajar, awas saja kau!!


Daren pun buru-buru menyusul Daniel yang sudah kembali memasuki kamar pasien di lantai itu. Daren mengurungkan niatnya untuk beristirahat atau dia akan di kembalikan ke IGD dan itu artinya sang ayah akan mencabut semua fasilitas nya.


Sampailah di pasien terakhir, kamar dengan nomor 116. Dengan nama pasien Emma Selena.


Daniel memasuki ruangan itu diikuti oleh anak buahnya.


Di dalam terlihat seorang ibu yang berbaring di ranjang dan putrinya yang menemaninya.


"Selamat pagi Nyonya," sapa Daniel sebelum memeriksa.


"Pagi Dok." Mamah Emma tersenyum ramah.


"Boleh saya periksa anda sekarang?" tanya Daniel, sungguh ia hanya berbasa-basi karena tidak mau membuat pasien nya ketakutan.

__ADS_1


"Tentu Dok," ujar mamah Emma. Sementara Felice pun sedikit menyingkir dari sana agar dokter bisa leluasa memeriksa mamahnya.


Suster mulai membacakan tensi pasien, lalu hasil cek darah dan yang lainnya untuk keperluan pemeriksaan sebelum operasi.


"Kondisi anda sudah semakin baik Nyonya, kalau dalam beberapa hari ke depan semuanya normal saya bisa langsung mengoperasi anda."


"Benarkah, terimakasih dokter. Aku ingin segera sembuh agar tidak merepotkan putri-putri ku lagi," ujar mamah Emma dengan wajah berbinar.


Sementara seseorang baru saja datang setelah tadi pergi ke toilet sebentar. Daren masuk ke kamar mamah Emma tapi sepertinya pemeriksaan sudah selesai dan matanya tak sengaja melihat gadis yang kemarin ia beri sapu tangannya.


Ternyata dia di kamar ini. Sepertinya kita berjodoh karena terus dipertemukan dengan tidak sengaja.


Daren pun langsung membenarkan penampilannya dan berdiri tegap lalu tidak ketinggalan dia memasang wajah tampan menurut versinya.


"Bagaimana, apa sudah selesai?" tanya Daren pada sepupunya dengan suara coolnya.


Daniel pun mengerutkan keningnya melihat tingkah sang sepupu yang mudah berubah-ubah. Kadang tengil, kadang menyebalkan, lalu tak tau malu dan sekarang bertindak seperti pria penuh pesona dengan tangan yang ia masukkan ke dalam saku jas putihnya.


Kemudian Daniel menyadari sesuatu, dimana sang sepupu sesekali melirik gadis yang ia tebak adalah adik dari nona sekretaris itu. Sepertinya Daren bertingkah seperti itu karena ingin memikat gadis kecil itu. Daniel pun menyeringai, dia punya rencana bagus agar sang sepupu tidak punya muka lagi di hadapan calon adik iparnya itu, eeeiitttsss.... maksudnya gadis itu.


"Kau dari mana, lama sekali. Bukankah aku sudah menyuruh mu untuk mengikuti ku. Lalu apa ini, bekerja begitu saja tidak becus. Bagaimana mau jadi dokter yang hebat kalau malas-malasan."


Daren melongo mendengar perkataan sepupunya yang seolah sedang menegaskan apa posisinya.


Sementara Daniel puas melihat wajah masam sang sepupu. Setelah itu mereka pergi dari sana, kecuali Daren yang justru menghampiri Felice.


"Apa kau masih ingat denganku Nona," sapanya dengan menebar senyum pemikat.


Felice tampak memperhatikan dokter itu dan berpikir apa dia pernah melihatnya.


"Emmm... sepertinya kita baru saja bertemu dokter," ujar Felice.


Perkataan gadis itu meruntuhkan segala sisi tampan yang sudah Daren bangun. Sekaligus menghancurkan predikat Playboy nya selama ini, baginya wajah tampan yang ia miliki tidak bisa diingat oleh wanita yang telah ia goda adalah musibah.


Sepertinya aku harus berendam di air bunga tujuh rupa agar auraku kembali bersinar.


"Maaf dokter, putri saya memang sedikit pelupa. Apa kalian pernah bertemu sebelumnya?" tanya mamah Emma yang sejak tadi memperhatikan interaksi antara sang putri dengan dokter itu.


"Eh... tidak apa-apa Nyonya. Saya hanya ingin menyapa saja dan sekaligus berkenalan kalau boleh karena kemarin kami belum sempat berkenalan." Daren mulai memanfaatkan kesempatan yang mungkin tidak datang dua kali.

__ADS_1


"Nak, itu ada yang mau berkenalan denganmu. Sana, jangan tidak sopan pada orang yang berniat baik." Mamah Emma menyuruh putrinya untuk berkenalan dengan dokter itu tapi sepertinya Felice enggan menanggapinya. Ya dia paling tidak suka pada pria agresif seperti itu.


Siaaall, apa gadis itu baru saja menolak ku.


"Tidak apa-apa Nyonya, saya tidak akan memaksa. Mungkin lain kali kita bisa punya kesempatan untuk bertemu lagi. Saya permisi..." Daren memilih untuk keluar dari sana, rasanya malu sekali ada gadis yang menolak berkenalan dengan nya.


"Sayang, kenapa sikapmu begitu pada dokter itu. Dia kelihatannya baik, dia kan hanya mau berkenalan saja," ujar mamah Emma memberi pengertian pada putrinya agar tidak sombong.


"Mah... apa mamah tidak perhatian wajahnya yang seperti playboy. Sangat jelas kalau dia itu ingin mendekati ku, dia itu punya maksud lain. Makanya tadi aku pura-pura lupa," cibir Felice.


"Kau tidak boleh berprasangka buruk pada orang lain nak, mamah tidak pernah mengajarimu begitu." Mamah Emma mengusap kepala putrinya.


"Sudahlah mah, jangan bicarakan dia lagi. Lagian aku itu sudah punya pacar, jadi tidak baik kalau aku itu dekat dengan laki-laki lain."


Mamah Emma pun tidak berbicara lagi, karena putrinya yang satu ini tipikal yang kalau di paksa malah akan memberontak.


Sementara sejak tadi Daren mendengar pembicaraan mereka dari depan ruangan.


Sepertinya menarik, jadi dia sudah tau kalau aku ini playboy dan dia juga sudah punya kekasih rupanya.


,,,


Sementara di sebuah kantor.


Tampak seseorang sedang menelepon orang suruhannya.


"Bagaimana, apa kau sudah mendapatkan apa yang aku mau?"


"Bagus... segera kau kirimkan rekamannya padaku."


Wajahnya berubah menahan amarah saat melihat rekaman yang baru saja ia terima.


to be continue...


°°°


Jeng jeng jeng jeng...


Kurang satu bab ya kakak-kakak sekalian, ditunggu okeh...😉

__ADS_1


Like komen dan bintang lima 😍


Gomawo ❤️❤️❤️


__ADS_2