Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
87. Petaka Lingerie


__ADS_3

°°°


Mia membeku melihat apa yang ada di dalam kopernya. Jantungnya benar-benar ingin lompat dari tempatnya sekarang.


Niat hati mau cari pakaian ganti tapi begitu membuka koper isinya pakaian haram semua. Perbuatan siapa itu, iseng sekali sampai menyiapkan semua untuknya.


Mia langsung menutup koper itu dengan keras hingga menimbulkan suara yang mengusik pendengaran Daniel.


Brak.


Ya ampun, bagaimana ini. Apa aku harus memakai pakaian seperti itu.


"Ada apa?" tanya Daniel membuat Mia terkejut dan buru-buru menutupi koper itu. Dia takut Daniel akan melihat apa isi di dalamnya dan mengira kalau Mia yang sengaja menyiapkan itu semua.


"Tidak apa-apa, kau istirahat saja. Tidak perlu pedulikan aku." Mia berusaha tersenyum kikuk.


"Ya sudah, kalau butuh bantuan panggil saja. Kau mungkin akan kesulitan membuka ret..."


"Tidak!! Tidak perlu, aku bisa sendiri," potong Mia. Dia langsung menyomot asal pakaian gantinya lalu berlari ke kamar mandi.


"Hai, kau tidak perlu lari." Daren tersenyum puas melihat Mia malu-malu seperti itu. Wajahnya semakin cantik saat wajahnya memerah.


Tunggu saja sampai kau siap.


Sebagai laki-laki normal Daniel tentu saja sangat tergoda pada tubuh Mia. Tapi dia tidak ingin melakukannya saat mereka belum sepenuhnya saling menerima dan belum memiliki perasaan lebih.


Mengenai perasaan Daniel sendiri, jujur saat mengenal Mia lebih dekat dia merasa nyaman dan seperti tadi jantungnya berdebar dan ada getaran-getaran aneh yang dia tidak tau apa itu. Mungkinkah itu bibit cinta atau hanya rasa tertarik semata. Sepertinya mereka harus lebih saling mengenal dan menghabiskan waktu bersama.


Mia buru-buru masuk ke dalam kamar mandi tak lupa dia juga menguncinya. Entah kenapa perkataan Daniel itu selalu membuatnya merasa aneh. Padahal pria itu hanya mengatakan akan membantu untuk melepaskan gaun tapi Mia merasa ada arti lain dari perkataan itu.


Mia berjalan lebih dalam, mendekat ke arah wastafel. Dipandanginya wajahnya sendiri yang kini sangat merah karena malu. Entah bagaimana dia harus hidup dalam satu rumah setiap hari dengan Daniel. Baru sebentar saja sudah membuatnya seperti itu.


Kenapa pria itu selalu saja bisa menguasai ku, kenapa harus aku yang selalu dibuat malu. Sepertinya ini tidak bisa dibiarkan, kalau seperti ini terus aku bisa mati karena malu.


Selesai memikirkan kejadian tadi, Mia pun mulai membuka gaunnya. Dengan susah payah akhirnya terlepas juga. Memang indah tapi membuat orang yang memakainya kesusahan.


Setelah menanggalkan semua pakaiannya, dia memilih mandi di bawah guyuran shower agar tidak terlalu lama.


Beberapa saat kemudian, saat dirasa tubuhnya sudah bersih. Mia pun menyudahi ritual mandinya. Keluar dari bilik kaca itu dan menyambar handuk dan mulai mengelap seluruh tubuhnya yang basah di depan cermin. Sungguh pemandangan yang indah, yang belum pernah ia perlihatkan pada siapapun kecuali pada Daniel malam itu.

__ADS_1


Segarnya... sudah tidak terasa lengket lagi.


Sadar kalau dia harus memakai lingerie, Mia pun menghela nafasnya. Memang dia sudah biasa memakai pakaian terbuka saat ada di rumah tapi itu karena tidak ada siapapun di rumah selain mamah Emma dan Felice. Nah sekarang, bagaimana dia bisa berpakaian seperti itu di hadapan laki-laki, meski laki-laki itu suaminya sekalipun. Namun pernikahan mereka bukan karena cinta melainkan hanya bentuk tanggung jawab dan juga saling menguntungkan.


Lingerie merah transparan itu kini sudah melekat sempurna di tubuh Mia. Sama sekali tidak ada bedanya dengan ia tela-nja-ng bulat karena lingerie itu sama sekali tidak menutupi bagian tubuhnya. Terutama tonjolan di bagian depan yang tidak memakai pembungkus. Sungguh pintar sekali orang itu, sampai tak menyisakan b-ra untuknya. Hanya bagian inti tubuhnya yang tertutup kain segitiga.


"Aku sudah menyiapkan hadiah untuk Kakak, aku taruh di kamar kakak." Tiba-tiba perkataan Felice terngiang di telinganya. Mungkinkah itu perbuatan sang adik yang usil itu.


Felice!! Tunggu saja kau. Mia mencengkeram pinggiran wastafel.


Mia menyembul kepalanya terlebih dahulu sebelum keluar dari kamar mandi. Matanya menelusuri kamar.


Apa dia sudah pergi? Syukurlah kalau sudah pergi. Aku jadi bisa tenang dan bebas.


Setelah memastikan Daniel tidak ada, Mia pun keluar dengan tenang. Dia memang memakai kimono luaran untuk menutupi kemolekan tubuhnya. Tapi tetap saja masih sedikit terlihat karena bagaian atasan yang hanya diikat tali sehingga mudah terbuka dan bagian bawahnya juga sangat pendek, berada di pertengahan pa-ha. Sedikit saja bergerak pasti tersingkap kemana-mana. Bahannya juga terbuat dari kain satin sehingga mencetak bentuk tubuhnya, dan pu--tingnya yang mene-gang sehabis mandi.


Akhirnya bebas juga dai laki-laki itu dan sekarang aku bisa beristirahat dengan tenang. Tubuhku sudah sangat letih, ingin segera merasakan empuknya kasur ini. Mia menepuk-nepuk kasur king size itu.


Sabar ya kasur, sebenar lagi aku akan merasakan mu.


Namun, pupus sudah harapan Mia saat tiba-tiba seseorang masuk tanpa permisi.


Ceklek.


Sementara Mia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia ingin lari dari saat sekarang juga. Atau tenggelam dalam bumi juga boleh dari pada harus bertemu Daniel dalam keadaan seperti itu. Mia bergeming, masih membelakangi Daniel yang sedang berjalan mendekat.


Daniel pun baru menyadari kalau piyama yang Mia pakai begitu pendek setelah masuk lebih dalam. Tiba-tiba saja tenggorokannya mengering dan ia berusaha membasahi nya dengan menelan ludahnya berkali-kali. Baru saja ia berjanji tidak akan melakukan hal lebih. Tapi kalau seperti ini bagaimana ia menahannya.


Buru-buru ia mengalihkan pandangannya dan meletakkan makanan yang ia bawa.


"Mm... Niel, aku tidak lapar. Aku mau tidur saja sebentar sebelum acara nanti malam." Mia baru saja mau bersembunyi ke dalam selimut tapi Daniel menghentikannya.


"Tunggu! Diam disitu," titah Daniel.


Mia menurut dan masih membelakangi Daniel. Seharusnya dia masuk saja ke dalam selimut. Bodohnya dia.


Daniel seperti sedang mencari sesuatu di dalam laci. Setelah menemukan ia pun mendekat ke arah Mia.


Sungguh Mia sangat takut saat ini, entah benda apa yang Daniel ambil. Teringat jika ia menginap di kamar hotel pasti ada benda keramat dengan berbagai rasa di dalam laci yang disediakan oleh pihak hotel.

__ADS_1


Bagaimana ini, apa aku kabur saja. Tapi bagaimana aku keluar dengan pakaian seperti ini. Teriak juga percuma saja karena kamar itu kedap suara. Oh Tuhan... inikah saatnya?


,,,


Epilog


Felice sedang bersama teman-temannya yang sengaja ia undang ke pesta pernikahan kakaknya. Terutama dia ingin teman-teman nya itu tidak membicarakan kakaknya yang tidak laku-laku.


Dan ia berhasil mereka tercengang dengan pesta yang sangat megah dan mewah.


Tiba-tiba ponselnya pun bergetar.


Kak Mia : Fel, tolong kamu ke kamar sebentar. Bantu kakak untuk melepaskan gaun.


Felice pun menyeringai membaca pesan dari kakaknya, tapi bukannya ia segera menghampiri kakaknya Felice justru pergi mencari kakak iparnya.


"Itu dia." Felice pun menghampiri Daniel yang sedang berbincang dengan rekannya.


"Kakak ipar, bisa bicara sebentar."


Daniel pun pamit pada temannya dan mengikuti Felice.


"Ada ada Fel, apa ada masalah?"


"Tidak ada apa-apa kak, hanya ingin memberitahu mu kalau tadi kak Mia mengirim pesan padaku untuk menyusul nya ke kamar. Dia butuh bantuan untuk membuka gaunnya katanya." Felice berbicara pelan.


"Tapi aku masih menemani teman-teman ku kak, apa kakak ipar bisa datang ke sana. Kalau tidak bisa juga tidak apa-apa, biar aku saja."


"Tidak, kau temani saja teman-teman mu. Biar aku yang membantu kakakmu." Daniel segera pergi dari sana.


"Yes, berhasil."


Selamat menikmati hari kalian.


Bodoh amat kalau nanti kakaknya marah, yang penting dia sudah melakukan hal yang benar sekarang.


to be continue...


...Jangan lupa mampir ke novel baru othor ya. ...

__ADS_1


Judul : Nikahi Aku, Kak!



__ADS_2