
Daren tersenyum tipis saat ayahnya memanggilnya untuk berhenti. Dia sudah lelah dan tidak ingin berharap lagi. Tidak mau peduli lagi katanya, memang selama ini pria tua itu peduli apa pada putranya.
"Kalau kau berani keluar maka ayah akan mencoretmu dari kartu keluarga dan ayah tidak akan memberimu warisan satu peserpun untukmu."
Mendengar hal itu Daren tertawa sinis, apa ayahnya kira dirinya benar-benar masih menginginkan uangnya. Padahal selama bersama Lucy, tidak pernah Daren menggunakan uang ayahnya. "Apa hanya itu? apa ayah akan memutuskan hubungan ayah dan anak hanya karena uang. Aku tidak butuh uangmu ayah, kami sudah hidup dengan cukup dengan gaji yang kuterima sudah mampu menghidupi keluargaku. Dan apa ayah tau kalau istriku juga membuka usaha, jadilah dia juga punya penghasilan sendiri dan tidak pernah menyusahkanku, tidak pernah minta ini dan itu seperti para wanita anak orang kaya itu yang maunya dimanja dan suka menghabiskan uang."
"Silahkan ayah nikmati saja harta ayah sendiri, bersenang-senanglah di hari tua ayah. Jangan terlalu banyak berpikir dan memusingkan rumah sakit yang bukan milik kita." Setelah berkata seperti itu Daren pun menggandeng istrinya keluar dari ruangan itu.
"Ren, apa tidak apa-apa meninggalkan ayah dalam keadaan seperti itu. Aku rasa kita sudah keterlaluan, bagaimana pun beliau adalah ayahmu." Lucy menghentikan langkahnya, Meski hatinya sakit mendapatkan perlakuan seperti dari ayah mertuanya tapi dia tetap tidak ingin suaminya bersikap seperti itu pada ayahnya, dia yang saat ini sudah tidak punya orang tua sangat tau bagaimana rasanya hidup sebatang kara.
"Kenapa? Apa kau takut ayah benar-benar mengeluarkan ku dari kartu keluarga dan tidak memberiku warisan?"
Deg. Bola mata Lucy membulat, bagaimana bisa sang suami berpikir seperti itu. Apa mungkin selama ini dia juga menilai Lucy hanya mengincar hartanya saja.
__ADS_1
"Apa kau juga menganggapku hanya mengincar uangmu saja?" tanya Lucy dengan bibir bergetar. Dadanya bergemuruh hebat, dia sangat takut kalau sang suami hanya menganggapnya seperti itu.
Daren tersadar, tidak seharusnya dia bicara seperti itu pada istrinya. Pikirannya sedang kalut saat ini, sikap dan perkataan ayahnya membuat dirinya begitu marah. "Maaf sayang, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya sedang pusing saat ini. Maafkan aku..."
"Ren, maaf karena aku hubungan kamu dan ayahmu jadi rumit seperti ini. Tapi aku sungguh tidak bermaksud seperti itu. Aku siap hidup bagaimana pun keadaannya asalkan kita bersama, tapi aku hanya tidak ingin hubungan kalian rusak karena aku. Aku tau bagaimana rasanya tidak punya orang tua, jadi jangan sampai kamu menyesal nantinya." Lucy meraih Zoro yang berada di gendongan suaminya. Lalu ia turunkan dilantai, mengingat dirinya sedang hamil jadi tidak mungkin ia menggendong Zoro.
"Minta maaflah sekali lagi Ren, berbicaralah dari hati ke hati pada ayahmu. Apapun keputusanmu nanti aku akan menerimannya. Kami pergi dulu," pamit Lucy sambil menuntun Zoro.
"Kami tidak akan pernah meningglkanmu sendiri, kami hanya memberimu ruang untuk berpikir dan berbicara pada ayahmu dengan kepala dingin. Kami akan menunggu di rumah Felice, aku akan disana sementara." Lucy berbalik, dan saat itu juga air matanya sudah tidak bisa ditahan lagi. Dia mulai berjalan menjauh meninggalkan Daren yang memaku.
"Mi... kenapa papi tidak ikut?" tanya Zoro.
"Papi kamu masih ada urusan nak, mami mau mengajakmu ke rumah tante Felice. Kau mau kan?"
__ADS_1
"Mau mau mi, Zo kangen onti Felis dan juga onti Mia."
"Ok, ayo kita ke sana."
Nak, apapun keputusan papi kalian nanti mami harap kalian bisa menerimanya juga. Kalau nanti papi tidak bisa bersama kita lagi, mami harap kalian akan bisa mengerti. Lucy menatap putranya Zoro dan mengusap perut buncitnya.
Tubuh Daren merosot ke lantai saat dilihatnya bayangan sang istri dan putranya yang semakin menjauh. Lucy bukan sedang memberinya pilihan justru sedang melepasnya untuk memilih kembali berbaikan bersama sang ayah yang artinya mereka harus berpisah kalau sampai itu terjadi.
Pria itu menangkup wajahnya, tangisnya pecah saat ini. Bahkan saat sang ayah tidak peduli padanya, hatinya tidak sesakit ini. Sekarang ia tau kalau Lucy, Zoro dan anak yang ada dalam kandungan Lucy adalah hidumnya. Dia sangat yakin sekarang, walaupun kemarin-kemarin sempat ragu dengan keputusannya karena sudah menentang sang ayah. Bahkan dia sempat bersikap dingin pada Lucy pada wanita itu masih dengan sabar menjalankan kewajibannya sebagai istri, bahkan dia malah menyuruh Daren pulang sendiri untuk menemui ayahnya. Dia seolah pasrah dan menyerahkan semua keputusan di tangan Daren.
Bagaimana mungkin Daren rela melepaskan wanita sebaik istrinya. Hanya dengan harta, jabatan dan duniawi.
Ayah, kenapa kau membuat putramu sendiri dalam kesulitan bukankah dari dulu aku selalu menuruti apa kata ayah. Aku yang sama sekali tidak ingin menjadi dokter tapi pada akhirnya aku menuruti kata ayah. Tidak bisakah aku memilih sendiri apa yang aku inginkan.
__ADS_1