Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
S2 Bab 41. Kembali Bersama


__ADS_3

Daren terhenyak mendengar penuturan istrinya. Bagaimana bisa dirinya meninggal dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya.


"Stop!! Berhenti menyuruh ku untuk meninggalkan kalian. Hanya kalian hidupku saat ini bagaimana bisa aku hidup tanpa kalian."


"Aku tidak akan melarang mu bertemu anak-anak, mereka juga bebas menemui mu. Raihlah kebahagiaan mu Ren, jika bukan bersamaku kebahagiaan itu berasal makan pergilah cari kebahagiaan itu pada orang lain."


Daren merengkuh tubuh istrinya, memeluknya erat seakan tidak mau terpisah lagi. Air matanya sudah tumpah ruah membasahi pipinya. Begitu juga dengan Lucy yang bahkan sudah sesenggukan dalam pelukan suaminya dia malah semakin menumpahkan tangisnya.


"Sayang, berhentilah membicarakan perpisahan. Sampai kapanpun kau, aku, Zoro dan anak dalam kandungan mu akan selalu bersama selamanya. Tidak akan pernah ada kata berpisah dalam hidup kita. Kalian adalah segalanya untukku."


"Daren... aku hanya tidak kamu menderita lagi. Rasanya sangat sakit saat kamu bersama ku tapi tiap kali pikiranmu entah kemana. Aku sedih saat melihat mu melamun, kau pasti merindukan ayahmu tapi karena kami kau jadi tidak bisa pulang"


Hati Daren tercubit mendengar ucapan istrinya. Ternyata selama ini sang istri selalu memperhatikan nya, saat sedang melamun memang ia memikirkan ayahnya. Mencemaskan pria tua itu yang kini hanya sendiri. Tapi Daren sama sekali tidak pernah menyesali ataupun menyalahkan sang istri atas semua yang terjadi.

__ADS_1


"Sayang, kalian bukanlah penyebab keretakan hubungan ku dan ayah. Semua itu tidak benar. Ayah hanya belum mengenal kalian makanya dia berpikir seperti itu. Dan aku sama sekali tidak pernah menyesali keputusan ku untuk bersamamu," ujar Daren kemudian ia melepaskan pelukannya. Menatap sang istri dan menghapus sisa-sisa air mata yang membasahi pipinya. "Lihat aku sayang, kau lihat. Apa selama bersama mu aku pernah mengeluh dan tidak bahagia? Apa kau lupa kalau kau dan Zoro yang selalu membuat ku tersenyum dan tertawa. Aku melamun bukan karena tidak bahagia, aku hanya memikirkan keadaan ayah dan memikirkan bagaimana caranya agar ayah mau menerima kalian."


"Lalu apa kau pernah menyesal dan pernah berpikir untuk meninggalkan kami?" tanya Lucy.


"Sama sekali tidak pernah, aku selalu bersyukur karena kalian sudah hadir dalam hidup ku. Membuat ku berubah dan membuat ku tau maknanya suatu hubungan dan cinta yang tulus."


"Maaf kalau selama ini membuat mu berpikir seperti itu, tapi sekali lagi aku tekankan kalau bukan hal itu yang aku pikirkan. Impian ku selalu bisa hidup bersama kalian dan juga ayah, kita hidup bersama dengan bahagia. Ayah yang menghabiskan hari tuanya dengan cucu-cucunya, kita yang bahagia dengan anak-anak kita." Daren sekali lagi mengungkapkan impiannya. "Selalu ada kalian dalam mimpi ku di masa depan."


Lucy tidak percaya ini, ia pikir sang suami datang untuk memintanya menandatangani surat perceraian. Tapi ternyata Daren datang untuk membawanya kembali bersama. Itu artinya mereka bisa hidup bahagia lagi, dan putranya juga tidak akan kehilangan ayahnya.


"Aku sudah melakukan tugas ku sebagai seorang putra. Aku juga sudah menyerahkan apa yang ayah mau, aku yakin dia tidak akan menggangu kita lagi. Meski dia tidak bisa menerima kalian, maka biar kita yang menjauh. Aku akan selalu mengawasi ayah, dan selama ada Daniel dan para bawahan ayahku. Aku yakin dia akan baik-baik saja."


Setelah rapat itu selesai dan orang-orang yang curang menerima balasannya. Daren tidak pernah lagi bertemu ayahnya. Sudah kan, apa yang ayahnya mau sudah ada ditangannya. Rumah sakit itu sudah jadi miliknya. Meski nama calon anaknya yang tertulis sebagai pemilik rumah sakit tapi Daren tidak akan pernah mengambil nya dari sang ayah. Kelak ia sendiri bisa menghidupi anak-anaknya.

__ADS_1


Malamnya mereka semua pun berkumpul di rumah dad Alex dan mom Tania.


"Aku senang akhirnya masalah kalian sudah selesai juga. Senyum Zoro begitu mengembang saat bersama papinya," ujar Felice yang duduk di samping Lucy. Sementara Lucy hanya tersenyum tipis.


"Apalagi yang kamu pikirkan Lucy?" tanya Mia yang sedang bersama mereka.


Para wanita memang sedang duduk bersantai dan para pria sedang bermain bersama putra Mia dan Lucy.


"Tidak apa-apa Kak, aku hanya memikirkan ayah mertua. Bagaimanapun dia hanya memiliki Daren, kalau kami pergi bagaimana dengan nya. Tapi kalau kami disini juga aku rasa beliau tidak akan senang."


"Tidak perlu cemas, ada kami yang akan mengawasi paman. Daniel juga setiap hari bertemu paman, di rumahnya juga banyak pelayan. Dia sendiri yang memilih agar kalian menjauh. Aku rasa ini akan baik, mungkin saja nanti dia sadar dan meminta kalian kembali kesini." Mia paham dengan situasi Lucy.


"Benar kata kak Mia, biarkan paman merasakan kesepian dan menyesali keputusannya." Lucy berpendapat.

__ADS_1


Meski Lucy sendiri tidak yakin, selama setahun ini saja ayah mertuanya sama sekali tidak merasa menyesal. Malah semakin membencinya dan sekarang anak yang ada dikandungnya pun ikut jadi korban kebenciannya.


__ADS_2