
Calvin begitu telaten mengobati luka Felice. Dia membantu mengoleskan salep pada punggung telapak tangan gadis itu dengan begitu lembut dan hati-hati.
"Sssttt..." Felice sedikit meringis menahan sakit.
"Apakah sakit?" tanya Calvin khawatir, lalu dia meniupi luka itu. Dia tau kalau rasanya pasti panas sekali, kulitnya sampai memerah seperti itu tapi gadis itu benar-benar keras kepala, dia tidak mau ke rumah sakit.
Felice terdiam saat kulit tangannya merasakan tiupan nafas Calvin, rasanya aneh dan tiba-tiba saja jantungnya berdetak cepat.
"Sepertinya luka nya cukup parah, kita harus ke rumah sakit untuk memeriksanya." Masih menggenggam tangan yang terasa sangat lembut itu.
"Tidak perlu tuan, sepertinya sudah cukup diobati itu saja." Ya hanya tersiram air panas sedikit tidak perlu sampai ke rumah sakit kan pikirnya.
"Bagaimana kalau lukanya membekas," ujar Calvin.
"Benarkah bisa membekas? Sepertinya tidak sampai separah itu." Felice menarik tangannya dan melihat lukanya sudah tidak sepanas tadi. "Kalau begitu biar aku buatkan kopi yang baru untuk tuan," ujar Felice, baru juga mau berdiri Calvin kembali menarik tangannya hingga tetap terduduk.
"Tidak usah pergi kemana-mana, diamlah disini saja," titah Calvin.
"Tapi bagaimana dengan kopinya?"
"Ada Sam yang akan membuatnya, apa kau mau minum? Biar sekalian minta Sam buatkan." Mia menggeleng, walaupun dia haus tapi bagaimana dia bisa menyuruh seniornya untuk membuatkan minum.
Calvin mengusap kepala Felice sebelum keluar dari ruangan, "Tetap disini, tidak usah mengerjakan pekerjaanmu," ujarnya.
__ADS_1
Felice tertegun dan menyentuh kepalanya yang bekas disentuh oleh bosnya tadi. Aneh sekali, kenapa dengan jantungnya yang terasa loncat-loncat. 'Ya ampun, kenapa rasanya aku berdebar-debar seperti ini.' Felice memegangi da-danya sendiri.
...
Sementara itu diluar, Calvin sedang mencari-cari keberadaan Sam yang ternyata tidak ada di ruangannya. Sepertinya pria itu sudah bisa menebak kalau dirinya mau datang untuk memberi perhitungan.
"Dimana Sam?" tanya Calvin pada karyawan yang lain.
"Tidak tau tuan, kami tidak melihatnya," jawaban mereka hampir sama. Sepertinya pria itu benar-benar bersembunyi dengan baik.
Calvin menggertakkan rahangnya, Awas saja kalau ketemu!
Setelah mencari kemana-mana tapi sama sekali tidak menemukan Sam, Calvin kembali ke ruangannya setelah minta OB untuk membuatkan minuman untuknya dan Felice.
Ternyata, Sam barusan bersembunyi disebuah ruangan yang tidak terpakai. Seperti gudang atau ruang penyimpanan berkas yang sudah tidak di gunakan. Banyak debu, sarang laba-laba, kecoa dan tikus berseliweran di dekat kakinya. Untung saja dia bukan seorang gadis yang takut pada hewan-hewan seperti itu. Kalau tidak pasti sudah menjerit sejak tadi.
"Tikus sialan! Minggir kalian!" Sam menendang-nendang tikus-tikus itu yang coba mendekatinya.
Tapi Sam lebih baik menghadapi para koloni tikus itu dari pada menghadapi kemarahan Calvin. Biasanya pria itu akan mengajaknya berduel di atas ring, dan menghajarnya habis-habisan. Sam pandai berkelahi tapi kalau menghadapi Calvin bisa membuatnya kewalahan.
Sam pun mengintip dari celah pintu, apa pria itu masih di sana atau tidak.
Sepertinya aku selamat kali ini.
__ADS_1
,,,
Di ruangan, Calvin tidak mengijinkan Felice kembali bekerja. Pria itu menyuruh Felice duduk saja sambil membaca buku katanya. Bosan sekali, saat ini saja dia sudah beberapa kali menguap. Diliriknya sang atasan yang tengah sibuk.
Hoaamm... Menguap lagi, matanya juga terasa sangat berat dan ingin sekali terpejam.
Beberapa saat kemudian. Calvin baru saja menyelesaikan pekerjaannya, dia sengaja mempercepatnya agar bisa mengantarkan Felice pulang. "Akhirnya selesai juga," gumamnya.
Calvin melihat Felice tertidur di sofa, sambil mendekap buku yang tadi ia baca. "Sepertinya dia kelelahan."
Pria itu pun melepaskan jas yang ia pakai, lalu ia gunakan untuk menyelimuti tubuh Felice agar tidak kedinginan. Diambilnya buku yang masih di dekap, kemudian ia taruh di meja. Calvin pun memandangi wajah gadis yang tertidur dengan begitu damai itu, tatapannya terfokus pada lingkaran hitam disekitar matanya. Gadis itu pasti masih suka menangisi mendiang ayahnya. Tatapan matanya berpindah pada tangan Felice yang tadi terluka, masih memerah sepertinya.
Segera Calvin mengambil salep luka bakar yang tadi dipakaikan pada tangan Felice, dia pun berjongkok didekat sofa. Perlahan dia mengambil tangan gadis itu agar dia tidak terbangun. Calvin pun mulai mengoleskan salep itu lagi.
"Emm..." Felice menggeliat saat tangannya terasa perih, tapi matanya sangat terasa lengket untuk membuka mata.
Sepertinya sakit, aku akan lebih pelan lagi. Gumamnya dalam hati sambil meniup-niup luka di tangan Felice.
"Sayang sekali kalau sampai berbekas, aku pastikan Sam mendapatkan hukumannya kalau sampai luka ini meninggalkan bekas di tanganmu." Setelah selesai, Calvin kembali melanjutkan pekerjaannya sambil menunggu Felice terbangun.
Hingga satu jam kemudian. Felice baru bergerak menggeliat dan meregangkan tubuhnya yang terasa sakit karena tidur di tempat yang sempit. "Eugghh... nyenyak sekali tidurku." Tanpa sadar dia duduk dan mengangkat tangannya ke atas.
"Sudah bangun?" Suara bhariton milik pria mengagetkan Felice yang nyawanya belum terkumpul sepenuhnya. Ehh kenapa ada suara pria, seketika ia membuka matanya dan tersentak saat melihat dirinya ada di mana saat ini. Dia ingat tadi dia masih di kantor, sedang membaca buku lalu sepertinya dia tidak sengaja tertidur di sofa.
__ADS_1
Ya ampun Felice, kau ceroboh sekali. Bagaimana kau tidur di ruangan yang sama dengan seorang pria, untung saja tidak terjadi sesuatu. Gumam Felice setelah memastikan kalau pakaian yang ia kenakan masih lengkap dan tidak ada rasa sakit di bagian intinya.